geminifj6

Gemini Yang Tersesat Waktu

geminifj6

Seiris bulan tergantung di langit ujung sebelah kanan jendela balkon. Seperti sepotong semangka pucat yang agak terlalu kecil dari penjual yang kikir. Beberapa kerdip bintang tercecer tak berpola di sekitarnya, layaknya remah-remah roti yang ditumpahkan kanak-kanak. Bagi sebagian orang, mestinya dini hari ini indah. Namun aku memandanginya dengan air muka hampa. Tak tahu mesti merasa apa. Kunaikkan lilitan selimut putih hotel di pingggangku, satu-satunya kain yang membebatku. Masih bisa kurasakan bau kulitnya di tubuhku. Kutoleh ia yang tertidur di pembaringan. Seandainya kau istriku.

Ya, kau bukan istriku. Kau bukan wanita yang kunikahi saat petani anggur di Perancis sibuk menuai kebunnya tujuh tahun lalu. Kau bukan wanita yang meriangkan hariku dengan souffle andalannya. Bahkan kau sama sekali tak mirip dia. Rambutmu yang hitam legam tampak terlalu kuat dibanding pirang pucat yang dimilikinya. Matamu tajam dan berkesan memerangkap semua yang kau lihat, sedangkan matanya biru jernih yang selalu mengingatkanku akan telaga indah yang tak kau tahu namanya namun nyata terabadikan di gambar kalender. Istriku berkulit cerah, tinggi dengan kaki jenjang. Kau lebih mungil, berkulit lebih cokelat susu dengan lekuk tubuh yang membuatku selalu ingin merengkuhmu. Suara istriku selalu bersemangat setiap kali ia berbicara atau tertawa, sedangkan nasib telah mencuri tiga perempat suaramu bersama dengan pendengaranmu. Kau sahabat istriku.

”Michael, kenalkan teman akrabku yang baru, Desdemona,” begitu ucap istriku ketika pertama kali aku bertemu denganmu. Kau dengan tangkas mengelapkan tanganmu yang kotor oleh saos tomat dari spaghetti yang tengah kalian buat, sebelum mengulurkannya padaku. ”Hai,” sapaku. Kau membalas dengan sebaris kalimat yang bagiku adalah sekumpulan suara tak penuh bermakna. ”Oh, maaf,” kataku tanpa sengaja ketika aku menyadari kau tak bisa berkata-kata seperti orang-orang lain. Lalu kau membuat isyarat-isyarat tangan.

”Dia bilang tidak apa-apa, dan panggil saja dia Mona,” kata istriku menjelaskan. Aku tersenyum sopan dan mengangguk.

Aku menyadari dua hal baru pada malam empat tahun lalu itu: istriku ternyata mengerti bahasa isyarat dan aku sejenak terperangkap mata hitammu.

Kau dan istriku teman di kelompok diskusi buku. Tidaklah heran, istriku gila sastra dan ia butuh bergabung dengan kelompok itu karena bersuamikan orang yang lebih tertarik membahas marketing dan harga properti. Sesama penggemar W.H. Auden, kau dan istriku langsung akrab sejak bertemu. Terkadang istriku pulang dari pertemuan diskusi dan bercerita tentang opini-opini brilianmu. Tak lama berselang, istriku sudah sering pergi berbelanja atau ngopi denganmu. Istriku yang sesekali menulis untuk koran lokal dan kau yang mempunyai toko kecil menjual barang antik tak terlalu susah menyesuaikan waktu luang. Sering kau bertamu ke rumah, mencoba resep baru atau sekadar berbincang dengan istriku. Pendeknya, kau teman baik istriku dengan serangkaian kesukaan yang sama. Hanya sebatas itu yang kutahu akanmu saat itu, meskipun aku telah terbiasa dengan keberadaanmu di rumah kami.

Namun, dua tahun lalu segalanya berubah. Kali ini sesuatu menyatukan kau dan aku. Ke­matian istriku. Segalanya terjadi begitu cepat. Tak ada kata-kata perpisahan. Aku bahkan masih berkata padanya, ”Sampai jumpa nanti malam,” tanpa menyangka perjumpaan itu akan diawali dengan telepon petugas polisi, melaporkan bahwa istriku menjadi korban penodongan. Mereka sedang mencoba menyelamatkannya dari luka belati di perutnya, dan ia memintaku segera menuju rumah sakit tempat ambulans membawanya. Tapi mereka terlambat, istriku sudah kehilangan banyak darah.

Aku kehilangan dia. Kurasa kau pun sama, sebab matamu sarat duka dan bibir kita tersenyum sia-sia. Kau dan aku adalah dua untai jaring laba-laba yang robek, melambai lemah di tengah angin, kehilangan simpul yang mengikatnya. Dan, tanpa simpul itu, kau dan aku tak lagi berhubungan. Mungkin itu hal yang wajar, atau mungkin tidak, aku tak terlalu memikirkannya dalam sedihku yang masih belum usai. Ataukah mungkin bila kau dan aku bertemu itu hanya akan membawa kembali kenangan-kenangan atasnya. Mungkin itu, sebab nyatanya kita tak lagi bertemu atau berusaha bertemu meskipun kota yang tak terlalu besar ini tidaklah susah untuk diatasi.

Entah apa yang kita berdua lakukan dalam kurun yang hampa itu, namun selayaknya semua hal, rentang waktu itu berkesudahan setelah hampir dua tahun. Bukan di tempat-tempat kecil nan remeh kita berjumpa lagi, tapi di toko antikmu. Bukan pula aku yang sengaja menemuimu, tapi kantorku yang mengutusku menangani berkasmu. Kau hendak menjual tokomu. Dengan kening sedikit berkerut aku mendatangimu. Kalau tak salah ingat, istriku selalu berkata bagaimana kau mencintai toko antikmu.

Kau menyambutku dengan senyum yang jauh, yang disuguhkan kepada kenalan belaka. Agak kikuk, dan tak siap aku membalasnya.

”Benarkah kau ingin menjual toko ini, Mona?” tanyaku langsung, menatap mukamu hingga kau bisa membaca gerak bibirku.

Tanganmu mengambil kertas dan bolpen, menuliskan: ”Tak apa. Sudah saatnya saja, mungkin. Harus terus bergerak.” Kau memberiku senyum yang jauh sekali lagi.

”Ohh….” Hanya itu yang mampu dibuat suaraku. Setelah mendehemkan sesuatu yang mengganjal tenggorokanku, aku berkata lagi, ”Baiklah. Sebaiknya aku mulai bekerja menaksir segalanya.” Dan kita berdua kembali tersenyum jauh.

”Akan kuproses dulu semuanya. Ketika semuanya siap, aku akan langsung memberimu kabar. Kalau kita beruntung, lain kali aku akan datang bersama pembeli potensial,” ucapku bersiap mengakhiri kunjungan. Namun tiga langkah dari pintu, kurasakan tanganmu mencegahku. Dengan satu tangan diangkat kau bergumam. Aku menerjemahkannya sebagai, ”Tunggu sebentar.”

Kau menghilang sejenak ke balik rak di sebelah belakang toko. Sekembalinya, tanganmu menggenggam sebuah bola kaca dengan sebuah miniatur rumah gaya Victoria berwarna putih tulang dengan atap cokelat tanah di dalamnya. Serpih-serpih salju palsu di dalam bola melayang-layang turun terkena ayunan tanganmu, berserakan di hijau halamannya yang tampak sedikit berlebihan. Kau menaruhnya di tanganku dan cepat menulis: ”Untukmu. Lindsay sudah lama ingin memberikannya sebagai kejutan.”

Kupandangi benda dalam genggamanku. Rumah gaya Victoria ini mungkin tipe rumah yang paling sering kusebut pada istriku. Kadang aku bisa berlama-lama menjelaskan kegemaranku atas model itu, atas pilar-pilar ramping penyangga atap beranda serta sebuah bagian mirip menara berbentuk tabung di salah satu sudut bagian atasnya, seakan-akan tempat seorang putri menunggu pangerannya. Dan, seperti biasa, istriku hanya tersenyum tanpa terlalu menanggapi. Tetapi ternyata dia paham. Dia ingat.

Dan hanya dengan begitu, hatiku yang kukira telah baik-baik saja kembali luruh tak tertopang. Bagai kanak-kanak rapuh aku merasakan bahuku terguncang, kian lama kian keras, tanpa sanggup berbuat apa pun untuk tegar. Entah seberapa menyedihkannya diriku saat itu hingga kau mendekat dan memelukku. Dan mungkin aku terlalu menyedihkan, hingga akhirnya kau turut menemani isakku.

Tangis dua orang yang sama-sama mengerti ternyata membebaskan. Hari itu kita akhiri dengan dua cangkir berisi sisa teh cammomile hangat, sebuah piring kecil dengan ceceran remah biskuit, dan seonggok tisu yang telah menyerap air mata kita. Kita bicara tentang kenangan-kenangan, serangkaian rekaman ingatan atas hal-hal atau mungkin juga tipuan otak belaka. Dan kita membiarkan diri kita ditipu sepenuh-penuhnya hari itu.

Dengan menyeret koper masa lalu kau dan aku semakin sering bertemu. Tak selalu lama, kadang kita juga hanya mengobrol setengah jam. Itu sudah cukup untuk mengenang Lindsay bersamamu, tertawa, dan kadang masih menangis. Kadang kau masih harus menuliskan apa yang kau katakan di kertas tetapi aku telah mulai bisa mengartikan isyarat-isyarat tanganmu.

Suatu kali saat minum kopi di taman, ketika aku berusaha mengusir lalat yang terbang seenaknya di dekatmu, tanpa sadar hidungku menangkap bau yang begitu akrab denganku.

”Parfummu sama dengan yang dipakai Lindsay,” kataku setengah bertanya.

Kau tersenyum. Parfumku, katamu, Lindsay pernah mencobanya dan dia bilang kau menyukainya.

Aku ikut tersenyum, teringat malam saat aku mendekap istriku yang baru pulang dan mendapatinya memakai parfum yang tak kutahu sebelumnya. Aku tak keberatan, sebab ternyata parfum itu cocok dengan aroma tubuhnya.

”Kalau kau tak keberatan,” ucapku lalu mencondongkan tubuhku ke arah lehernya untuk sekali lagi menghirup bau yang sempat terlupa olehku.

Mungkin saat itu titik balik dari semuanya. Aku merasa tak lagi bersamamu, Desdemona yang sahabat mendiang istriku. Tetapi aku me­rasa tengah berada bersama Lindsay sendiri. Kian lama kuperhatikan, kalian berdua kian mirip. Aku menemukan Lindsay di sela-sela sekian banyak hal kecil yang kau lakukan: caramu mengangkat gelas, melambai kepada pelayan restoran, membenahi poni rambut yang jatuh menutupi pandanganmu, hingga caramu berjinjit menghindari genangan air. Aku tak pernah mengatakan ini kepadamu, tetapi sejak hari itu, aku kembali merasa sebagai seorang suami yang menghabiskan waktunya dengan sang istri. Wajahmu telah berganti, di mataku, semua keberadaanmu menjelma Lindsay. Di mataku, kalian berubah gemini yang tersesat waktu.

Aku tak tahu apa yang bermain-main di benakmu ketika aku mulai sering mengajakmu makan malam di ujung minggu, di restoran-restoran yang cukup berkelas dan romantis. Pada awalnya aku masih berkilah untuk merayakan bonus yang kudapat dari kantor atau ini dan itu, tetapi setelah beberapa kali, aku tak lagi perlu memberimu alasan apa-apa. Kuharap, dan begitu tampaknya yang kutangkap, kau juga menikmatinya. Meskipun kau tak pernah tahu bahwa aku tak pernah benar-benar makan malam denganmu, tetapi dengan Lindsay yang ada dalam dirimu.

Lalu saat yang menyulitkan itu datanglah. Aku merindu bercinta dengan istriku. Malam telah cukup larut dan perbincangan kita telah sarat bau anggur. Aku benar-benar ingin mencium Lindsay, maka perlahan kuletakkan lenganku melingkari pinggangmu, mencoba mencari tahu reaksimu. Kau tak keberatan, dan balik menatapku dengan pandangan yang tak pernah kudapati sebelumnya. Salahkan saja semuanya pada anggur atau malam sunyi, yang pasti kita bercumbu hingga mentari menyapukan pemerah pipi di wajah langit.

Kita telah melakukannya sekian kali, di tempatmu, tempatku, atau di hotel. Dan semakin lama kita semakin tak memerlukan rona malu atau basa-basi. Kita tak lagi berbicara tentang Lindsay. Bagiku hal itu jelas, untuk apa membicarakannya bila aku merasa senantiasa bersama dengannya? Entah bagimu. Satu hal lagi yang tak kumengerti, kau tak pernah mempertanyakan ke mana arah hubungan ini. Seakan-akan kita telah lama melakukan ini sehingga apa-apa telah sedemikian rupa dan tak perlu dibicarakan lagi. Tetapi aku tak membiarkan pikiran itu mengganggu kebersamaan ini. Biar saja bila kau tak ambil pusing. Mungkin malah lebih baik.

Gerakanmu di tempat tidur mengusik perhatianku. Gelap langit di luar beranda hotel telah sedikit luntur memucat, memberi ruang bagi benih pagi untuk menggeliat. Kau tak biasa bangun pada jam-jam ini. Setelah sedetik ragu, akhirnya aku berjalan mendekati sisi pembaringanmu.

Aku memandangi wajahmu. Kau memang Desdemona, sahabat istriku. Tetapi seperti biasa, setelah sekian detik berlalu, perlahan paras wajahmu berganti, dan aku kembali menemukan Lindsay. Istriku yang cantik, biarkan aku menciummu.

Bibirmu merespons bibirku. Matamu masih memejam, tidur, namun lidahmu tidak. Bagai pemantik kau menyalakan gairahku. Denyar jantung berlomba memompa darah ke seluruh tubuhku. Dingin subuh hari seakan alpa dari permukaan kulitku. Tanganku bergerak menelusuri peta tubuhmu.

Mendadak aku bergeming. Hening dan beku menjalari pembuluhku. Seakan ingin memastikan, kudekatkan telingaku ke bibirmu. Agak tak jelas di tengah erangmu dan tak sempurnanya kata-katamu, namun aku telah cukup tahu untuk yakin mendengarmu berkata: Lind…cium aku…aku rindu…

Muncul di mataku gemini yang tersesat wak­tu: kau dan Lindsay berbaring berhadapan, can­tik dengan tatapan intim yang penuh. Mungkin langit di luar telah sepucat wajahku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s