audrey

Teresa

audrey

Dunia terasa runtuh di benakku. Impianku bersamanya tidak dapat kuwujudkan sebagaimana mestinya. Bentuk-bentuk ornamen indah menjadi remuk seketika. Aku terpukau dan menjadi diam seribu bahasa mendengarkan setiap kata-kata terakhir yang diucapkan.

“Aku minta putus.”

Hanya tiga kata itu yang terdengar sangat jelas di telingaku.

Ia meninggalkanku bersama dengan dua cangkir kopi yang sudah dingin dan sama sekali tak tersentuh. Aku menatap cangkir kopi di depanku. Mengaduknya dan memasukkan lebih banyak gula-gula batu. Berharap akan memaniskan suasana hati yang sudah mati. Aku memegang cangkir itu dengan kedua tanganku. Cangkir porselen itu terasa sangat dingin menusuk di tangannya. Aku menatap kedalam gelapnya hitam kopi dan tanpa terasa airmata mengalir perlahan jatuh membasahi pipi.

Sudah begini susah untuk menyeimbangkan akal sehat dengan perasaanku yang tidak karuan. Besok aku akan menghadapi Ujian Tengah Semester. Aku benar-benar harus memfokuskan diriku sepenuhnya pada catatan-catatan yang terasa makin menamparku. Makin menyakitiku. Aku tak bisa berkonsentrasi! Aku seperti mayat hidup. Makan tapi tidak makan, mandi tapi tidak mandi, tidur tapi tidak tidur, begitu seterusnya. Aku semakin tersiksa, terbelenggu antara ada dan tiada.

Aku membuka situs web yang sangat terkenal di ponsel dan berharap ia sudah menghapusku pada kolom temannya. Ternyata tidak! Ia malah mengirimkan wall kepadaku. Mengatakan bahwa kami masih bisa berteman dan akan selalu bahkan harus menjadi sahabat. Sekali lagi aku terpukau dan diam seribu bahasa membaca ketikan-ketikannya. Aku tak kuasa membacanya dan langsung menghapusnya. Berharap aku bisa menghapuskan perasaanku padanya. Menerima segalanya dengan lapang dada.

Tapi aku tak bisa!

Aku menangis meraung-raung. Mengumpat dan melemparkan semua barang yang bisa aku lempar. Aku seperti orang gila. Mencintai dia sepenuh jiwa dan raga. Seperti orang bodoh yang sedang mengalami depresi karena sudah tidak ada lagi yang bisa menyayangi seperti dirinya. Aku tidak tahu apa yang telah kuperbuat. Seperti ada seseorang yang penuh amarah mengumpat, menangis hingga memporak-porandakan isi kamarku sendiri.

Itu bukan aku…

Bukan aku yang memiliki amarah itu. Bukan seperti aku yang biasanya. Bukan aku yang selalu merenung dan melamun. Bukan aku yang sukses mengarang bebas pada semua jawaban-jawaban ujian. Bukan aku yang memakan nasi beserta lauk pauk. Bukan aku yang tertidur disini. Itu benar bukan diriku yang sebenarnya.

Aku terlihat kuat namun ternyata rapuh didalam. Aku tertawa penuh dengan topeng-topeng yang siap kupertunjukkan pada keluarga dan teman-temanku. Aku sedih tapi pura-pura merasa senang. Dan mensyukuri semua yang sudah terjadi padahal dalam hati aku bertanya-tanya pada-Nya dan meminta keadilan bagi diriku seadil-adilnya.

Belum sempat aku bernapas bebas, anjing kesayanganku mati keracunan. Anjingku yang aku pelihara semenjak dia masih tidak bisa membuka matanya. Anjingku yang berkatku ia bisa merasakan indahnya dunia. Oh Tuhan! Aku menangis lagi kali ini lebih keras. Ingin rasanya berteriak dan langsung meminta jawaban mengapa aku harus ditinggalkan oleh semua yang aku sayangi! Menatap sekaratnya anjingku dengan penuh air mata. Aku meminta maaf berkali-kali, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku makin merasa diriku seperti onggokan sampah yang bau dan sudah mulai dikerubungi lalat dan belatung. Benar-benar tidak berguna.

Aku membuka situs web itu lagi dan mengetik tentang kesedihanku yang mendalam ditinggalkan anjing dan kekasihku. Manusia yang mengaku diri mereka adalah teman-temanku sama sekali tidak memberikan komentar. Manusia cenderung menyukai kabar berita baik dibandingkan buruk. Mereka menganggap tidaklah penting semua kesedihan itu. Aku menganggap dua kejadian itu sebagai peristiwa yang sangat menyedihkan dan seharusnya menyentuh hati manusia-manusia itu. Ternyata memang tidak dan aku kembali sendiri. Aku menangis meraung-raung lagi. Aku berteriak sekencang-kencangnya dan melemparkan benda-benda lagi.

Aku bersumpah itu bukan aku!!!

Dunia masih runtuh di benakku.

Aku merasa makin gila ketika divonis bahwa harus diadakan operasi besar untuk pengambilan gigi geraham sebelah kiriku. Mantanku yang seminggu sudah mengakhiri hubungannya denganku dan sekarang sudah memiliki kekasih lain pernah berjanji akan mengantarkan bahkan mau menemani saat-saat operasiku. Aku membayangkan itu dan menangisi itu sekaligus merasakan betapa ngilunya pemotongan gigi yang menggunakan gergaji mesin. Aku belum memiliki pengganti sedangkan ia sudah. Itu menguak kembali sakit hatiku. Membenci kecengenganku. Membenci semua yang sudah terjadi pada diriku. Aku orang depresi berat sebenarnya dan masih bisa tersenyum karena itu.

Aku kembali sakit. Keadaanku terpuruk. Raga ini tidak bisa membohongi. Badanku semakin kurus. Aku dirawat di rumah sakit. Dengan penuh kekejaman tapi menolong, para suster memeriksaku. Memasangkan infus di pergelangan tanganku. Mengambil darah berkali-kali. Menyuntikkan obat berkali-kali. Dan mengatasi darah yang keluar dari pecahan pembuluh darah di gusi. Mereka membekukan darah itu. Tidak ada transfusi darah padahal aku mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Dokter mengatakan ringan, tidak berbahaya karena hasil rontgen dan darah tidak ada kelainan. Besok aku dinyatakan bisa pulang.

Dunia masih saja runtuh di benakku. Tidak berubah.

Aku tidak mau terlihat rapuh. Aku selalu tertawa walaupun lelucon-lelucon itu tidaklah terlalu lucu. Aku selalu ingin membuat dunia yang menurutku sudah runtuh ini dengan lelucon-lelucon konyolku. Aku selalu ingin semua yang ada di sampingku tertawa tanpa memedulikan kepedihan hatiku yang makin memuncak dan tidak terbendung. Aku makin merasa tidak mengenali diriku yang sebenarnya. Aku merasa bahwa aku menjadi sangat aneh dan tidak biasa. Apakah aku sampai terpuruk seperti ini??? Hanya karena seorang pria????

Jangan disesali semua, malah lo yang harusnya berbangga hati, suatu saat dia merasakan apa yang udah lo rasain nantinya. Udah waktunya lo untuk be struggle, jangan pernah menyesalkan apa yang sudah terjadi. Percaya diri sendiri kalau lo bisa berdiri tanpa ada yang membayangi.

Sender : Teman
+6287870211***
Received:
10:11:05pm
25-05-2009

Aku terpukau. Kali ini bukan karena ingin menangis, tapi karena ketikan-ketikan sms ini membuatku bangkit. Teman itu ada untukku pada akhirnya. Air mata ini mengalir membahasi kedua pipiku. Aku tersenyum kecil sambil tidak melepaskan pandangannya pada isi sms itu. Kalimat sederhana dari seorang teman itu mampu membuat berangsur-angsur mengenali diriku sendiri. Perlahan tapi pasti memperbaiki hatiku yang tadinya sudah hancur berantakan menjadi kembali seperti semula. Hati dan ragaku bisa tersenyum selebar-lebarnya. Nafsu makanku pun kembali seperti sedia kala, meskipun tidak menggemukkan badanku yang memang sudah memiliki bakat kurus dari almarhumah Ibu. Tapi aku sudah merasa diriku yang sebenarnya.

Dunia terlihat membaik. Langit berwarna biru cerah dan awan putih cemerlang menari-nari indah. Pohon-pohon menghijau kembali. Terlihat indah sekali.

Kehidupan membaik sama dengan pandanganku terhadap dunia ini. Aku meraih kembali cita-citaku. Aku menulis, mengetik, melukiskan sebanyak-banyaknya kata demi membuahkan tulisan yang ekspresif. Aku terus menuangkannya tanpa lelah. Tangan terus menerus mengetik di netbook sambil mendengarkan lagu-lagu dari i-pod-ku. Aku merasa inilah diriku!!! Kau tidak pernah meninggalkanku sendirian…

Semua pasti ada jalan bagi masalah yang berat sekalipun…

Thanks, God….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s