Tujuh Macam Cakra Manusia

220px-aang_official

Saya terinspirasi menulis artikel ini dari film kartun Avatar: The Legend of Aang. Film ini sudah sangat populer di Indonesia. Sejak Global TV menyiarkannya tiap pagi dan sore, ternyata tidak sedikit yang menyukai film ini. Bahkan mentor filsafat sekaligus guru komputer saya saat SMA senang menonton film ini dengan rasa antusiasme tinggi. Dan pada saat tertentu kami banyak membicarakannya.

Pertama kali pertemuan saya dengan film ini, yakni ketika saya menonton episode pertama (The Boy in the Iceberg), tidak ada kesan khusus yang saya rasakan. Yang saya rasakan saat itu sama seperti ketika saya menonton film kartun yang lain. Namun, ketika saya mengikuti episode-episode sesudahnya, saya mulai menyadari bahwa film ini bukan film asal-asalan (seperti kebanyakan film kartun serial yang saya temui), tapi merupakan sebuah film yang digarap secara serius dan disisipi wawasan yang padat.

Untuk menyebut salah satu indikator keseriusan film ini, konsep empat elemen kekuatan bukanlah konsep yang asal-asalan. Dalam studi filsafat Yunani, kita akan menemukan empat elemen ini dengan sangat mudah sekali. Begitu juga dalam Budhisme, empat elemen ini adalah satu-kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini dijelaskan dalam episode 29, Bitter Work, ketika Iroh menjelaskan teknik pengendalian apinya kepada keponakannya, Zuko: “The Fire Nation symbolizes power and desire, the Earth Kingdom symbolizes endurance and diversity, the Air Nomads symbolize freedom from worldly concerns, and the Water Tribes symbolize love and community, especially in the face of change.” Iroh menjelaskan sambil menggambar simbol masing-masing negara. Selanjutnya, dia meneruskan, seseorang bisa mendapatkan kebijaksanaan dengan memahami tiap-tiap elemen. Jika kebijaksanaan disimpulkan hanya dari satu tempat, ia akan jadi kaku dan pengap. Kombinasi dari keempat elemen dalam seseoranglah yang membuat Avatar begitu kuat, dan kombinasi itu bisa pula membuat seseorang menjadi kuat.

Contoh lain yang bisa disebutkan di sini adalah ketika Aang menemui Guru Pathik agar bisa mengajarinya menguasai Keadaan Avatar (Avatar State) pada episode 39, The Guru. Sang Guru mengatakan bahwa Aang harus menyeimbangkan dirinya sendiri dulu sebelum menyeimbangkan dunia. Untuk menguasai Keadaan Avatar, Aang harus membuka Cakra yang ada dalam tubuhnya. Tapi apa itu cakra? Dengan sangat apik sang Guru mencontohkannya dengan kolam yang tersumbat ganggang. Dengan menyingkirkan ganggang penyumbat, air di dalam kolam akan mengalir, seperti halnya energi dalam tubuh bisa mengalir jika ketujuh cakra di dalam tubuh dibuka.

Demikianlah, di episode ini Aang belajar membuka cakra dalam tubuhnya. Ada tujuh cakra dalam tubuh kita. Pertama, Cakra Bumi, terdapat di tulang belakang. Ia berkaitan dengan kebutuhan untuk bertahan hidup, dan dihalangi oleh rasa takut.

Kedua, Cakra Air, berkaitan dengan rasa bahagia, dan dihalangi oleh rasa bersalah. Sang Guru berkata bahwa Aang harus menerima apa yang telah terjadi dan agar jangan mempengaruhi penilaiannya sendiri.

Ketiga, Cakra Api, terdapat di dalam perut. Cakra ini berkaitan dengan kehendak-berkuasa (Will power) dan tersumbat oleh rasa malu.

Keempat, Cakra Udara. Terdapat di dalam hati, berkaitan dengan rasa cinta, dan dihalangi oleh duka cita. Sang Guru berkata bahwa cinta adalah sebentuk energi dan mengalir ke semua hal.

Kelima, Cakra Suara, terdapat di dalam kerongkongan. Ia berkaitan dengan kebenaran, dan dihalangi oleh dusta terhadap diri sendiri. Guru Pathik berkata bahwa semua orang harus menerima siapa dirinya, sungguhpun dia tidak pernah menginginkannya.

Keenam, Cakra Cahaya, bertempat di dahi, berkaitan dengan persoalan pemahaman, dan disumbat oleh ilusi-ilusi. Ilusi terbesar, kata Guru Pathik, adalah ilusi keterpisahan: segala sesuatu tampaknya terpisah-pisah, tapi kenyataannya adalah satu dan sama.

Terakhir, Cakra Pikiran, terdapat di ubun-ubun (crown of the head), berkaitan dengan energi kosmik, dan dihalangi oleh cinta duniawi. Sang Guru menyatakan bahwa jika Aang ingin energi kosmik murni kembali masuk kepadanya, dia harus menyingkirkan semua cinta duniawi, termasuk Katara. Persyaratan ini membuat Aang akhirnya memutuskan untuk tidak mendapatkan kekuatan mengendalikan Keadaan Avatarnya, dan pergi menyelamatkan Katara yang berada dalam bahaya.

Kalau mau disebutkan semua, tentu akan banyak sekali bukti keseriusan penggarapan film ini. Di tiap episode, saya pasti mendapatkan kata-kata bijak yang diucapkan oleh salah satu tokoh. Belum lagi kebijaksanaan yang dikemas dalam lelucon, plot, atau lain-lain.

Inti yang saya tangkap dari kisah Avatar ini adalah bagaimana seorang Aang, sungguhpun ia adalah sang Avatar, toh dia juga tetap saja manusia yang punya kelemahan dan kekurangan (apalagi dia juga masih anak-anak). Statusnya sebagai Avatar memang selalu menghantuinya sejak awal kisah karena baginya Avatar adalah status dengan tanggung jawab yang besar. Mestinya, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi manusia normal selayaknya manusia pada umumnya. Kita kemudian dikasih tontonan bagaimana Aang merasa marah, kesal, jatuh cinta, bercanda tawa, sedih, takut, dan segala macam ekspresi emosional lainnya.

Puncak dari kisah Aang dan kawan-kawannya ini terdapat dalam 4 episode terakhir. Secara berurutan masing-masing berjudul: Sozin’s Comet Part 1, The Phoenix King; Sozin’s Comet Part 2, The Old Masters; Sozin’s Comet Part 3, Into the Inferno; Sozin’s Comet Part 4, Avatar Aang. Dari sini, hampir semua misteri yang sebelumnya masih menjadi tanda tanya di benak kita tersingkap. Kita dikasih tahu bagaimana kerajaan Omashu direbut kembali oleh Bumi dari kekuasaan Kerajaan Api; bagaimana pertemuan Zuko dengan pamannya, Iroh, setelah dia mengkhianati dan memenjarakan sang paman; kenapa Iroh sangat menyukai buah catur bergambar bunga tulip; bagaimana Kerajaan Bumi direbut kembali setelah sebelumnya sempat dikuasai Kerajaan Api; bagaimana nasib akhirnya Azula, si perempuan cantik tapi licik; dan terutama, bagaimana Ozai dikalahkan oleh Aang.

Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Aang bingung untuk memutuskan apakah dia harus membunuh Ozai (membunuh bukanlah karakter Aang) atau masih adakah cara lain untuk menyelamatkan dunia? Kebingungannya ini membuatnya bertengkar dengan kawan-kawannya. Sehingga, malamnya dia berjalan dalam keadaan tidur ke suatu pulau. Di tempat ini dia mendapat ide untuk bertanya pada empat Avatar pendahulunya: Avatar Roku, Avatar Kyoshi, Avatar Kuruk dan Avatar Yangchen. Namun keempatnya menjawab, demi menyelamatkan dunia Aang harus membunuh Ozai. Hingga titik ini, Aang sadar, dia tidak punya pilihan lain. Namun, sebelum keputusan itu benar-benar bulat, Aang sadar bahwa pulau yang dia tempati itu bergerak, dan akhirnya dia tahu bahwa pulau itu adalah punggung seekor Kura-kura Singa (Lion Turtle). Ditanyakannya kepada Kura-kura Singa bagaimana menghentikan Ozai tanpa harus membunuhnya, dan dijawab oleh Kura-kura Singa sambil menyentuh dahi dan dada Aang dengan dua jarinya: “The true mind can weather all lies and illusions without being lost. The true heart can touch the poison of hatred without being harmed. From beginningless time, darkness thrives in the void, but always yields to purifying light.” Kata ini sungguh bermakna padat dan kuat. Saya dapat rasakan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s