Tarot

Tarot

Five of Cups

Kau tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.

Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kau buka bakal menunjukkan hal yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan yang lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut, tentu dengan kalimat-kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di hadapannya, kedua matanya agak melotot.

“Bukan apa-apa, ya bukan apa-apa,” gumammu seakan menenangkan diri sendiri. Tentu kau membenci kartu-kartu buruk itu, terlebih karena dicomot oleh tangan seorang sahabat dekat. Ya, sahabat dekat. Tempatmu selama ini mengeluarkan berbagai keluh kesah, memuntahkan segala sampah. Pun sebaliknya.

Posisimu jadi tak mengenakkan, berkali-kali kau memperbaiki dudukmu di sofa. Apalagi ketika kau melihat keringat mulai memercik di keningnya. Ah, kau tak ingin menyakitinya. Kau tahu betul, Cipta mudah tersinggung. Lebih mudah tersinggung lagi akhir-akhir ini karena masalah keluarga yang menderanya. Dan kau pun mafhum jika hubungannya dengan kekasihnya sedang menghambar. Pacarnya di Bengkulu tak jadi datang dalam waktu dekat ini karena tak bisa meninggalkan pekerjaan.

Seharusnya kartunya bisa lebih baik, pikirmu cemas. Tapi kenapa harus kartu bergambar lima buah cawan itu yang keluar setelah gambar pendeta perempuan yang bermakna pengharapan? Padahal kartu High Priestess telah mengisyaratkan pintu masa depan yang lebar terbentang.

Kau tak bisa menemukan makna lain selain sebuah kehilangan. Meskipun makna kehilangan itu bisa begitu luas, bermacam-macam, tak selalu persis dengan yang sering dibayangkan. Misalnya hilangnya hubungan yang menghambar. Atau, kartu kematian bisa berarti berakhirnya kesedihan. Bukankah kartu ini juga memiliki sisi baik yang tersembunyi, sebab adanya kehilangan menunjukkan adanya perubahan atau pergantian? Mungkin kehilangannya akan tergantikan oleh sesuatu yang lebih baik, batinmu menghibur diri. Meskipun dari pengalamanmu, kau tahu kemungkinan itu agak dicari-cari.

Kini keringatmulah yang meleleh deras di dahi dan lehermu. Soal asmara sudah kau ungkapkan dengan susah payah. Sekarang kau menghadapi soal pekerjaannya yang tak kalah pelik. Dua buah kartu yang sama bergambar batang-batang pohon menjulang tinggi berwarna putih mengapit seseorang yang terkapar dengan sepuluh bilah pedang menancap di punggung bukanlah deretan kartu yang mudah untuk kau jelaskan padanya. Ah!

Kau memang baru belajar tarot beberapa bulan yang lalu. Tapi kata Mbak In, kau lumayan berbakat. Sejumlah teman dekat dan tetangga jadi kelinci percobaan, juga ibu mertua dan adik iparmu yang baru menyelesaikan kuliah di Semarang. Dan hasilnya cukup mencenggangkan untuk seorang pemula seperti kau. Semestinya kau senang, tapi apa pantas bersuka cita untuk kejadian-kejadian yang tak mengenakkan? Adik iparmu memang lulus wawancara kerja, tapi seorang tetangga yang kau ramal seminggu sebelumnya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Mbak S jatuh dari motor, kakinya patah dan harus digips. Belum lagi suami Mbak Erna yang kecopetan di pasar, dompetnya lenyap, juga surat-surat berharga. Apakah semua itu memang berhubungan dengan ramalanmu? Kau merasa tak nyaman. Kadangkala, seperti saat ini misalnya, kau merasa menyesal sudah belajar membaca tarot pada Mbak In, setelah suatu hari rekan kerjamu itu membawa kartu-kartunya ke studio dan meramal hampir semua orang saat istirahat siang. Tentu, termasuk dirimu.

Queen of Wands

Ya, semua orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.

Ah, apakah kau merasa nasibmu cukup bagus? Entahlah. Ramalan kartu-kartu itu atas dirimu sendiri tidaklah terlampau mencemaskan. Semua kartu menunjukkan rentetan hal-hal yang normal, cenderung tenang. Paling tidak untuk saat ini, pikirmu sambil memandang kartu-kartu yang berserakan di lantai kamar Lala. Di kaki tempat tidur mungil.

Ah, barangkali memang sudah seharusnya kau cukup bersyukur atas hidupmu saat ini. Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Ya, walau harus mengorbankan banyak hal. Dan kau sudah berusaha keras. Barangkali memang tak semuanya dapat kita raih secara bersamaan, kau mencoba menjadi arif.

Kau bertemu dengan Bagas pada pesta ulang tahun teman kuliahmu. Aneh? Tak ada yang aneh, meskipun sebelumnya kau selalu menganggap cinta hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan. Kau tak pernah bersungguh-sungguh. Ada banyak lelaki yang berlalu lalang dalam hidupmu. Tapi sampai saat itu, hanya Bagas yang mampu membuat jantungmu berdebar lebih kencang.

Semuanya berjalan begitu wajar. Sehingga rasanya memang tak ada yang perlu dikuatirkan. Sampai suatu hari kau mendengar kata “menikah” dari mulutnya. Ia baru menamatkan kuliah. Kau sendiri telah setengah tahun bekerja di sebuah kantor periklanan.

Mungkin bukan masalah pekerjaan yang menjadi soal. Mungkin bukan lantaran latar belakang ekonomi dan status sosial keluarga. Tapi masalah lain, yang terdengar bodoh tetapi begitu menyesatkan di negeri ini. Agama (mungkin bukan iman) yang selama ini sekadar ritual keseharian dalam keluarga besarmu, tiba-tiba mengombak di permukaan. Memanas di meja makan, seolah-olah akan terjadi perang suci. Shit!

“Kau tidak akan menikah dengan dia!” Papa menuding tepat di depan hidungmu. Terasa menyakitkan. Mama menyeretmu ke kamar, membujukmu dengan sejumlah nasihat. Mengemukakan sejumlah masalah yang terdengar masuk-akal.

Tak ada yang perlu didengar lagi. Kau tahu, intinya pasti sama. Kau harus menjauhi Bagas. Tidak ada pernikahan dengan kekasihmu. Hanya lewat ponsel kau bisa berhubungan dengan dunia luar. Dengan Bagas, dengan teman-teman yang lain.

“Jangan sampai ponselmu diambil mereka,” teman-temanmu memperingatkan. Mereka terus mengirimi pulsa. Bagas nekad hendak bertandang, tapi dicegah teman-temanmu. Rumah dijaga ketat oleh paman-pamanmu. Tak mungkin kau melarikan diri melalui jendela kamar, seperti yang terjadi pada cerita sinetron.

Dua hari kemudian, seorang penghulu datang. Bersama lelaki yang selalu kau sebut kunyuk itu. Pengusaha muda yang tampak meyakinkan. Sudah beberapa kali datang ke rumah dengan niat yang tak pernah berubah: melamarmu!

Ah, kenangan itu masih menyakitkan. Dan kau tak ingin mengenang lebih panjang: bagaimana kau memperdaya lelaki kunyuk itu hingga memperoleh kesempatan kabur, bagaimana kau dipertemukan dengan Bagas oleh teman-teman, bagaimana kalian kemudian dinikahkan dengan wali seorang saudara jauh yang bersimpati.

Oh, sungguh kau tak ingin mengingat lebih banyak lagi! Karena jika diingat benar-benar, kisahmu bakal serupa kisah sinetron. Pengalaman hidup yang bagimu begitu memalukan.

Adakah kau bahagia? Tentu, katamu sendiri. Aku bisa menikah dengan laki-laki yang kucintai, aku memiliki seorang anak yang begitu manis. Kau menatap lekat-lekat wajah Lala yang tertidur pulas di tempat tidur mungilnya. Begitu cantik, polos, dan lucu. Selepas akad nikah, Bagas membawamu ke mari. Ke rumah orangtuanya. Namun setahun kemudian setelah Lala lahir, ia kembali ke Jakarta. Diterima kerja di sebuah perusahaan ekspor-impor. Awalnya kau begitu kesepian bersama Lala. Hanya ditemani seorang ibu mertua yang begitu penuh perhatian. Tapi Taman Budaya yang berada tak jauh dari rumah selalu menghiburmu. Kadang sendirian, kadang membawa Lala, kau kerap menghadiri berbagai pentas musik, teater dan tari, pameran seni rupa, dan sesekali pembacaan puisi atau diskusi sastra.

Bagas memang kian jarang pulang. Mula-mula ia masih pulang sebulan sekali. Kemudian menjadi dua bulan sekali, tiga bulan, empat bulan. Sekarang sudah nyaris enam bulan semenjak kepulangannya yang terakhir.

“Maaf, Nis. Aku juga kangen padamu dan Lala. Tapi kau tahu, dengan posisiku sekarang terlalu banyak yang harus aku tangani,” kau menutup telepon dengan kesal.

Ah, kadangkala kau merasa begitu merindukan rumah, adik-adikmu, teman-teman, ibukota yang bising (juga sinting!). Empat kali kau sempat pulang ke rumahmu, dua kali saat lebaran. Sekali Bagas berhasil kau paksa ikut. Ia disambut juga dengan pahit. Setelah sekian lama, belum juga ada penerimaan. Hampir kau tak percaya, kalau mereka yang melahirkan dan membesarkanmu itu begitu congkak. Ternyata kita tak pernah benar-benar utuh mengenal orang-orang terdekat kita, pikirmu sedih. Demikianlah, kau kehilangan banyak hal.

Ya, barangkali kita memang tak dapat meraih semuanya secara bersamaan, kau mencoba belajar arif. Si kunyuk, menurut adikmu, sesekali masih suka bertandang. Menanyakan kabarmu.

“Aku tahu kau hanya berpura-pura bahagia dengan pernikahanmu. Ketahuilah, aku masih menunggumu,” begitulah bunyi surat menjijikkan yang datang seminggu lalu itu. Dari mana ia dapat alamatmu, kau tak peduli. Surat itu kau sobek-sobek dengan kemarahan yang sempurna.

Hmm. Kau kembali memperhatikan kartu tarot terakhir di tanganmu. Kartu itu tampak nyalang: Kepribadian yang diwakili oleh Queen of Wands adalah sosok ratu digabung dengan elemen api. Ia adalah orang yang diinginkan semua orang. Cantik, menarik perhatian, hangat, bersemangat, mudah bergaul, selalu siap dengan segala macam situasi yang ada. Meskipun sosok ini tidak tampak angkuh namun mereka menyimpan keyakinan yang dalam dengan kemampuan dirinya sendiri.

Kau terbahak!

Ten of Swords

Ia datang lagi. Dengan wajah yang demikian muram. Nyaris sempurna sebagai seorang lelaki yang punggungnya tertikam sepuluh bilah pedang. Sekilas ia benar-benar tampak sebagai seseorang yang menjadi korban secara mental sebagaimana diisyaratkan kartu itu, ketika semuanya tampak mengerikan, tak ada harapan dan tampak tidak adil.

Kau menyuguhkan padanya secangkir kopi. Kental dengan gula secukupnya, entah sejak kapan kau begitu hafal pada takaran kesukaannya.

“Aku berhenti dari pekerjaan,” ia menatapmu ragu-ragu. Kau agak tercekat, “Kenapa?” tanyamu dengan air ludah terasa hambar. Ia menunduk, menghirup kopinya. Kau tak tahu apa yang harus kau perbuat sekarang.

Adakah ini bermula dari sebuah ramalan? Kau merasa tangan dan kakimu dingin.

“Rangka jembatan yang kurancang patah,” gumamnya, seperti pada diri sendiri. Kau tidak mengerti dunia bangunan. Meski kadang-kadang ia suka bercerita tentang pekerjaannya. Tapi kau paham gawatnya situasi itu dari kedua matanya yang sayu. Berhenti atau diberhentikan, itu tak penting. Jantungmu serasa diremas.

Kau memang lebih mengenalnya sebagai seorang penyair gagal yang mampu membaca puisi dengan bagus di pentas. Kalian bertemu pada sebuah pameran sekelompok pelukis muda di galeri Taman Budaya kurang lebih dua tahun silam. Dengan tampang dan penampilan yang tak menyakinkan, ia tampak begitu pamer diri menjelaskan banyak hal padamu. Tapi kau suka pada kehangatan yang terpantul dari kedua matanya. Entah kenapa. Basa-basi, perkenalan, lalu suatu hari tiba-tiba ia muncul di rumah.

Tentu kau kaget ketika ibu mertuamu menyambutnya gembira. Tak terduga, ia teman lama Bagas. Teman sejak kecil, katanya. Setelah itu ia sering bertandang berulang. Ibu mertuamu tak pernah keberatan untuk kedatangan seorang kawan lama anaknya, dan tahu kau butuh teman. Ia juga selalu muncul setiapkali Bagas pulang. Dari ia pulalah kau kenal dengan Mas Edi, pemilik studio desain tempat kau bekerja sekarang. Tentu kau harus bekerja lagi, pikirmu waktu itu, kalau tidak kau pasti mati dalam kebosanan. Lagipula kau bisa membawa Lala jika ibu mertuamu sedang ada kesibukan. Ada sebuah kamar yang bisa dipakai beristirahat di belakang studio.

Kini ia merunduk, mempermainkan sendok di cangkir kopinya. Lalu menyulut sebatang rokok dan menawarkan padamu. Kau hanya menggeleng, ingin memegang teguh janji mengurangi rokok. Nafasmu sering tersengal-sengal mengejar Lala yang kian lincah. Sesaat kalian kembali bertatapan. Ah, biji matanya begitu kelam seperti cairan kopi di cangkir. Di luar jendela yang gordinnya tersibak separoh, demikian gelap. Lampu teras belum sempat diganti. Tanganmu terasa kesemutan.

Kau mafhum, Ten of Swords adalah suatu akhir yang sulit dihindari. Terbayang lagi olehmu, kartu bergambar seseorang yang terkapar dengan sepuluh bilah pedang menancap di punggungnya di antara deretan pohon-pohon putih menjulang itu.

Seandainya ia tak bersikeras minta diramal! Kau berpaling ke arah lain menghindari matanya, beralih pada foto pernikahanmu yang tergantung di dinding ruang tamu. Seekor cecak tampak merayap di atas kaca pigura. Adakah semua ini cuma kebetulan? Seperti seseorang yang tiba-tiba disambar laju mobil ketika sedang menyeberang jalan? Atau hari esok memang sudah ditentukan? Sebagaimana sekian banyak kejadian lain yang terbaca olehmu di atas kartu-kartu sialan itu. Masa depan, barangkali memang lebih baik terlipat dalam laci terkunci.

Bertahun-tahun kau percaya, hidup akan menemukan jalannya sendiri.

“Ia mengajak menikah akhir tahun, atau kami akan berpisah untuk selamanya,” suaranya seolah menggantung di udara. Kau paham betul siapa “ia” yang dimaksudnya. Sekali lagi jantungmu diremas.

Tentu, sekiranya kau dapat berbuat sesuatu untuk membantu seorang sahabat.

Dalam pembacaan, Queen of Wands meminta Anda untuk bertindak dan menjadi seperti dia. Apakah Anda sudah merasa menarik perhatian orang? Apakah Anda sudah yakin dengan kemampuan Anda sendiri? Apakah Anda selalu bersemangat? Queen of Wands juga mewakili situasi yang penuh dengan keceriaan, kepercayaan diri dan semangat yang tinggi.

Tanpa sadar kau meraih kartu-kartu itu dari bawah meja.

The Fool

Oh, sungguh kau tak pernah menyukai kartu bergambar seorang dungu yang berpakaian seperti badut sirkus itu! Mungkin sama kadarnya dengan kebencianmu pada kartu Five of Cups dan Ten of Swords. Begitu menjengkelkan, setiapkali kartu jahanam itu terbuka: berjingkrak-jingkrak dengan tampangnya yang tolol.

Ya, seperti juga halnya kau tak pernah suka pada badut. Selalu saja mengingatkanmu pada suatu kejadian belasan tahun silam.

Pada ulang tahunmu ke sepuluh, Tante Lin menghadiahkan seorang badut. Meskipun saudara dan teman-temanmu tampak begitu gembira, bagimu badut itu sama sekali tak lucu. Kau tidak mengerti, kenapa banyolan-banyolan konyol yang disuguhkannya bisa membuat teman-temanmu terpingkal-pingkal. Ia membuat sulap-sulap yang membosankan dan menghabiskan terlalu banyak kuemu.

Dan puncak kebencian itu adalah tatkala ia membagi-bagikan balon kepada semua anak yang hadir. Kau belum sempat menyentuh balon yang diulurkan padamu, ketika tiba-tiba saja balon merah itu meledak tepat di depan wajahmu. Tangismu juga meledak, dan serta merta kau menghambur lari ke kamar. Langsung mengunci pintu dan membenamkan kepalamu di bantal, tak peduli orang-orang terus mengedor pintu.

Ah, kenapa juga harus ada gambar badut jahanam itu dalam deretan kartu tarot? Tanpa sadar, kau mengeluh tertahan. Tentu, kau cukup hafal pada deskripsi kartu brengsek itu: Permulaan, spontanitas, kepercayaan, memasuki tahap baru; jalan baru, melebarkan sayap, memulai petualangan, memulai ketidakpastian, mengejutkan seseorang, perlu diperhatikan, menjalani hidup apa adanya, berpikir terbuka, menikmati hidup, bertindak konyol, mempercayai diri sendiri. Oh, apakah nasib buruk mulai menyapamu? Atau sebaliknya?

Ya, ia terbuka lagi malam ini. Dalam kemuakan yang sempurna di tanganmu sebagai kartu penghabisan. Mengangkat wajah, kau lihat Cipta masih sibuk dengan batang rokoknya yang entah keberapa belas. Kau tahu, ia takkan berkenan diramal lagi setelah kartu-kartu menyakitkan tiga hari yang lalu itu. Kau ingin memulai sebuah percakapan, tapi rasanya begitu sulit.

Di ruang tamu ini kesepian merayap seperti cecak, dan memuncak bersama bunyi decaknya. Malam semakin larut. Kau merasa begitu capek, ingin beristirahat. Besok memang hari Sabtu, tapi sekitar jam sepuluh pagi kau harus menjemput mertuamu di pelabuhan udara. Cipta kini menatap keluar jendela dari kain gordin yang tersibak.

The Fool adalah gambaran dari sosok diri kita tatkala kita memulai perjalanan hidup, terlahir sebagai manusia di dunia ini, seseorang yang masih murni, dan bertindak spontan tanpa banyak berpikir.

Kau terbangun oleh suara tangis Lala. Sekujur tubuhmu terasa linu. Buru-buru kau menyingkapkan selimut. Dan cukup kaget ketika menyadari kau tidaklah sendirian: tangan lelaki itu masih melingkar di pinggangmu yang ramping.

Untuk beberapa saat lamanya, jantungmu berdegup kencang. Seperti seorang yang habis berlari jauh. Perlu waktu sekitar tiga menit sebelum kau bisa menguasai diri kembali. Pelan-pelan kau berusaha menyingkirkan tangan itu, tak ingin mengusik tidurnya yang pulas. Ketika beranjak dari tempat tidur dengan perasaan berkecamuk, sekilas masih sempat kau tangkap pantulan tubuhmu yang putih di cermin lemari pakaian. Begitu sempurna dalam ketelanjangannya.

Tangis Lala di kamar sebelah semakin keras, menjerit-jerit memanggilmu. Jarum jam dinding telah menunjukkan pukul tujuh lewat. Mendesah kecil, kau bergegas membuka pintu kamar. Setengah berlari untuk mendapatkan anakmu.

Tiba-tiba saja kau merasa harus membakar kartu-kartu tarot itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s