Cosmic Voyage

cosmicvoyage

Pengembaraan untuk menemukan tujuan hidup, bahkan jati diri dimulai saat kita memikirkan hal-hal kecil yang berada disekitar kita. Berusaha mencari penjelasan yang rasional tentang makna dari seluruh penciptaan semesta. Cosmic Voyage tak ubahnya seperti bahtera Nabi Nuh di angkasa luas. Mengarungi beberapa siklus hidup demi menemukan jawaban atas segalanya.

Istilah ini pertamakali diutarakan oleh guru teknologi komputer saya yang sangat mencintai sastra, pendidikan, dan filsafat. Angkasa adalah ruang dan waktu yang tak terbatas. Bahkan angkasa merupakan salah satu faktor pendukung untuk terciptanya galaksi kehidupan. Ia menopang beribu-ribu kehidupan yang mungkin sampai saat ini kita tidak mengetahui kaberadaannya. Angkasa luas ini ia ibaratkan sebagai ilmu sekaligus siklus kehidupan hamba Tuhan yang terus mencari hakikat kebenaran.

Sebenarnya siklus kehidupan manusia tidak terbatas, begitu pula dengan ilmu. Seperti filsafat Plato yang mengatakan bahwa hidup yang sebenar-benarnya adalah dalam alam ide. Dalam alam ide-lah kita diberikan pengetahuan yang maha dahsyat dan tak terbatas. Ketika manusia memulai siklus kehidupannya di dunia ini, kita kehilangan semua ilmu yang telah kita miliki di alam ide. Terlahir menjadi seorang yang memulai kehidupan dari nol atau tanpa pengetahuan apapun. Alam dunia ini adalah proyeksi dari alam ide, dan ia tidak akan pernah sesempurna alam ide.

Siklus kehidupan pertama manusia dimulai dalam kehidupan alam barzah, alam dimana sebelum ruh ditiupkan kedalam jasad. Dalam alam barzah itulah hakikat kebenaran sesungguhnya telah kita raih dan kita bersumpah setia kapada sang Maha Kuasa agar tidak mengingkari-Nya. Sesuai perkataan Plato tadi, tubuh adalah penjara bagi ilmu dan hakikat-hakikat kebenaran yang kita miliki di alam barzah. Segala macam ilmu yang kita dapatkan dalam alam dunia ini merupakan pengulangan dari ilmu yang ada di alam barzah.

Lalu bagaimana dengan hakikat kebenarannya? Akankah kita dapatkan kembali dalam siklus hidup alam dunia? Dari yang saya pikirkan dan rasakan selama ini, mungkin saja akan kita dapatkan, namun kebanyakan manusia lain memilih untuk melupakannya. Konspirasi dunia ini telah menutup mata manusia untuk mencari tahu tentang hakikat kebenaran. Mengikat manusia pada keindahan dunia dan melupakan tujuan utama ia diciptakan.

Dalam Cosmic Voyage ini, ia gambarkan seorang pengembara pencari kebenaran sebagai debu. Seberkas debu yang melayang bebas di angkasa luas. Seseorang yang berilmu besar dan memiliki kesadaran penuh untuk mencari hakikat kebenaran, akan semakin menyadari bahwa dirinya itu tidak ada apa-apanya. Lebih lanjut lagi dengan mengetahui keberadaan diri tidak ada apa-apanya, justru semakin mengukuhkan bahwa diri kita merupakan titik poros penting bagi orang lain. “Cogito Ego Sum kata Descartes.

Seberkas debu yang berkeliaran di angkasa luas ini merupakan faktor penting dalam pembentukan sistem tata surya. Seberkas debu yang terbang melintasi beratus-ratus juta tahun cahaya ini, memiliki tujuan agar kehidupannya dapat membentuk atau setidaknya dapat menopang kehidupan lain. Ya, memberikan manfaat bagi kehidupan lain merupakan bukti kecintaannya pada Sang Maha Pencipta. Ia akan terus berada dalam keadaan konstan ini sampai Sang Maha Pencipta memanggilnya untuk kembali. Seperti itulah seseorang yang mengetahui hakikat kebenaran, keberadaannya akan memberikan manfaat yang sangat berarti bagi orang lain. Kepergiannya merupakan duka mendalam, namun cintanya tidak akan pernah padam. Ia yakin bahwa kematiannya adalah bukti kecintaannya pada Tuhan Yang Esa, dan awal siklus baru bagi kehidupannya yang lain.

“Setiap manusia itu terlahir dalam keadaan cacat,

dan karena kecacatannya itulah ia menjadi sempurna”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s