sebuah-catatan

Henti

Di persimpangan, acapkali aku tergesa-gesa melangkah selalu lebih dulu, tak ingin didahului nasib yang kerap menembang omong kosong, namun tak pernah mampu meneruskan langkah, memutuskan arah mana yang kita tuju. Aku melulu berhenti sejenak, menanti kamu yang hanya berselang jarak dengan kabut tipis, yang tak pernah menjadi persoalan dengan tatap pandang. Tenang melangkah, menjaga gerak musim agar tetap pada porosnya, menghalau arakan awan mendung yang tak jarang tiba-tiba melintas di sela derap langkah. “Jalan mana lagi yang akan kita tempuh?” Kamu tersenyum hangat, tatapanmu begitu lembut seraya menunjuk arah, tanpa ragu, dan dengan riang kita kembali melanjutkan perjalanan, tanpa letih, mencari landasan untuk melakukan perjalanan yang lebih tinggi: terbang, dan melakukan manuver-manuver cantik menuju batas takdir.

Di persimpangan, kini, langkahku kembali terhenti, coba mengeja ke mana pergerakan arah mata angin yang tadi terasa hangat berlalu. “Jalan mana lagi yang akan kita tempuh?” Suaraku memantul, sepi, hanya gugur daun berserakan bergemerisik tak teratur diamuk angin. Dan senja yang dingin, menyadarkan, –kini aku berjalan seorang diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s