jejakgerimis

Jejak Gerimis

jejakgerimisAnjani kembali duduk di depan jendela kamar yang berada di lantai dua, seperti kemarin dan kemarin sebelumnya, masih sama, menatap keadaan lengang pada jalan menuju ke taman yang berada hanya beberapa puluh meter. Tergambar jelas dari binar matanya tatapan penuh haru, dari jalan yang lengang itu hingga sampai ke taman yang lengang pula seakan berseliweran silam kenangan-kenangan yang penuh bahagia sekaligus duka.

Tiba-tiba melengkung senyum dari bibir mungilnya, untuk yang kesekian kali ia membayangkan pertemuan yang tidak terduga itu dengan Radit. Adalah saat awal musim penghujan empat tahun silam, Anjani dan keluarganya baru pindah ke rumah itu. Hujan mengawali pertemuan pertama mereka. Anjani nampak tergesa-gesa berlari, bajunya sudah sedikit basah karna tidak memakai payung. Lalu saat di depan taman, entah bagaimana mulanya kaki Anjani tersandung, dan membuat tumpukan buku yang ia dekap demi melindungi dari derai hujan berhamburan. Dengan tergesa-gesa ia memungutinya. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang membantu Anjani membereskan buku-buku yang tercecer, ialah Radit. “Terima kasih.”, ucap Anjani seraya mengambil buku terakhir yang terhambur. “Tak apa. Kamu tetangga baruku, kan? Mari lekas, hujan semakin deras.”, Radit mengajak Anjani berlari menuju rumah mereka yang bersebelahan. Selang beberapa menit mereka tiba di depan rumah Anjani.

“Ini bukumu, maaf jadi basah karna hujan.”

“Lho, justru aku kan yang harusnya berterima kasih, kamu kan sudah membantuku.”

“Hehehe. Iya juga ya. Oh ya, aku Radit.”

“Aku Anjani.”

“Hei, kamu suka puisi ya? Itu buku Kahlil Gibran, kan?”

“Iya suka, memangnya kamu suka? Eh, bagaimana kalau kita lanjutkan mengobrol di rumahku, nggak enak juga kan kita ngobrol di depan rumah begini. Lagipula, biar kubuatkan teh sebagai ucapan terima kasih telah menolongku.”

Gerimis mulai berjatuhan. Anjani masih menatap suasana lengang jalan dan taman di depan rumahnya itu. Entah apa yang ada di benaknya. Nampaknya ia masih betah bergelut dengan pikirannya yang sedang menerawang jauh, semakin terhanyut akan kenangan-kenangan manis bersama Radit. Setelah kejadian itu Anjani dan Radit semakin akrab, ditambah mereka berdua kuliah di Universitas yang sama, hanya beda fakultas. Anjani kulian di fakultas kedokteran, ayahnya selalu ingin Anjani menjadi dokter. Sedangkan Radit, ia sangat suka dengan dunia sastra, tapi malah kuliah di fakultas arsitektur. Senyum Anjani kembali tergurat, pernah suatu ketika ia digoda oleh kakak tingkat di kampus, Anjani sudah tidak menimpali, namun kakak kelas itu masih saja menggoda genit, bahkan sampai mencolek-colek Anjani. Radit kebetulan melihat kejadian itu. Entah kenapa tiba-tiba saja Radit marah dan akhirnya meninju kakak kelas Anjani itu. Anjani terkejut bukan main, ia tak menyangka Radit bisa kasar seperti itu. Namun dalam hatinya ia berdecak kagum dan senang bahwa Radit mau membela, bahkan sampai berbuat kasar demi dirinya.

Anjani mengangkat cangkir kopi yang diletakkannya di tepi jendela, lalu direguknya perlahan. “Ah…”, ia menghela napas, seperti mengeluarkan sesuatu yang entah. Kembali ia letakkan cangkir kopi di tepi jendela, lalu kembali memandangi jalan lengang yang mulai lembab karna gerimis semakin menderas. Mimik wajah Anjani kembali terhanyut dalam lamunan. Begitu banyak baginya kenangan di jalan dan taman ini, setiap hari, selalu saja ada kenangan-kenangan baru. Ia kembali tersenyum, inilah bagian kenangan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Untuk pertama kalinya Radit bertingkah begitu aneh kepada Anjani, hingga suatu malam yang dingin, hujan usai berderai petang tadi, namun malam mini langit begitu ramai dengan kerlip bintang dan sinar rembulan. Radit meminta Anjani menutup mata, lalu dari dalam rumahnya Radit menuntun Anjani berjalan, ia hanya menurut, karna ia percaya Radit tak akan macam-macam terhadap dirinya. Lalu, ketika Radit meminta Anjani membuka matanya, alangkah terkejut Anjani menyaksikan suasana taman yang dihiasi remang-remang nyala lilin.

“Wah, ada apa, Dit? Sedang merayakan apa kita?”

“Nngg…, kita tidak merayakan apa-apa, aku…,”

“Aku aku, aku apa? Bicara yang jelas dong.”

“Kamu akhir-akhir ini suka merawat bunga-bunga ya?”

“Kok tau?”

“Habis, akhir-akhir ini setiap aku ngeliat kamu, hatiku berbunga-bunga terus. Hihihi…”

“Apaan sih, Dit? Kamu ngga jelas deh!”

“Aku mencintaimu, Anjani.”

“…”

“Mau nggak kamu pacaran sama aku?”

“…”

“Anjani, hei?”

“Hah? Oh, iya, aku…,”

Betapa terkejutnya Anjani, ternyata Radit juga merasakan hal yang sama padanya, bahkan, Radit memintanya menjadi kekasih dengan cara yang romantis. Ia memang sudah menunggu Radit mengucapkan hal itu. Mereka sepakat menjadi sepasang kekasih.

Anjani terus menatap suasana lengang sekitar taman, ia terkenang masa-masa berpacaran dengan Radit yang banyak dihabiskan di taman itu. Dari hal-hal romantis, sampai hal-hal yang menyebalkan dari hubungan mereka, semua terlintas di benaknya. Tentang bagaimana lembutnya jemari Radit membelai rambut Anjani yang membenamkan wajah di pundak Radit sembari berkeluh kesah, tentang bagaimana mulanya terjadi ciuman pertama mereka di bangku taman itu, tentang bagaimana mereka bertengkar dari hal-hal sepele hingga pertengkaran yang cukup serius, semua terkenang di benak Anjani. Begitu sempurnanya cinta mereka, semua berjalan seperti yang mereka inginkan.

Hingga saat kelulusan tiba, ternyata Radit dan orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri. Ayah Radit memutuskan untuk kembali ke Rio de Janeiro, Brazil.  Ya, ayah Radit memang berasal dari sana. Lagipula, Radit diminta oleh pamannya bekerja di sana. Begitu hancurnya hati Anjani mengetahui hal ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi untuk menahan Radit agar tetap tinggal di rumah sebelah, dia merasa tidak punya hak untuk itu. Anjani telah menjadi koas di rumah sakit swasta terkemuka di daerah tempat ia tinggal. Tapi hari-hari yang ia lewati terasa hambar. Sudah enam bulan berlalu sejak kepergian Radit. Hari-hari ia lewati sendiri, tanpa canda tawa seperti dulu, tanpa tempat mengadu saat Anjani dan Radit menikmati sisa petang di bangku taman, Anjani benar-benar merasa kehilangan. Dan Anjani pun belum bisa membuka hatinya untuk orang lain.

Gerimis telah menjadi hujan sedari tadi. Tempias rintiknya menjejak di permukaan kaca jendela, kaca menjadi berembun. Samar terlihat pantulan wajah Anjani di kaca jendela, buram, dan semakin dalam terhanyut pada masa silam. Tanpa bisa ia cegah matanya yang sembab mulai mengalirkan anak-anak sungai bening, mengalir ke permukaan pipi. Ia terkenang kejadian enam bulan silam. Adalah saat kedua orang tuanya dalam perjalanan ke luar kota, saat itu hari menjelang malam. Jalan penghubung antara kota tempat Anjani tinggal dan kota yang akan dituju oleh kedua orang tuanya cukup jauh dan melintasi jalanan sepi. Entah bagaimana mulanya, ada seorang pengendara motor yang memotong bus antar kota tepat di tikungan dari arah yang berlawanan dengan mobil orang tua Anjani, ayah Anjani berusaha menghindari terjadinya tabrakan, namun na’as, hal itu justru membawa petaka bagi kedua orang tua Anjani. Mobil yang ayah Anjani kendarai menabrak pembatas jalan, lalu terjungkal. Keduanya tidak bisa diselamatkan. Hal ini cukup mengguncang jiwa Anjani, bagaimana tidak, tiba-tiba saja ia kehilangan kedua orang tuanya sekaligus, dan harus hidup seorang diri.

***

“Anjani…, hei Anjani.”

“Oh, hai, Radit. Kamu sudah pulang?”

“Iya, kamu terlihat asyik sekali duduk di sini. Kembali mengenang kenangan-kenangan?”

“Iya, maaf.”, suara Anjani terdengar lirih sembari berdiri dan menyeka air matanya.

“Tak apa”, Radit menghampiri Anjani, lantas langsung didekapnya Anjani yang kini telah menjadi istrinya itu, “kenanglah masa lalu itu selama kau ingin, sayang, namun ingatlah, kini engkau tidak lagi sendirian, ada aku yang akan selalu menemani dan menjagamu.”

“Iya…” Anjani membenamkan wajah di dada Radit yang bidang, dan membalas dekapannya.

“Hei, hujan sudah reda, kita ke taman yuk.”, ucap Radit.

Saat Radit mengetahui kabar tentang keadaan keluarga Anjani dia segera kembali ke kota ini. Karna dia tahu betul keadaan Anjani yang hidup seorang diri. Kini cinta mereka telah menyatu bersama ikatan suci pernikahan. Meski Anjani belum mampu bangkit dari keterpurukan, namun Radit akan selalu ada di sampingnya, menenangkannya, menyayanginya, membuka lembaran baru kehidupan mereka, masa depan mereka. Membuat kenangan-kenangan baru di taman itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s