TDKR

Batman : The Dark Knight Rises (Review part 2)

review halaman sebelumnya dapat anda baca disini

Ada beberapa twist khas Nolan yang membuat saya begitu tidak inginnya melakukan sesuatu yang akan saya sesali nanti, termasuk ke toilet dan menguap, walaupun film ini sangat panjang (165 menit) untuk ukuran film superhero. Saya bahkan belum ingin meninggalkan kursi saya setelah credit title muncul karena ending film ini seolah-olah akan memunculkan harapan akan munculnya cerita baru (untuk Blake) yang tentu saja bukan dalam bentuk post end credit karena DC Comics tidak memiliki kebiasaan untuk menampilkan adegan di penghujung credit seperti yang dilakukan Marvel. Mengenai twist ini, saya akan menganalisasis dan berbagi opini saya karena twist ini sangat terbuka untuk memunculkan opini baru.

Saya sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Miranda Tate adalah Talia Al Ghul, anak perempuan Ra’s Al Ghul, supervillain di Batman Begins. Tate terlihat sangat baik dan malah berniat membantu Wayne Enterprises yang hampir bangkrut. Namun ketika Batman mengejar Bane dan meminta detonator bom nuklir yang terletak di sebuah truk yang selalu dipindahkan ke satu tempat ke tempat lainnya, detonator itu ternyata ada di tangan Tate. Detonator itu tak akan dipercayakan Bane ke sembarang tangan dan betapa terkejutnya Batman ketika mengetahui jati diri Tate yang asli.

Setiap ending dalam film-film Nolan rasanya selalu dibuat menggantung (contoh paling dekat adalah Inception (2010), begitu pun dengan ending TDKR. Di saat tak ada satupun yang bisa menghentikan bom nuklir, Batman menawarkan diri untuk membawa pergi bom tersebut sekaligus menyelamatkan Gotham dari kehancuran. Dengan mengendarai The Bat yang tak mempunyai sistem pilot otomatis, Batman terbang menjauhi Gotham. Di kejauhan, tepatnya di dekat laut Gotham, bom nuklir itu pun meledak. Saya sangat terkejut akan akhir yang tak terduga ini. Namun yang janggal di sini adalah akhir kisah ini sebelum credit title muncul dimana Alfred sedang berada di sebuah café di suatu tempat, sosok Bruce Wayne terlihat tak jauh darinya bersama sang istri (sepertinya Selina Kyle nampak dari belakang) dan anak-anak. Wayne tersenyum dan mengangguk pada Alfred.

Ada banyak teori mengenai hal tersebut di atas dan saya percaya dengan opini yang mengatakan bahwa Batman memang sudah berakhir namun tidak dengan Bruce Wayne. Bruce yang dilihat Alfred di sebuah café itu adalah Bruce yang asli. Bruce dan Selina menggunakan semacam chip untuk menghapus semua catatan apapun mengenai diri mereka yang lama sebagai Bruce Wayne dan Selina Kyle dan memulai hidup baru sebagai orang yang baru di tempat yang baru pula. Teori ini terdengar paling masuk akal karena ada beberapa fakta yang mendukung. Pertama, tagline TDKR adalah ‘The Legend Ends’ dan tentu saja yang dimaksud legend adalah Batman bukan Bruce Wayne karena hanya segelintir orang, termasuk Bane, Blake, Gordon, yang mengetahui identitas Batman. Kedua, sebagai pahlawan yang hanya manusia biasa yang dikaruniai sesuatu yang istimewa, Bruce Wayne/Batman digambarkan memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Selain itu Batman juga memiliki beberapa keahlian, salah satunya adalah escapology. Saya berasumsi bahwa sebelum bom meledak, Batman sudah berhasil keluar dari The Bat. Namun walaupun begitu tidak menutup kemungkinan bahwa Batman dan Bruce Wayne tewas dan Bruce yang dilihat Alfred hanya khalayan belaka. Namun saya lebih condong ke teori pertama karena menurut saya Alfred hanya pernah sekali bertemu dengan Selina dan saat Alfred bertemu dengan Bruce di café, Selina nampak membelakanginya. Tidak seperti bayangan dalam benak Alfred sebelumnya dimana Brucelah yang membelakangi Alfred.

Film The Dark Knight Rises adalah satu-satunya film bergenre superhero yang sukses mengaduk-aduk perasaan dan emosi saya pribadi. Film ini berhasil menyentuh hati saya sehingga saya menitikkan air mata. Saya termasuk orang yang tak pernah menangis untuk sebuah film, apalagi film superhero, namun TDKR bagi saya lebih dari sekedar film. TDKR adalah bagian dari hidup saya dan banyak movie freaks di seluruh dunia. Film ini lebih dari sekedar trilogi Batman.

Ada beberapa adegan yang membuat saya menitikkan air mata. Pertama, ketika Alfred mengundurkan diri dari Wayne Manor. Alfred sesungguhnya hanya menginginkan yang terbaik bagi Bruce dan dia ingin agar Batman tak perlu kembali lagi karena Bruce seharusnya menjalani hidupnya sebagai laki-laki utuh yang menikah, hidup bahagia, dan mempunyai anak. Ketika Bruce mengucapkan ‘goodbye Alfred,’ saya sempat tak percaya. Bisa apa Bruce tanpa Alfred? Kemudian adegan ketika The Bat meledak dimana Batman yang (mungkin) masih berada di kokpitnya. Scene ini benar-benar heroik dan emosional. Dan puncaknya ketika Alfred menangis di makam Bruce Wayne. Alfred nampak sangat menyesal dan sedih sekali. Namun ketika adegan dimana Alfred bertemu Bruce di café ditampilkan, dalam hati saya bersorak kegirangan, masih ada kemungkinan Bruce masih hidup.

Ada yang menarik dari deretan cast di TDKR, terutama di trilogi Batman, yaitu, yang pertama, ada lima aktor yang secara berurutan tampil di semua film; Christian Bale (Bruce Wayne/Batman), Gary Oldman (James Gordon), Michael Caine (Alfred), Morgan Freeman (Lucius Fox), dan Cillian Murphy (Dr. Jonathan Crane) yang hanya muncul sebagai cameo di TDK dan TDKR. Kedua, sebagian besar cast di film Nolan sebelumnya, Inception, ‘dibawa’ ke set TDKR seperti Marion Cotillard (Miranda Tate), Tom Hardy (Bane), dan Joseph Gordon-Levitt (John Blake). Secara keseluruhan tak ada keraguan performa mereka yang akhirnya terbukti sangat baik, khususnya untuk Bale dan Caine yang bermain dengan sangat apik di babak pamungkas ini. Bale berhasil membawa karakter Bruce jauh lebih intens dan emosional. Saya salut terhadap performa Bale di TDKR lebih daripada dalam Batman Begins dan The Dark Knight walaupun bagi saya Bale adalah aktor terbaik yang pernah memerankan Batman. Bale pun mencatatkan dirinya sebagai satu-satunya aktor yang bermain sebagai Bruce Wayne/Batman di tiga film secara berurutan. Caine juga sukses memerankan Alfred yang lebih emosional dan bijak di TDKR. Wajah sedihnya saat menangis di makam Bruce sungguh meyakinkan. Karena rasa sayangnya yang teramat besar untuk Brucelah yang menjadikan Alfred begitu emosional. Selain para aktor-aktor ‘senior’ ini, TDKR juga didukung oleh Anne Hathaway (Selina Kyle/Catwoman), Juno Temple (Jen).

Tom Hardy memerankan sosok supervillain, Bane. Sebenarnya Bane dan the Joker, supervillain di The Dark Knight, adalah dua hal yang berbeda. Tidaklah bijak rasanya jika kita membandingkan the Joker dan Bane apalagi pemerannya alm. Heath Ledger dan Tom Hardy. Saya rasa mereka berdua telah berhasil memberikan warna yang berbeda terhadap dua supervillain ini dan membuatnya sulit untuk dilupakan begitu saja. Ledger berhasil membawa karakter psikopat cerdas, the Joker, ke level yang lebih mengerikan dari apa yang pernah diberikan Jack Nicholson dalam Batman (1989). Begitu pula dengan Hardy yang sukses memerankan Bane. Untuk peran Bane ini Hardy berhasil menaikkan berat badannya sebesar 15 kg dan berlatih sangat keras di Warrior. Mata ekspresif Hardy memudahkannya untuk menyampaikan emosi setiap dia berbicara karena masker yang dia pakai membuat suaranya tidak terdengar jelas. Ngomong-ngomong tentang masker Bane, di film ini akan diungkapkan mengapa dia harus menggunakan masker tersebut. Bagi saya, the Joker memang merupakan lawan yang besar dan sangat berbahaya bagi Batman secara psikologis namun Bane juga tak kalah berbahayanya karena Bane meneror Batman secara fisik dan mental.

Joseph Gordon-Levitt memerankan karakter John Blake, seorang police officer muda dengan sangat baik. Dia berhasil melepaskan peran innocent Tom Hanson dalam (500) Days of Summer. Di ending TDKR, Blake mengungkapkan nama aslinya, yaitu Robin John Blake, dan saya sempat berharap (lagi) akan sosok sidekick Batman ini walaupun semua penggemar Batman dan movie freaks tahu bahwa Robin adalah alter ego dari Dick Grayson (Robin I), Jason Todd (Robin II), Tim Drake (Robin III), atau Damian Wayne (Robin IV). Ditambah lagi dengan adegan ketika Blake mengundurkan diri dari kepolisian Gotham dan berhasil masuk ke Batcave membuat saya berharap (terlalu tinggi) bahwa Nolan akan kembali menukangi proyek solo Robin ini. Sebelumnya adegan ketika Officer John Blake mengetahui identitas asli Batman dan menuntut agar Batman segera kembali, saya mendapat kesan bahwa adegan ini kembali menekankan bahwa Batman hanyalah simbol dan semua orang bisa menjadi Batman. Ya, benar memang TDKR adalah proyek terakhir Nolan sebagai sutradara Batman dan peran Batman terakhir bagi Bale tapi itu tentu saja tidak menutup kemungkinan bahwa Nolan akan kembali sebagai sutradara film Robin. Yang berakhir itu Batman, bukan Robin. Who knows.

Anne Hathaway berhasil membawa karakter Catwoman sekaligus Selina Kyle dengan sangat baik melebihi ekspektasi pribadi saya. Awalnya saya sempat ragu akan kapasitas Hathaway. Dia berhasil memerankan sosok pencuri perhiasaan ini melebihi Michelle Pfeiffer dalam Batman Returns (1989) dan lepas dari bayang-bayang kegagalan Halle Berry dalam penampilan solo Catwoman. Jika boleh dibandingkan dengan Scarlett Johansson yang berperan sebagai Natasha Romanoff dalam The Avengers, saya lebih menyukai akting Hathaway. Dia berhasil melepas imej Princess Mia dalam installment Princess Diaries yang bodor dan sangat innocent. Walaupun imej seksi Catwoman seakan hilang dalam diri Hathaway, namun ini adalah Catwoman versi Nolan, Catwoman versi Gotham yang lebih modern.

Mungkin memang benar pendapat yang mengatakan bahwa Marion Cotillard adalah aktris spesial peran abu-abu. Perannya sebagai Mal dalam Inception dan Miranda Tate dalam TDKR membuktikan segalanya. Saking inginnya Nolan menggunakan jasa Cotillard, dia sampai rela menunggu sang aktris melahirkan. Itulah mengapa di beberapa scene perut Cotillard sedikit membesar. Cotillard, ditunjang dengan wajahnya yang innocent tapi mematikan, cukup berhasil dalam memerankan Tate.

Hal terakhir yang perlu saya tekankan untuk The Dark Knight Rises adalah bahwa film ini layak menerima setidaknya tiga nominasi Oscar, terutama untuk Best Director dan Best Picture. TDKR layak menerima penghargaan ini karena inilah film terkomplit tahun ini. Saya juga sangat merekomendasikan film ini untuk semua orang yang mengaku menyukai film bergenre superhero, yang mempunyai hobi menonton film, dan yang rindu akan film berkualitas karena film ini sangat worthy.

Saya tidak perlu mengungkapkan pendapat saya mengenai mana sekuel yang paling bagus antara TDK dan TDKR. TDK bagus di sisi chaos yang diciptakan the Joker dan tantangan psikologis yang harus dihadapi Batman sedangkan TDKR berkutat akan mental dan fisik Batman yang sudah usang dan tidak sanggup bertarung lagi, apalagi dengan adanya Bane yang super berbahaya. Bagi saya TDK adalah sekuel yang gelap yang mampu menggetarkan hati akan rusaknya moral Gotham walaupun fokus film ini lebih menjurus ke the Joker. TDKR merupakan epic conclusion yang memuaskan dan tertata dengan sangat apik. Trilogi Batman ini termasuk ke dalam trilogi tersukses sepanjang masa dan berhasil ‘menghindari’ kutukan installment ketiga di Hollywood.

Satu hal yang saya sesali ketika selesai menonton film ini adalah seharusnya saya melakukan standing ovation untuk film ini. Namun karena tak ada satupun orang di teater yang melakukan hal tersebut, saya terpaksa mengurungkan niat saya. Dan kebetulan awal desember 2012 kemarin teman saya Zen punya trilogi Batman ini dengan kualitas HD Bluray semua, jadi saya bisa maraton trilogi Batman ini dan melakukan standing ovation sesuka hati. Salut untuk Christopher Nolan, salut untuk trilogi Batman-nya. Untuk itulah saya memberi nilai 9.8/10 untuk film ini. Well, tidak ada film yang sempurna begitu pula dengan TDKR ini. Saya rasa nilai 9.8 sudah cukup mewakili bagaimana interpretasi saya terhadap film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s