jejakgerimis

Sakral

seperti resah yang tak sampai,

senyap dalam duduk-temu di ranjang,

seperti desah merujuk ke sansai,

rembulan menangis bimbang.

segala yang dulu kau namakan

kasih hangus kini, kayu jadi arang

menjelma abu, tinggi berjelaga,

diamuk badai tak tersisa.

beriak desir menanjak,

menanjak gelombang angin menyengat.

menyengat lebah, menyengat resah,

dihantam bibir yang basah.

semenjak hujan tiba-tiba deras

di berawan langitku, tombak matamu

tak lagi tajam– angin telah

mematahkan kerasnya angan.

cahaya padam di telapak tangan,

saat sepi turut mati, dalam derit ranjang

gagak di pucat langit batu bata

–mengelabui malam.

kangen sampai kau sangrai,

di dalam belanga saat kusua tangis

dan lebam sepi di pipimu meradang,

aduhai, fajar menelusup di mata yang pejam.

lekap dan langsat, bias mentari,

lancang masuk dari sela

tirai yang dikibarkan angin pagi,

menerobos bersama kerinduan.

alangkah perawan aroma pagi,

ketika riuh persimpangan yang mendekap

taman kota membikin aku terjaga,

menandaskan mimpi.

lentik helai bulu matamu ranggas

menjelma kupu-kupu yang mengepakkan

sayap beranjak dari arah cahaya berasal;

dari singgasana tempat tenggelam sesal.

lalu betapa hari menjadi sakral,

semenjak telapak tanganku dan

lentik jemarimu mengenal:

makna perpisahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s