wide_pengertian filsafat pendidikan

Murtadha Muthahhari – Tentang Ideologi

Ada dua jenis aktifitas manusia; aktifitas atas dasar kesenangan dan aktifitas atas dasar kepentingan.

Aktifitas atas dasar kesenangan didorong oleh naluri manusia. Sebagian orang menyebut sisi naluriah ini sebagai sisi hewani manusia. Kenapa demikian? Karena aktifitas yang menyenangkan dilakukan manusia untuk mendapat kesenangan, atau untuk melepaskan diri dari kepedihan yang terjadi akibat pengaruh langsung nalurinya. Naluri merupakan karakter pembawaan dan kebiasaan, yang merupakan kecenderungan yang terbentuk akibat lingkungan atau pengalaman.

Misalnya, kalau orang merasa haus, dia akan mengambil segelas air. Kalau seseorang melihat binatang penyengat, dia akan mengambil langkah seribu. Kalau seseorang ingin merokok, maka dia akan menyalakan rokok. Bila dia mengantuk, maka dia akan tidur. Dan kalau dia terangsang, dia akan menemui lawan jenisnya.

Sedangkan aktifitas atas dasar kepentingan, didorong oleh akal manusia. Sebagian orang, menyebut aktifitas ini, adalah aktifitas manusia yang bersifat politik. Politik merupakan aktifitas. Aktifitas politik ini tidak menarik dan tidak juga menjijikan. Naluri manusia, tidak mendorong dan tidak juga menjauhkannya dari aktifitas seperti itu.

Manusia melakukan aktifitas seperti itu, atau menghindari aktifitas seperti itu, atas dasar kehendaknya sendiri. Karena dia merasa berkepentingan untuk melakukannya atau tidak melakukannya. Dengan kata lain, dalam kasus ini, penyebab utama dan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah kepentingannya. Bukan kesenangannya.

Saya kira, pada tahap ini, pemikiran Murtadha Muthahhari tentang perbedaan kedua jenis aktifitas manusia ini, sudah dapat disimpulkan. Yang mendorong manusia untuk memperoleh kesenangan adalah nalurinya, sedangkan yang mendorong manusia untuk melakukan kepentingannya adalah akal. Kesenangan merangsang hasrat, kepentingan membangkitkan kehendak.

Semakin kuat akal dan kehendak, semakin kuat kendalinya akan naluri. Sekalipun kecenderungannya menghendaki sebaliknya. Semakin maju akal dan kehendak seseorang, semakin bersifat politik aktifitasnya, bukannya bersifat kesenangan. Sebaliknya, semakin dekat dia dengan cakrawala sisi hewaninya, aktifitasnya semakin bersifat kesenangan. Karena aktifitas yang bersifat mencari kesenangan, kebanyakan merupakan aktifitas hewaniah.

Dalam melakukan aktifitas politiknya, manusia pada setiap tahap, mempraktikkan teori atau rencana.

Nah, perbuatan politik tidak mendatangkan kesenangan, karena tidak memberikan hasil langsung. Namun demikian, perbuatan politik, memberikan kepuasan. Kesenangan dan kesulitan, lazim dialami oleh manusia dan binatang. Namun, kebahagian dan ketidakbahagiaan, kepuasan dan kekecewaan, hanya dialami oleh manusia. Begitu pula dengan menghasratkan sesuatu, hanya dialami oleh manusia. Kepuasan, kekecewaan, dan berkeinginan merupakan fungsi-fungsi mental. Ketiga hal ini, hanya ada dalam wilayah pikiran manusia, bukan dalam wilayah persepsi inderawi.

Sementara, kebahagiaan, yang menjadi tujuan final manusia, termasuk dalam hal (atau masalah) yang masih abstrak (atau mendua). Sekalipun konsepsi mengenai kebahagiaan sekilas tampak jelas.

Masih belum jelas, apa sebenarnya kebahagiaan, dan apa saja yang mewujudkan kebahagiaan. Manusia sendiri dan kemampuannya belum diketahui. Sepanjang manusia belum diketahui, mana mungkin kita dapat mengetahui apa sebenarnya kebahagiaan, dan bagaimana memperoleh kebahagiaan.

Ditambah lagi, manusia adalah makhluk sosial. Kehidupan sosial manusia, membawa beribu-ribu problem bagi dirinya, yang tak dapat dipecahkannya. Namun begitu, tugasnya haruslah jelas. Karena manusia adalah makhluk sosial, maka kebahagiaannya, aspirasinya, standar baik dan buruknya, jalan hidupnya, pilihannya akan sarana hidup, berkait kelindan dengan kebahagiaan sesama manusia; aspirasi mereka, standar baik dan buruk mereka, jalan hidup mereka, dan pilihan mereka akan sarana hidup.

Manusia tidak dapat memilih jalannya tanpa bergantung pada sesamanya. Manusia, harus mencari kebahagiaannya, di jalan yang membawa masyarakat ke arah kebahagiaan dan kesempurnaan. Terlebih lagi, jika (dalam konsepsi Islam) dikaitkan dengan masalah roh yang abadi, dan akal yang tidak memiliki pengalaman dengan kehidupan akhirat, maka problemnya menjadi jauh lebih sulit.

Pada tahap inilah, untuk mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan, Muthahhari memandang, perlunya manusia akan mazhab atau ideologi.

Lalu, apakah ideologi itu? Apakah defenisi ideologi itu? Alasan-alasan apakah yang lebih menguatkan bahwa manusia perlu akan sebuah mazhab atau ideologi? Bagaimana manusia bila tanpa ideologi? Apa sajakah jenis-jenis ideologi itu? Dan apakah, menurut Muthahhari, ideologi yang ideal bagi ummat manusia? Dan kenapa mesti demikian?

Pertama, ideologi kelas. Ideologi kelas didedikasikan untuk kelas, kelompok atau lapisan masyarakat tertentu. Tujuannya adalah emansipasi (atau supremasi) kelompok tertentu.

Tanpa disebutkan contohnya, saya kira, anda sudah tahu apa yang dimaksud Muthahhari dengan ideologi kelas ini. Saya tak ingin menyebutkan contohnya satu persatu. Namun, sebagai bayangan, bukankah anda pernah mendengar perjuangan kaum buruh, pergerakan kaum petani, gerakan kelas pekerja, dan seterusnya. Atau, yang lebih tragis, penindasan kelompok orang kaya terhadap kaum lemah atau miskin. Semua peristiwa itu, “digerakkan” oleh ideologi kelas tertentu.

Yang kedua, ideologi manusiawi. Ideologi manusiawi adalah ideologi yang didedikasikan untuk seluruh umat manusia, bukan untuk kelas, ras, atau masyarakat tertentu saja. Ideologi ini menganjurkan orang kaya untuk menyayangi dan menghormati yang miskin. Sebaliknya juga, ia menganjurkan untuk menghargai yang kaya atas segala usaha dan pengabdiannya. Ideologi ini, mencakup konsepsi tentang manusia dan alam semesta secara menyeluruh. Penjelasan lengkap, tentang jenis ideologi yang kedua ini, akan kita ungkap pada pembahasan topik ini selanjutnya.

Pertanyaannya sekarang, ideologi jenis manakah dari kedua jenis ideologi itu yang ideal menurut Murtadha Muthahhari? (Saya kira, anda pasti sudah tahu) tentu saja yang kedua. Mengapa?

Untuk menjelaskan pertanyaan ini, tentu saja, kita harus merujuk kepada bagaimana Muthahhari mendefinisikan ideologi.

Mazhab pemikiran atau ideologi, bagi Muthahhari, diartikan sebagai teori umum, atau sistem yang komprehensif dan harmonis, yang tujuan pokoknya adalah kesempurnaan manusia dan kebahagiaan bagi semua.

Sistem ini, harus merinci prinsip-prinsip pokok, berbagai metode, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, perbuatan baik dan buruk, tujuan dan sarana, tuntutan dan pemecahannya, tanggung jawab dan kewajiban. Dan, juga, harus menjadi sumber yang mendorong semua individu untuk menjalankan kewajiban. Sistem inilah (yang dalam terminologi Al-Qur’an) disebut dengan “syari’at” (Islam).

Lalu, timbul pertanyaan, apakah Islam itu Ideologi?

Bila patokkannya adalah Muthahhari, maka jawabannya “Ya”. Nah, pendapat ini tampak sedikit (atau jelas) berbeda dengan sebagian filosof yang menganggap ideologi adalah murni semata-mata sebagai hasil pemikiran manusia. Sementara, syari’at lahir atas tuntunan Ilahiah.

Tapi, Muthahhari, bukannya tanpa alasan menyatakan Islam adalah ideologi. Sejak awal, atau setidaknya sejak perkembangan kehidupan sosial, melahirkan begitu banyak perselisihan. Di masa dahulu, kecenderungan rasial, kebangsaan, dan kesukuan menguasai masyarakat-masyarakat manusia. Semangat ini, kemudian, melahirkan serangkaian ambisi – sekalipun tidak manusiawi – yang mempersatukan masing-masing masyarakat dan memberinya orientasi tertentu.

Nah, sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan akal telah melemahkan ikatan-ikatan serupa itu. Watak ilmu pengetahuan adalah cenderung kepada individualisme, melemahkan sentimen dan ikatan yang didasarkan pada sentimen.

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama, meskipun aktifitas politik manusia penting sekali bagi sisi manusiawinya, namun aktifitas itu saja (apapun kualitasnya) belumlah cukup untuk memberikan karakteristik manusiawi kepada semua aktifitas manusia. Akal, pengetahuan, dan perencanaan hanyalah separuh dari sisi manusiawi manusia. Aktifitas manusia, disamping rasional dan sadar, baru dapat disebut manusiawi apabila sesuai dengan kecenderungan yang lebih tinggi. Kalau tidak, maka aktifitas kriminal pun terkadang perencanaan dan pelaksanaannya sangat bagus. Rencana imperialisme yang jahat menunjukkan fakta ini.

Dewasa ini, lebih daripada sebelumnya, manusia membutuhkan filsafat hidup. Sebuah filsafat yang mampu menarik perhatiannya kepada realitas di luar para individu, dan diluar kepentingan mereka. Sebuah filsafat hidup yang rasional dan dipilih secara sadar. Atau, dengan kata lain, sebuah ideologi yang komprehensif dan sempurna, yang dapat mempersatukan umat manusia dewasa ini, dan malah umat manusia di masa depan. Memberi manusia orientasi, ideal bersama, dan standar bersama untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.

Lalu, siapa yang dapat merumuskan ideologi seperti itu? Tak pelak lagi, akal para individu tak dapat merumuskannya. Dapatkah akal kolektif merumuskannya? Bayangkan saja; dapatkah manusia, dengan menggunakan segenap pengalamannya, serta informasi lama dan barunya, merumuskan ideologi seperti itu? Kalau kita akui, bahwa manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka mana mungkin kita berharap manusia mengenal masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial.

Lantas, harus bagaimana? Bila saja, konsepsi kita tentang alam semesta benar, dan kita percaya bahwa dunia memiliki sistem yang seimbang, dan tak ada yang tak beres dan tak masuk akal pada dunia, maka harus kita akui bahwa mesin kreatif yang hebat ini memperhatikan masalah besar ini, dan sudah merinci skema pokok sebuah ideologi dari cakrawala yang berada di atas cakrawala akal manusia. Yakni, dari cakrawala wahyu (Prinsip Kenabian). Kerja akal (dan termasuk juga ilmu pengetahuan) mengikuti skema ini.

Sampai disini, menjadi jelas, tanpa ideologi manusia akan berada dalam kebingungan dan salah. Lalu, apakah arti dari mengikuti ideologi itu? Mengikuti ideologi adalah meyakini ideologi tersebut. Sedangkan keyakinan, tidak dapat dipaksakan. Dan, juga, tidak dapat dipandang sebagai masalah praktis. Orang dapat saja dipaksa untuk tunduk kepada sesuatu. Tapi, ideologi tidak menuntut ketundukkan. Yang dituntut ideologi adalah keyakinan. Ideologi adalah untuk diterima dan dimengerti.

Ideologi, yang bermanfaat, harus didasarkan pada konsepsi tentang dunia yang dapat meyakinkan akal dan memupuk pikiran. Dan, juga, harus mampu menangkap sasaran yang menarik dari konsepsinya tentang alam semesta. Keyakinan dan semangat, merupakan dua unsur dasar dari agama. Kedua unsur ini, secara bersama-sama membentuk ulang dunia.

Bagaimana……

sumber: zarpatista

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s