lukisan juna

Lukisan Terakhir

Tiba-tiba sebuah kapur papan tulis melayang tepat mengenai kepalaku. Secara refleks kuhentikan pena yang sedari tadi menari tanpa henti. Beberapa kawan terlihat tertawa kecil dan yang lainnya menatap aneh padaku. Pak Sarpadi, guru matematikaku mulai naik pitam. Nada bicara yang keluar dari mulutnya kurang sedap di dengar. Bagiku ocehannya itu hanyalah omong kosong belaka. Dunia ini adalah omong kosong.

Untuk kesekian kalinya Kepala Sekolah memanggilku. Ia sangat peduli terhadapku. Entah karena iba atau mungkin karena memang akulah makhluk terasing di dunia ini. Apapun alasannya, seakan aku tidak bisa merasakan bahwa dunia akan berkarib denganku. Aku tak tahu apa yang terjadi. Dalam setiap lamunan dan pikiranku, mungkinkah aku terlahir di dunia yang salah? Segala sesuatu yang kurasakan hanyalah fana, jadi untuk apa aku memperjuangkan sesuatu  yang pasti berlalu dari hadapanku.

Sekolah telah usai. Aku senang menatap kerumunan orang dari atas gedung sekolah tiga tingkat ini. Bercengkerama dengan yang lain terasa aneh bagiku, meski bahasa verbal yang mereka gunakan kurang lebih sama dengan milikku. Kunyalakan zippo putih bercorakkan bunga melati. Aneh, orang lain mungkin akan memilih corak yang begitu keras seperti elang atau harimau. Namun untukku bunga melati ini memberikan makna yang berbeda. Ia adalah simbol sebuah harapan. Harapan yang fana, tapi memberikan secuat imajinasi untuk mengarungi luas samudra dunia realitas ini. Sebatang rokok kutarik dari jaket hitam pemberian Ibu. Kuhisap perlahan agar ia terbakar sempurna dan kuhabiskan selang waktu ini bersama teman kecil yang akan membunuhku suatu hari nanti.

Tiga batang sudah kuhabiskan. Bersama lamunan-lamunan kecil tentang dunia yang juga menemani sore cerah ini. Kubalikkan badan dan sedikit berharap bahwa tidak akan ada yang mencium aroma khas rokok dari mulutku. Dan aku tercengang! Seseorang mengawasiku entah sejak kapan gaibnya.

Ia seorang wanita! Perawakannya tegap, namun tidak lebih tinggi dariku. Rambut tergerai panjang dengan poni lurus. Sepatu kets putih lusuh dengan kaus kaki putih bersih berpadu padan bersama rok abu-abu dan kemeja putih ketat. Keganjilan nampak saat kudapati ia dengan santai menikmati beberapa batang rokok sambil menatapku.

“Udah berapa lama kamu disini menatapku?” Tanyaku sembari menghampirinya.

“Sebelum kamu datang aku udah disini duluan kok.” Jawabnya santai.

“Kamu juga suka nongkrong  disini sepulang sekolah?”

“Ya, hampir tiap hari” Kataku sesaat ketika mencuri pandang pada lekuk tubuhnya. Namun pada akhirnya aku lebih memilih untuk pulang ke rumah daripada melanjutkan pembicaraan ini.

“Emm.. Sudah ya, aku mau pulang dulu, ada PR yang harus aku selesaikan.”

“Tunggu, kita pulang bareng.” Sergahnya sambil membuang puntung rokok yang dihisapnya.

“Kamu ga mau Kepala Sekolah tau kita ngerokok disini kan?”

Akhirnya dengan berat hati kuiyakan saja kemauannya.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Sesekali dia atau aku mencuri pandang. Dia terlihat manis, tapi aku rasa ini karena aku melihat secara fisiknya saja. Harus kuakui sifat antisosialku membuat kawan-kawan disekolah menjauh sekaligus membuatku selalu terkucil dari kehidupan dunia. Membuat mereka sulit menerka-nerka kepribadianku dan begitu pula sebaliknya.

“Hei, rumahmu dimana sih?” Tanyaku untuk mencairkan suasana yang dingin ini.

“Belakang Masjid Jami’ lebih tepatnya di Benteng Sari no 26.”

“Oh, kalau gitu ga terlalu jauh dari tempatku.”

“Emang rumah kamu dimana?”

“Bukan rumah tapi kos-kosan, dekat Akper Pemprov di Sumberan.”

“Emm… Kalo gitu tiap hari minggu sering jogging di alun-alun ya?”

“Eh aku jarang olah raga, lebih banyak berdiam diri dalam kos-kosan.”

“Loh emang ga bosen apa di dalam ruangan terus? Sesekali keluar dong, hidup itu untuk dinikmati bukan untuk disia-siakan.”

Sejenak aku tertegun akan ucapannya barusan. Dia seperti membongkar sekat-sekat duniaku dengan segala macam magisnya. Aku melulu menatap  matanya yang selalu bersinar itu. Dan kamipun menghabiskan perjalanan pulang dalam bis dengan hanya saling bertatap pandang. Ya, hanya bertatap pandang, namun penuh makna bagiku.

Malam hari ini begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Mataku tak bisa terpejam hingga larut malam. Wanita yang aku temui tadi terus menggelayuti pikiranku. Membutakan segala yang biasanya menjadi milikku. Tanpa kusadari api cinta mulai menyala dalam hidupku yang sepi ini. Terus saja kubayangkan tiap detil dirinya yang terekam dalam memori otakku. Hingga akhirnya akupun terlelap pulas.

Mentari mulai menampakkan cahayanya dari ufuk timur. Pagi yang cerah dengan aroma basah pegunungan menimbulkan harmoni perpaduan udara yang sedikit lembab dan dingin. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan bis. Aku berharap bisa melihatnya pagi ini. Namun sepertinya harapan hanya tinggal harapan. Ia tak kunjung datang walau aku sudah menunggu di depan halte dua blok dari rumahnya. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.40 dan jika aku tak segera berangkat, aku akan terlambat sekaligus menambah panjang daftar masalahku dengan BK. Akhirnya kuputuskan berangkat saja. Dan memendam sedikit kekecewaan di hati.

Pelajaran bahasa indonesia hari ini sedikit lebih menarik. Bu Tyas membahas tentang abstraksi sastra dan nilai-nilai gairah penulis dalam tulisannya. Aku yang biasanya terkenal acuh saat pelajaran, kini sedikit lebih fokus saat Bu Tyas mengajar. Pada pertengahan pelajaran konsentrasiku sedikit buyar ketika mendapati sebuah pesan singkat masuk dalam Hpku.

“Juna, pulang sekolah nanti temuin aku di tempat pertama kita bertemu. Novella.”

Jadi wanita itu adalah Novella. Anak yang menjadi buah bibir disekolah karena memenangkan penghargaan seni dari sebuah universitas swasta. Hatiku berdegup sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hawa panas mulai mengalir dari dada hingga ke seluruh penjuru tubuh. Inikah cinta? Ataukah ini hanyalah ilusi belaka? Dari semua perasaan dan pikiran yang berkecamuk saat ini akhirnya sebuah jawaban yang tidak terduga melintas dihadapanku.

“Juna”

“Eh.. iya Bu”

“Apa yang dapat kamu simpulkan dari pelajaran kita hari ini?”

“Maaf menyimpulkan tentang apa Bu?”

“Tentang unsur mana dalam novel ini yang menunjukkan bagian paling romantis menurutmu?”

“Emm… Bagian yang menarik dari novel ini adalah bagaimana letak tata kota digambarkan oleh lebah yang berpergian dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Jadi kurasa sang penulis menginginkan kita menyelarasan sudut pandang kita, tidak dengan sudut pandang Tuhan, melainkan dengan sudut pandang serangga. Makhluk terkecil dan paling sederhana di bumi ini. Suatu harapan kecil yang pantas untuk diperjuangkan yang mana merupakan unsur yang cukup romantis menurut saya.”

Seluruh isi kelas sedikit tercengang dengan jawabanku. Bahkan Bu Tyas sendiripun sempat merasakan hal tidak biasa dalam diriku.

“Menarik sekali Juna. Kamu dapat menyimpulkan hal paling tidak terduga yang bahkan Ibu sendiri tidak bisa melihatnya, dan aku rasa kamu sudah mendapatkan judul untuk makalahmu nanti.”

Bel tanda sekolah telah usai mulai menggema dari ujung lorong kelas yang semula sepi. Kini dipadati dengan anak-anak yang berjubel keluar kelas. Beberapa dari mereka langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebagian lainnya mengikuti beberapa ekskul.

Novella telah menungguku di atas gedung sekolah. Kali ini dia tidak menghisap rokok lagi, tapi memandang jauh ke arah kerumunan anak-anak dari tempat yang biasanya aku gunakan.

“Tempat yang bagus untuk melihat pemandangan sekitar, khususnya kerumunan anak-anak dibawah.”

“Ya, darimana kamu tau nomer Hpku?” Tanyaku sambil mendekatinya.

“Aku punya banyak teman, jadi kurasa tidak terlalu sulit untuk mendapatkan nomer dari anak yang aneh dan misterius sepertimu.” Katanya dengan diikuti senyum kecil.

“Kalau begitu aku tidak terlalu misteruis dong hehe.”

“Jalan-jalan yuk, ada tempat yang bagus untuk kita nongkrong.” Timpanya sembari menarik lenganku.

Benar saja, ia membawaku ke cafe dengan pemandangan eksotis gunung sindoro. Tempat yang cukup nyaman untuk saling mengobrol, membicarakan banyak hal sampai layung senja hadir.

“Ve, menurut kamu apa yang pantas diperjuangkan dalam hidup?”

“Tergantung, kamu kok aneh tanya-tanya kaya gitu?”

“Yah, aku punya masalah dengan motivasi.”

“Serius?”

“Orang lain mungkin takut akan kematian, tapi aku takut untuk hidup.”

“Lalu kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi denganku.”

“Hmm memang aneh dirimu, hei bisa kulihat gambar yang selalu kamu buat disetiap pelajaran sekolah?”

“Tentu saja.” Kataku sambil mengambil sketch book milikku.

Ia memandangi lembar demi lembar. Seakan sedang membaca tiap detil makna dari goresan pada objek yang aku buat. Mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan olehku. Sesuatu tentang diriku yang ada dalam goresan-goresan itu. Sesuatu yang dapat menjelaskan atas segala pertanyaanku tentang kehidupan.

“Kamu punya masalah dalam hidup.”

“Yah, untuk seorang rebellian sepertiku wajar saja .”

“Gambaranmu ini menyimpulkan banyak hal, tentang amarah, kekecewaan, dan kesedihan mendalam.” Katanya sesaat sebelum meminum secangkir cappucino yang ia pesan.

“Kamu itu sensitive artist.” Timpanya lagi.

“So, any advice?”

“Carilah sesuatu atau seseorang untuk kamu sayangi. Jika dunia tidak bisa menerimamu, paling tidak yang kamu sayangi itu akan membuatmu tegar berdiri menghadapi segala sesuatu yang ada.”

Aku hanya terdiam. Tak tahu jawaban atau pertanyaan apa lagi yang harus kulontarkan padanya. Aku manusia yang antisosial. Bagaimana caraku menemukan sesuatu atau seseorang untuk kusayangi? Meski telah kunaikkan adrenalin di kepalaku, tetap saja tak ada solusi atas pernyataan Ve barusan.

“Ga usah diambil pusing dulu, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa nemuin itu kok.” Kata Ve untuk menyemangatiku.

Kata-kata Ve tadi masih mengiang di kepalaku. Apalagi setelah pulang ke rumah, bukannya kunjung mereda, tapi malah semakin meninggi intensitasnya. Ah seandainya saja menemukan sebuah jawaban sama dengan membalikkan telapak tangan, sudah tentu umat manusia akan hidup dalam ketentraman. Kucoba mengubur segala keruwetan ini dengan menggambarkan beberapa objek abstrak di atas kanvas. Pada awalnya cukup efektif, namun kelamaan malah terlalu banyak mengambil tenagaku. Hingga akhirnya aku tertidur di meja belajar.

Hubunganku dengan Ve jadi semakin dekat. Sudah dua bulan ini kami menghabiskan waktu bersama. Membicarakan banyak hal yang semakin hari semakin asik untuk diperbincangkan. Ternyata ia jauh lebih menarik dari yang dulu aku bayangkan. Ia dapat memahami diriku sepenuhnya meski sudut pandang kami berbeda. Namun perasaanku untuknya masih tetap menjadi rahasia antara aku dan Tuhan.

Sebenarnya beberapa hari belakangan ini aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Sampai suatu ketika Ve mengajakku pergi ke pesta ulang tahun temannya. Semula aku tidak yakin berangkat bersamanya, namun dengan sedikit paksaan dari Ve akhirnya kami pergi juga. Tak kusangka pestanya lumayan meriah. Rasa nervous berbaur dengan pening yang tadi kutekan karena Ve kini meledak lagi. Gugup tak karuan, hingga membuatku seperti orang tolol. Ve terus saja menggenggam tanganku, membawaku berputar-putar ke seantero sudut pesta, dan mengenalkanku pada teman-teman terdekatnya.

“Juna kamu sakit apa? Muka kamu pucet banget deh, udah gitu ada rona merah disekitar pipi kamu.” Kata Ve ketika kami duduk di sudut ruangan pesta.

“Oh, ga apa-apa kok, tadi blom makan sih hehe” kataku sambil tersenyum kecil.

“Beneran nih? Kita pulang aja ya, aku takut kamu kenapa-kenapa.”

“Ga apa-apa kokVe, udah tenang aja aku udah biasa kok kaya gini.”

Meski aku berusaha untuk meyakinkan Ve, namun tetap saja ia sedikit khawatir padaku. Rona kecemasannya tergurat diwajahnya, apalagi saat tubuhku mulai susah untuk berdiri tegak. Kini pandanganku mulai kabur dan nafasku mulain terengah-engah. Tenaga yang ada mulai tak kuasa lagi menopang berat tubuhku. Semuanya menjadi gelap.

***

Aku melulu menagis sendu didepan ruang ICU. Jika saja tadi Juna tidak aku ajak pergi, mungkin kejadian ini bisa dihindari. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Juna? Dia tidak pernah bercerita jika memiliki gangguan kesehatan atau perihal-perihal lainnya.

Dua jam berselang dokter dan beberapa perawatnya keluar dari ruang ICU. Mereka berdiskusi kecil sembari melanjutkan langkah mereka menuju kearahku.

“Ada kerabat atau seseorang yang dekat dengan saudara Juna tidak disini?”

“Saya, saya teman dekat Juna Dok.” Kataku lirih karena menahan air mata yang sejak tadi terus mengalir.

“Begini mbak, apa mbak tau keadaan Juna belakangan ini?”

“Tidak Dok, yang saya tahu ketika kami hendak pergi pulang wajahnya pucat sekali Dok.”

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Juna Dok?” Tanya Arya teman sekelas Juna dan juga sahabat dekatku.

“Begini, saudara Juna ini seorang Odipus, atau dalam kata lain dia menderita penyakit Lupus tipe SLE yang mana membuat produksi sistem kekebalan tubuhnya berlebihan sehingga merusak jaringan tubuhnya sendiri. Sekarang saudara Juna sedang dalam kondisi kritis sehingga usaha yang kami lakukan mungkin tidak banyak membantunya.”

Tangisku kembali pecah ketika mendengar perkataan dokter seperti itu. Jujur aku tidak ingin kehilangan Juna. Apalagi belum kuutarakan perasaanku padanya. Perasaan yang kupendam sejak pertama bertemu dengannya. Aku menyesal, bahwa seharusnya sudah dari dulu aku ungkapkan kalau aku menyukainya. Apalagi akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu bersama. Oh Gusti, jika engakau mendengar do’aku berikanlah sedikit keajaiban agar Juna dapat terbangun dari masa sulitnya, dan jika memang cinta adalah perasaan yang membahagiakan, janganlah engkau biarkan cinta itu tak terungkapkan.

Tak berselang lama, orang tua Juna datang dari Bandung. Perasaan mereka bercampur aduk tidak karuan mengetahui anaknya terbaring koma di rumah sakit. Aku masih terus menangis meski beberapa teman mencoba untuk membuatku tetap sabar menerima keadaan. Sementara Arya dan Dika mencoba memberitahukan kondisi dan kejadian sebelum Juna koma.

Sudah enam hari Juna terbaring koma di rumah sakit. Dari perkembangan yang aku dengar kondisinya masih saja labil, terkadang baik namun di lain waktu memburuk. Ibu Juna bercerita jika sejak Juna divonis mengidap penyakit Lupus, Juna selalu menutup dirinya dengan pergaulan dunia. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di kamar. Melukiskan berbagai hal-hal yang sedang ia rasakan. Oh aku harap aku dapat menjadi orang yang paling dekat dengannya, menjadi orang yang paling mengerti tentang segala macam masalahnya, dan menjadi orang yang paling menyayanginya.

Pagi mendung dengan cuaca amat dingin, ditambah kabut tebal yang mulai menutupi jalanan membuatku sedikit takut untuk keluar rumah. Aku masih terus memikirkan keadaan Juna disana. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah. Aku berjalan kearah depan rumah dan membuka pintu.

“Apa ini benar rumah Novella?” Tanya seorang pria yang mengetuk pintu rumahku. Ia terlihat membawa sebuah bungkusan besar dan panjang.

“Iya benar, ada yang bisa saya bantu Mas?”

“Ini ada paket kiriman untuk Novella” Sembari menyerahkan paket kiriman itu.

“Kiriman dari siapa Mas?” Tanyaku karena sedikit kebingungan.

“Wah saya tidak tahu Mba, kerena pengirimnya hanya mencantumkan alamat yang dituju saja. Tapi ini ada sepucuk surat yang dibawakan bersama paket ini Mba.”

“Oh iya, terimakasih ya Mas”

Kututup pintu depan rumah, seraya membuka paket misterius tersebut. Aku kaget bukan kepalang. Isi dari paket itu adalah sebuah lukisan. Lukisan wajah seorang wanita yang mirip sekali denganku. Segera saja aku buka surat yang dikirim bersama paket ini dan membacanya.

lukisan juna

Dear Novella, entah bagaimana lagi harus kukatakan karena sejujurnya aku bukanlah seorang penulis yang puitis. Tapi aku ingin ketahui bahwa engkau telah berhasil merubah duniaku yang gelap kelabu menjadi lebih berwarna. Harusnya kukatakan ini sejak lama, namun sulit sekali kuungkapkan karena aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Aku sangat menyayangimu. Aku inginkan kamu untuk berdiri disisiku dalam satu garis warna pelangi. Lukisan itu mendeskripsikan segala macam perasaanku padamu. Mungkin sedikit sulit dipahami karena itu adalah lukisan abstrak. Namun aku yakin kamu dapat membaca isyarat dari tiap goresannya. Aku yakin aku akan mampu memahaminya. Karena meskipun bahasa tak bisa menjadi jembatan antara kita, hatilah yang akan menghubungkan kita, sebarapapun jarak memisahkan kita.

Juna

Air mataku jatuh perlahan. Ternyata Juna juga memiliki perasaan yang sama denganku, dan ia mencurahkan segenap perasaannya dalam lukisannya ini. Kusentuh tiap lekuk goresan dalam lukisan Juna. Aku menangis sendu dan dalam hati ini kukatakan bahwa aku juga mencintaimu Juna.

Tanpa kusadari Hp yang kutinggalkan di kamar terus saja berdering. Itu telepon dari Ibu Juna. Aku hanya menatap lukisan Juna dengan tangis akan nasib yang telah tertuliskan di garis maris telapak najam. Juna, seandainya kamu ada disini, akan kukatakan bahwa engkau telah menawan hatiku dari dulu dan engkau pulalah yang telah menanamkan bunga seribu musim di dadaku. Kini datang sebuah pesan singkat dari Ibu Juna. Ia mengatakan bahwa Juna telah meninggalkanku untuk selamanya di dunia yang fana ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s