sebuah-catatan

Angin Santer Di Cicaringin

Layaknya sungai, terkadang tenang terkadang bergelombang, beringsut dari hulu hendak bersua samudera nan biru, meski terkadang keruh. Melarungkan asa, membiarkan riaknya mengalir begitu saja, berserah kepada takdir, untuk sebuah harapan, dan cita-cita.

Fajar menghujam pagi dengan gigil sepi, kabut-kabut merayap di dedaunan, ke batu-batu, hingga menembus pintu. Menjadi mata dan telinga yang menyimak percakapan-percakapan, canda tawa memecah keheningan, lalu lesap ditelan mentari mengusaikan sunyi.

Inilah kisah, tempat di mana anak-anak negeri punya semangat yang merah, memiliki hati putih untuk menyambut hari nan cerah. Tak pernah gusar untuk belajar, mengakrabi alam.

Embun-embun menjelma bara, di balik beningnya mata, mereka, putra putri Ibu Pertiwi yang berbekal kesungguhan hati. Betapa pun aral menajam menghalangi kaki-kaki mungil, meski derit jembatan bikin gusar langkah-langkah yang berpijak di kayu rapuh, lalu limbung, menjadikan semakin dekat dari pagutan maut, tapi tiada kata jera untuk mengabadikan ilmu di kepala. Sungguh jiwa yang demikian luhur.

Tuan dan Puan, lekas lihat, cobalah tengok peluh yang bercucuran dari dahi dan parasnya. Bukankah mereka adalah harapan Indonesia, penerus bangsa? Bahkan langit saja mendadak sendu kelabutua, menyaksikan geletar persendian kaki anak-anak itu dicekau angin santer.

Tuhan, rengkuh dan dekaplah, jangan Kau tunjukkan betapa buasnya semesta, berikan cahaya yang menjembatani untuk langkah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s