Bayang Lengang

Lengang. Di beranda hanya gemerisik daun-daun yang berkelakar dengan sepertiga angin, dua kursi, dan meja yang hanya ada tatakan. Jangankan dua cangkir teh, satu cangkir pun tak. Hujan telah reda, sementara senja telah mengesumba di kaki langit barat teja. Sisa-sisa hujan masih bergelantungan di ujung genting, berdenting, jatuh satu persatu seperti air mata yang runtuh. Senja saga, matamu yang jingga, tempat segala bahagia dan duka yang purba tertanda. Apakah aral terlalu garang, sayang, sementara rindu telah kujerang? Aku merindukan sepasang kaus kaki dan dasi yang selalu kau siapkan saban pagi. Aku merindukan senyum terindahmu, saat menyambutku sepulang kerja di ambang pintu. Tapi kini rindu seakan terdampar di pantai hatimu, terasing bersama sepi yang sunyi dalam melulu pilu.

lukisan juna

“Ada sungai mengalir di pipimu yang salju, terus mengalir menuju semi, saat daun meranggas bersama bayang-bayang kenangan. Kau dengan dukamu, aku dengan lukaku. Biarkan duka dan luka kita menemu jalannya masing-masing”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s