Dreamer-Girl

Ilusi

Malam yang hening, bagi Dita, kendati lamat-lamat bising kendara lalu-lalang di jalan raya terdengar sampai ke ruangan perkantoran. Perempuan berambut sebahu dan berkulit sawo matang ini tengah menatap langit malam Jakarta yang tengah terang purnama, dari jendela kantornya yang terletak di lantai Sembilan. Entah apa yang ada di benaknya, dia nampak begitu khidmat, dan begitu larut akan lamunannya sendiri. “Bulan, kini aku tahu seperti apa rasanya mencoba bersinar sendirian.” Dita menggumam kecil, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti ada yang hendak tumpah namun berusaha dicegah dengan keras.

“Pulanglah, Dita, kamu capek, perlu istirahat,” tiba-tiba suara Tiara, atasan Dita, memecah lamunannya, “kerjaan kamu dilanjutkan Senin saja.”

“Oh…, nggg…, tidak, Bu, tanggung,” Dita terkejut dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya, “lagi pula besok akhir pekan, dan aku butuh kesibukan ini.”

“Ya sudah, Ibu duluan, kalau perlu apa-apa masih ada Husni di belakang.”

***

Dita berjalan menyusuri trotoar menuju ke halte, malam sudah cukup larut. Meski begitu, suasana di kota ini masih ramai, Jakarta namanya, kota di mana mimpi-mimpi berseliweran dan begitu banyak yang ingin menangkapnya. Mungkin, karna itulah hingga larut malam masih seramai ini. Baru sampai Dita di halte tempat dia menunggu taksi, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.

“Iya?” Dita segera mengangkatnya.

“Kamu di mana, Dit?” Ucap Irene, teman Dita.

“Di jalan, baru mau pulang.”

“Jam segini baru pulang? Wuih, rajin banget kamu. Jadi ikut, ngga? Kami udah otw, nih.”

“Mmhh…, ngga tau deh, males aku, Ren.”

“Ayolah, jangan galau terus. Lagian percaya aja sama Inggit, nanti juga dia ngasi kabar.”

Dita terdiam sejenak, “Iya, liat nanti deh, nanti aku kabarin.”

“Sip. Take care, Darling.”

Baru saja Dita menutup telepon, kebetulan ada taksi kosong melintas, Dita buru-buru menyetop taksi itu lalu masuk dari pintu belakang.

“Selamat malam, Mbak. Ke mana tujuannya?”

“Ke daerah Mampang ya, Pak, jalan Bangka.”

Taksi melaju dengan cukup kencang. Situasi jalan raya kawasan Slipi ke arah Semanggi pada saat itu tidak terlalu ramai. Kendati baru pukul 23.15 WIB, namun suasana di jalur jalan itu tidak seramai seperti malam Sabtu biasanya. Dita sesekali melirik ke arah layar ponsel yang masih dia genggam, lalu menekan tombol satu, langsung terhubung dengan nomor Inggit, kekasih Dita. Lekas ditutupnya kembali, nomor telepon Inggit masih tak aktif. “Kamu di mana, Sayang, kenapa udah tiga hari ngga ada kabar?” Dita berucap dalam hati, mimik wajahnya penuh kecemasan.

“Maaf, Pak, kita ke arah Kota aja.” Tiba-tiba Dita mengubah arah tujuan, nampaknya dia hendak menyusul teman-temannya ke sebuah club malam di bilangan Mangga Besar. Dita masih mengenakan kemeja, tapi dia memakai celana jeans. Jadi, dia pikir tak perlu pulang dulu ke rumah untuk mengganti pakaian. Buang-buang waktu pikirnya.

***

“Good morning everybody, welcome to…”

Tiba-tiba suara DJ memecah kebisingan, serentak semua orang bersorak penuh semangat, hentakan kaki para clubbers bikin tambah meriah suasana.

“Kok diem aja, kamu BT ya, Dit?” Tanya Kandar dengan sedikit berteriak karna bising.

“Iya, kamu ngga neken?” Sambung Irene.

“Ngga, nyantai aja, aku lagi ngga mood, minum juga cukup, kok.”

“Beneran? Aku beli cece buat kamu juga, nih.” Ujar Romi sembari merogoh kantong.

“Ngga, ngga, ngga usah.”

“Pokoknya have fun ya malam ini. Jangan galau teyuuus!” Ujar Irene sambil mencubit lembut pipi Dita.

Tetap saja, Dita lebih banyak diam dan tidak berdansa seperti biasanya. Pikirannya malah menerawang jauh, sebab di club malam ini ialah tempat kenangan dia dan Inggit, kekasihnya yang sudah tiga hari tanpa kabar itu. Dita dan Inggit telah sepuluh bulan menjalin hubungan khusus, mereka sangat saling menyayangi, saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Tapi, sejak Inggit dipindah-tugaskan bekerja ke Batam, Dita kerap galau, terutama tiga hari terakhir ini semenjak Inggit tak ada kabar sedikitpun, tidak seperti biasanya. Dita sudah berusaha mencari kabar ke keluarga Inggit, tapi hasilnya nihil, malahan keluarga Inggit ikut-ikutan cemas. Dita percaya kepada Inggit, kekasihnya tak mungkin berselingkuh di belakangnya.

“Aku duluan, ya.” Tiba-tiba Dita berpamit.

“Lho, mau ke mana, Dit?” Irene dan yang lainnya terperanjat.

“Aku beneran lagi ngga mood, aku duluan, ya.”

“Yakin, kamu ngga apa-apa, kan?” Tanya Romi dengan nada cemas.

“Iya, yakin. Udah, kalian lanjut aja, nanti malah parno lagi.”

Irene berbisik kepada Romi, “Anterin Dita dong, Rom. Kasian dia pulang sendirian.”

“Ngga usah, ngga apa-apa kok, aku pulang sendirian aja naik taksi.” Dita mendengar Irene yang meminta Romi untuk mengantar dia.

***

Sabtu sore yang mendung. Nampak Dita duduk di sudut cafe bilangan Thamrin seorang diri. Dia menyulut rokok sembari asyik memainkan telepon genggamnya dengan sesekali menyesap jus stroberi. Dita begitu cantik mengenakan blus biru muda, kontras dengan warna langit senja kala itu dengan arakan awan kelabu.

“Hei, Dit!” Ical, teman sekantor Dita menyentuh pundaknya.

“Hei!” Dita terkejut, ponsel yang tengah dia pegang sampai terlempar.

“Aduh, aduh, maaf bikin kamu kaget.” Ical lekas mengambilkan ponsel dan duduk di kursi depan Dita.

“Hehehe. Iya ngga apa-apa, akunya juga sih keasyikan mainin hp. Kamu mau pesan apa, Cal, mau makan, minum?”

“Ngga, aku tadi udah makan, kok. Mana berkasnya?”

Dita mengelaurkan berkas pekerjaan yang akan dipresentasikan Senin nanti, “Beneran nih ngga apa-apa, Cal?”

“Iya ngga apa-apa, udah deh nyantai aja. Kamu udah dapet tiket?”

“Mmhh, udah dapet sih, tapi aku ngga yakin mau ke Batam besok.”

Ical menatap sendu paras Dita yang begitu cantik, lalu memegang tangan perempuan berhidung bangir itu di atas meja, “Kamu udah siap menerima kemungkinan yang terjadi?”

“Maksud kamu?” Dita menarik tangannya, menepis tangan Ical.

“Ya, kemungkinan, bisa aja Inggit selingkuh, atau pergi entah kemana.”

“Cukup! Hentikan, Cal. Aku percaya Inggit, kok.”

“Maaf, Dit…, aku…, aku masih mau kok kalo kamu bersedia menerima cintaku.”

“Tidak, Cal. Banyak perempuan lain yang lebih baik dan cantik, jangan lagi berharap aku menerima cintamu, aku ini lesbian!”

Suasana hening sejenak. Ical tertunduk  tak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya, Ical sudah cukup lama mencintai Dita, sudah berkali-kali pula dia meyakinkan Dita untuk menerima cintanya. Tapi Dita memang tidak menyukai laki-laki.

“Maaf, aku ngga bermaksud. Tapi aku benar-benar ngga bisa menerima cintamu, Cal. Please, ngertiin aku.”

“Iya ngga apa-apa, Dit.”

“Ya udah, aku mau pergi dulu, ya.”

“Mau ke mana kamu?”

“Aku janjian sama Irene di Menteng. Mau ikut?”

“Oh, ngga, aku juga udah janjian sama temen-temen.”

“Yo wes, yuk pergi dari sini. Makasi ya, Cal.”

***

Angie, Angie, when will those clouds all disappear?

Angie, Angie, where will it lead us from here?

With no loving in our souls and no money in our coats

You can’t say we’re satisfied

But Angie, Angie, you can’t say we never tried

Angie, you’re beautiful, but ain’t it time we said good bye?

Angie, I still love you, remember all those nights we cried?

All the dreams we held so close seemed to all go up in smoke

Dita dan Irene duduk di dekat tiang dan meja billiard, beberapa meter dari band yang sedang tampil membawakan lagu berjudul Angie, yang dipopulerkan oleh Rolling Stones, sambil menikmati Blue Hawaii: cocktail dengan campuran rum, blue currant, jus nenas dan lemon yang dibikin shake di cafe kawasan Menteng. Meski cafe yang dikunjungi mereka terbilang kecil, tapi cukup ramai pengunjung. Konsep cafe ini mengikuti ide CBGB, sebuah cafe di New York, tempat main band-band rock n roll. Tempatnya sesak, kecil, asap di mana-mana dan bau alkohol.

“Hahaha. Ical masih aja nembak kamu?”

“Tauk tuh, bingung aku juga.”

“Kamu peletnya kuat sih, Dit.”

“Ye, enak aja!” Mereka tergelak-gelak asyik sendiri.

“Permisi, Kakak, ini pesanannya.” Seorang waitress mengantarkan pesanan Dita dan Irene.

“Oh iya, makasi, Mas.” Irene menyunggingkan senyum.

Mereka berbincang-bincang asyik, sembari mereguk tequila bergelas-gelas, lupa waktu. Irene sedikit lega melihat sobat karibnya dapat tertawa malam itu, meski terkadang tiba-tiba terdiam, ketika begitu, Irene langsung mengalihkan pikiran Dita dengan menceritakan hal-hal apa saja.

Tidak terasa sudah berjam-jam Dita dan Irene di sana, entah sudah berapa gelas minuman beralkohol yang direguk, mereka sudah cukup mabuk. Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi, tanda ada pesan masuk. Irene segera membaca pesan masuk itu.

“Eh, Romi udah di parikiran, nih.”

“Loh, emangnya dia ke sini?”

“Iya, tadi sms, mau ngajak ke Kemang katanya. Yuk, Dit.”

“Duh, males ah.”

“Ye gimana, Romi udah jemput, nih.”

“Ya udah kamu aja, aku di sini aja.”

“Masa’ aku ninggalin kamu sendirian, yang bener dong, Dit.”

“Ngga apa-apa, lagian aku emang pengen sendirian.”

“Jangan dong, udah yuk ikut. Atau aku minta Romi ke sini aja ya, kita batalin ke Kemang.”

“Duh, jangan, Ren, jangan gitu. Beneran aku ngga apa-apa, aku emang lagi males rame-rame, beneran ngga apa-apa, aku bisa jaga diri, kok.”

“Beneran, nih?”

“Iyaa bener, Sayang… Udah buruan, kasian tuh Romi nungguin.”

“Ya udah, kamu baik-baik ya, kalo ada apa-apa telepon aku aja.”

“Sip!”

Setelah cipika-cipiki Irene meninggalkan Dita dengan perasaan cemas. Percuma juga membujuk Dita, dia sudah tahu betul watak temannya itu.

“Mas, pesan tequila lagi, ya.” Dita kembali memesan minuman.

Cukup lama Dita di cafe itu, dan dia juga sudah cukup mabuk. Dia kenal dengan beberapa orang di sana, karna itulah Dita berani di sana seorang diri. Dita beranjak dari duduknya, berjalan sempoyongan ke arah toilet.

“Sial, pas aku berdiri berasa banget mabuknya. Aduduh…!” Dita nyaris ambruk, namun tiba-tiba ada yang merangkul.

“Hati-hati, Sayang!”

JRENG! Dita terperanjat, di sebelahnya, ternyata Inggit yang merangkul! “Inggit?!”

“Iya, ini aku,” Inggit tersenyum manis dan memapah kekasihnya itu, “ayo, kita keluar dari sini, kamu udah mabuk banget.”

***

Di ranjang kamar hotel, yang terletak tak jauh dari cafe rock n roll tadi, Dita masih tak percaya menatap Inggit yang rambutnya sudah sepinggang, panjang dan semakin cantik. Dia tak yakin akan pemandangan di hadapannya itu, apakah karna mabuk, atau memang Inggit.

“Kamu…”

“Iya, ini aku! Emangnya kamu udah ngga ngenalin aku lagi?”

Dita langsung memeluk Inggit, erat sekali, air matanya tumpah tak terbendung, “Kamu ke mana aja, Sayang? Aku kangen…”

“Maaf kalo bikin kamu cemas, aku ada kok, ngga ke mana-mana.” Inggit membelai rambut Dita, lembut sekali.

“Kok ngga ada kabar, sih? Aku hubungi hp kamu ngga pernah aktif, kamu ke mana?”

Tanpa menjawab pertanyaan, Inggit langsung mengecup kening Dita. Mereka saling bersitatap sejenak, lalu mendaratkan kecupan di bibir, saling pagut, saling melumat berciuman dengan begitu hangat, penuh kerinduan. Tanpa kata-kata lagi, malam itu mereka bercumbu melepas rindu.

***

Pukul 07.45 WIB Dita terjaga, dan meraba-raba sisi kirinya, lalu terkejut di sebelah tak dia dapati siapa-siapa. Dita bangkit terduduk memperhatikan sekitar tak ada siapa-siapa, hanya mendapati pakaiannya yang tanggal. Dia beranjak ke kamar mandi, siapa tahu Inggit berada di sana pikirnya. Namun kamar mandi pun kosong. Lalu Dita bergegas mengambil telepon genggamnya, mencoba menghubungi Inggit, tapi lagi-lagi nomor ponsel Inggit tak aktif.

“Duh, kamu ke mana, sih? Menghilang terus!”

Dita memakai pakaiannya dan duduk di atas ranjang sembari menonton televisi, menunggu Inggit. Dia pikir, barangkali Inggit hanya keluar sebentar, membeli makanan mungkin. Namun sampai pukul 08.30 batang hidung Inggit tak juga nampak. Dita mulai gusar. Dia mencoba menelepon Irene, menanyakan kalau-kalau Inggit menghubungi sobat karibnya itu. Beberapa kali terdengar nada sambung, tapi tiada jawaban.

“Dasar kebo! Pasti ini anak masih tidur, deh.” Dengan kesal Dita mematikan panggilan yang tak ada jawaban. “Apa Inggit balik lagi ke Batam, ya?” Tiba-tiba terlintas di benaknya seperti itu.

Dita teringat mempunyai tiket ke Batam pukul 13.35 nanti. Lalu buru-buru pergi dari kamar berniat hendak menyusul Inggit yang menurutnya telah kembali ke Batam. Ketika di lobi, Dita sempat menanyakan tentang Inggit, tentang atas nama siapa kamar yang dia tempati tadi, tetapi kata resepsionis kamar itu dipesan atas nama Dita, dan tak tahu dengan siapa dia semalam, karna resepsionis yang bertugas berbeda dengan yang semalam. Lalu dia bergegas keluar hendak menuju rumahnya, terburu-buru, pasalnya dia tak ingin ketinggalan pesawat terbang yang akan dia tumpangi.

***

Pukul 15.10 WIB Dita telah mendarat di bandara Hang Nadim. Dia tidak membawa banyak barang, hanya membawa koper kecil dan tas yang dibawa sehari-hari. Tidak ingin membuang-buang waktu, Dita segera menaiki taksi dan menuju ke alamat yang pernah Inggit berikan.

“Ke Nagoya ya, Pak.”

Empat puluh menit berlalu, setelah sedikit berputar-putar akhirnya Dita berhasil menemukan alamat yang pernah diberikan Inggit. Kost-kostan rupanya. Dita segera masuk dan bertanya kepada seorang perempuan, penjaga kost tersebut.

“Permisi, saya mau nanya, Mbak.”

“Oh iya, mau nanya apa, Mbak?”

“Kamar Inggit yang mana ya?”

“Oh, Inggit, itu, di kamar yang sebelah sana,” penjaga kost itu menunjuk ke sudut sebelah kanan, “kamar ke dua dari yang paling ujung. Tapi kayaknya Mbak Inggit ngga ada tuh, Mbak. Udah beberapa hari ngga keliatan.”

DEG! Jantung Dita berdetak kencang, dia tiba-tiba berfirasat buruk. “Baiklah, makasi ya, Mbak. Aku coba ke sana dulu.”

Dengan tanpa henti berdebar Dita mendekati kamar itu, hingga akhirnya tepat di depannya. Perlahan dia mengetuk pintu, “Git, Inggit, ini aku, kamu ada di dalam, kan?” Sekali, dua kali, tapi tetap tak ada jawaban. Dita tertunduk lemas, matanya merah berkaca-kaca dan langsung berlinang air mata. Disekanya air mata lalu berjalan ke luar.

“Gimana, Mbak, orangnya ada?” Penjaga kost itu bertanya.

“Ngga ada, Mbak. Pesen aja kalo nanti Inggit pulang, Dita datang ke sini.”

“Iya, Mbak, nanti aku sampaikan.”

“Makasi ya, Mbak, aku permisi dulu.”

***

Dita baru saja selesai berdandan, minimalis, tidak memakai make up yang berlebihan juga hanya memakai jeans dan kaos. Meninggalkan kamar hotel hendak pergi ke bar yang masih terletak di sekitaran hotel juga. Dita masih di Batam, dia keesokan harinya berencana akan ke kantor Inggit, ingin mencari tahu keberadaan kekasihnya itu di tempat Inggit bekerja. Tiba di bar, Dita langsung memesan minuman beralkohol, duduk di depan bartender.

Dita minum bergelas-gelas scotch, tanpa mempedulikan suasana, tanpa mempedulikan laki-laki yang mendekatinya. Hingga laki-laki yang berusaha mendekati Dita tersebut pergi karna diacuhkan, Dita masih terus saja minum tanpa henti. Dia begitu nampak stress. Mungkin, dengan mabuk, dia dapat meringankan beban, pikirnya begitu.

“Hadeuh, kebelet pipis lagi,” Dita beranjak, “toilet di mana ya, Mas?” Lalu bertanya kepada waitress.

“Di sebelah sana, Mbak.” Waitress menunjuk ke sudut kiri.

“Makasi.”

Dengan sempoyongan Dita berjalan ke arah toilet yang ditunjukkan oleh waitress tadi, ada dua pintu berhadap-hadapan yang bertuliskan ‘toilet’, lalu masuk begitu saja ke pintu sebelah kiri.

“What are you doing here? Do you want to sneak peek?!” Seorang bule laki-laki yang sedang buang air kecil terkejut melihat kehadiran Dita.

Dita kaget bukan main, ternyata itu toilet lelaki, “Ups, sorry!” Buru-buru Dita keluar dari toilet, menabrak pintu, tersandung dan jatuh.

Bule itu menggeleng-gelengkan kepala sambil cengengesan, “Crazy woman!”

Tiba-tiba Inggit berdiri di hadapan Dita yang masih terduduk, perlahan Dita yang belum menyadari kehadiran Inggit melihat ke atas.

“Ayo berdiri.” Inggit mengulurkan tangan.

“Kamu…!” Dita bangkit sambil memegang tangan Inggit, lekas dipeluknya erat-erat kekasihnya itu, “Aku kangen…, kamu ke mana aja, sih?”

“Kan udah kubilang, aku ada, selalu ada di deket kamu.” Inggit membalas pelukan Dita, mencoba menenangkan kekasihnya yang tengah menangis itu.

Dita tak merenggangkan dekapan, “Bohong! Kamu pembohong!”

“Ssttt… Yuk ke kamar, kamu udah mabuk banget. Kamu nginep di hotel ini, kan?”

Dita mengangguk. Inggit memapahnya berjalan ke arah kamar hotel tempat Dita menginap. Setibanya di kamar Dita direbahkan oleh Inggit perlahan, lalu beranjak.

“Hei, kamu mau ke mana lagi, sih?” Dita menarik tangan Inggit.

“Ngga, Sayang, aku ngga ke mana-mana, udah kamu bobo’an aja.”

“Awas kamu kalo pergi lagi, sini, temenin aku!”

“Iya. Duh, manja banget sih kamu ini,” Inggit merebahkan diri di samping Dita, “omong-omong, kamu ngapain di sini?”

“Kok nanya gitu? Ya nyariin kamu, lah! Kamu udah ngga sayang aku, ya?” Dita merengut.

“Cup cup cup. Kata siapa, aku sayang banget sama kamu, makanya aku ada di sini sekarang.”

“Makanya, udah dong, kamu jangan menghilang lagi, aku butuh kamu.”

Inggit terdiam sejenak, “Udah, kamu bobo, gih. Muka kamu kucel banget tuh.”

“Iya. Tapi kamu jangan ke mana-mana, ya.”

“Iya, Sayang…” Inggit mengecup kening Dita.

***

Hari sudah pagi, Dita masih terlelap, dia seperti sedang tersenyum, dari parasnya Dita seperti sedang bermimpi indah. Sementara di sampingnya kosong, tiada Inggit. Di lobi nampak seorang lelaki yang tengah membaca koran, membaca berita pembunuhan.

“Pihak berwajib telah memastikan korban mutilasi di daerah Mata Kucing, Batam, lima hari lalu bernama Inggita Rahayu, penduduk asli Jakarta,” Ucap lelaki itu membaca koran, “duh, kasihan perempuan ini.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s