Di Jalanan, Di Rumah

Di jalanan. Lampu-lampu berbaris seperti tentara berbaris menyambut kendara borjuis pakai mesin tak pakai mesin berantai berjalan dirantai seperti anjing melolong terkaing-kaing di ujung kampung yang tak banyak pohon rimbun tempat angin berbisik menyampaikan surat cinta palsu, janji palsu, dan diterbangkannya daun ke depan pintu yang menguning−sekuning gigi bandot jelek mengumpat putain pada kaleng kosong di lorong dengan selongsong Continue reading Di Jalanan, Di Rumah

Advertisements

Histeria Usia

 

keberangkatan
setajam Waktu, setipis
selaput kabut yang koyak
oleh histeria.

namun keberangkatan
tak pernah Lepas dari laju.
di sana pula hingar dan senyap
kerap bertemu.
dan yang jauh di angan,
pada perjalanan,
perkenalanperkenalan yang akan
menancapkan ide bahwa Istirah ialah penting.

“biarkan semua sunyi tanpa kata,” ucapmu.

pada langkah ke-25.
kamu kian mengerti apa makna
dari berbagi keheningan,
kendati tanpa denting gelas Château
de St.-Cosme Gigondas Valbelle,
atau botol Scotch yang tumpah.
maka bising usia,
tak pernah terasa senja.

Puisi ini untuk sahabatku, Sarah Chyntia Wijaya
Selamat merayakan pertambahan usia
Semoga kenangan yang kau tinggalkan tetap membekas di hati kami
We miss you Nta.


Rahbar: Kesempurnaan Kodrati Wanita Dalam Hijab

rahbar

Hijab adalah sebuah norma yang sejalan dengan kodrat manusia. Sedangkan budaya ketelanjangan, gerakan menuju pembauran yang lebih antara dua kelompok gender dan keterbukaan tanpa batas antara mereka adalah gerakan yang bertentangan dengan kodrat dan tunutan alamiah manusia.

Sesuai maslahat dan keharmonisan hidup antara laki-laki dan perempuan, Allah Swt menentukan suatu pranata natural yang memungkinkan keduanya untuk bersama-sama mengelola kehidupan dunia. Allah menetapkan kewajiban-kewajiban dan hak-hak tertentu untuk masing-masing gender. Contohnya ialah lebih ketatnya hijab perempuan daripada hijab laki-laki. Pada laki-lakipun juga ada ketentuan hijab yang harus diindahkan, dan menutup sebagian anggota tubuhnya. Namun, ketentuan hijab bagi perempuan lebih ketat. Ini karena kelembutan bawaan fisik dan mental perempuan menjadi cermin keindahan dan daya tarik alam semesta. Supaya masyarakat terjauhkan dari kebobrokan, kaum perempuan harus terlindungi oleh hijab. Berbeda dengan perempuan, dalam hal ini laki-laki jauh lebih bebas. Dan inipun tak lain juga karena spesifikasi karakter laki-laki, dan karena ketentuan itu memang sesuai dengan keharmonian alam dalam pandangan Allah Swt.

Keindahan Dalam Islam

Islam sangat memperhatikan faktor keindahan. Prinsip kecenderungan kepada kecantikan, keinginan mempercantik, dan ketertarikan kepada hal-hal yang cantik adalah kecenderungan naluriah. Mungkin saja hal ini relatif berbeda dengan kecenderungan kepada hal-hal yang baru. Kecenderungan kepada yang baru adalah masalah yang lebih umum. Sedangkan masalah keindahan dan pakaian adalah masalah yang lebih spesifik dimana manusia -khususnya kaum muda- tertarik kepada hal-hal yang bersifat indah.

Hijab Masalah Normatif

انّ اللَّه جميل و يحبّ الجمال

“Sesungguh Allah itu indah dan menyukai keindahan.”

Dalam berbagai kitab hadits kita tertera banyak riwayat yang membicarakan faktor penampilan. Di “Bab Nikah” dibahas panjang lebar penekanan supaya pria dan wanita menjaga penampilan. Tidak benar anggapan, misalnya, bahwa laki-laki harus selalu memangkas rambutnya. Dalam syariat, anak muda justru dianjurkan membiarkan rambutnya menghiasi kepala. Dalam hadist disebutkan;

الشَعر الحسن من كرامة اللَّه فأكرموه

“Rambut yang indah adalah anugerah dari Allah, maka hargailah.”

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw selalu menghampiri air dalam bejana untuk bercermin setiap kali akan mengunjungi para sahabatnya. Zaman itu belum ada atau tidak banyak cermin seperti yang ada sekarang, apalagi warga Madinah tergolong masyarakat tidak mampu. Jadi, setiap kali akan mendatangi sahabatnya beliau selalu bercermin pada air dalam bejana. Ini menunjukkan bahwa syariat Islam menganjurkan umat supaya menjaga keindahan penampilan. Hanya saja, syariat mencela dan melarang penampilan yang dapat memancing fitnah, tindakan asusila, dan hedonisme.

Hubungan Antara Laki-Laki dan Perempuan

Batasan gender adalah masalah yang prinsipal bagi umat Islam. Umat Islam meyakini pembatasan ini sebagai persoalan yang mendasar, walaupun tempatnya ada di wilayah furu’. Larangan melakukan hubungan badan yang haram termasuk dalam kelompok furu’uddin. Namun soal keharusan adanya pembatas yang memisahkan antara dua kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda adalah masalah prinsipal. Kita tidak dalam rangka membahas bagaimana bentuk batasan itu. Kita bukan dalam rangka membahas apakah perempuan harus mengenakan cadar hitam (kain lebar warna hitam untuk menutup sekujur tubuh kecuali wajah, pent.) dan penutup muka, misalnya. Boleh jadi batasan ini akan berubah-ubah sesuai dinamika zaman, kondisi, dan lokasi. Yang jelas, batasan itu memang ada dan merupakan salah satu hal yang prinsipal dalam pemikiran Islam.

Masalah hijab adalah masalah norma. Masalah hijab adalah masalah yang punya nilai normatif meskipun hijab itu sendiri disyariatkian demi mewujudkan nilai-nilai yang lebih tinggi dari itu. Alasan mengapa kita selalu menjaga hijab sedemikian rupa adalah karena menjaga hijab akan membantu perempuan mencapai derajat spiritualitas yang tinggi dan jangan sampai ia tergelincir di jalan maknawiyah yang sangat licin ini.

Larangan Cari Sensasi

Antara laki-laki dan perempuan ada ketentuan hijab sebagai pembatas. Keduanya bisa berkomunikasi, berinteraksi, berdialog, dan bersahabat satu sama lain, tapi Islam menetapkan suatu hijab antara keduanya yang harus diindahkan oleh masing-masing. Islam melarang pelanggaran terhadap rambu yang membatasi hubungan antara kedua kelompok ini, mengharamkan penistaan kehormatan wanita, termasuk menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu birahi dan alat untuk memasarkan produk-produk yang penuh keglamoran.

Islam menuntut perempuan untuk memiliki kehormatan dan harga diri yang tinggi, sehingga ia tak mempedulikan apakah ada laki-laki yang memandangnya atau tidak. Dengan kata lain, perempuan dituntut memiliki harga diri sehingga baginya tak beda apakah ada orang laki-laki yang memperhatikannya atau tidak. Tentunya ini sangat berbeda dengan perempuan yang selalu berusaha menarik perhatian orang lewat pakaian, dandanan, tutur kata, dan cara jalannya.

Kematangan Politik dan Sosial Kaum Perempuan

Islam menghendaki kedewasaan pikiran, ilmu, sosial, politik dan terutama spiritualitas kaum perempuan. Islam menghendaki eksistensi perempuan di tengah masyarakat dan keluarga besar umat manusia. Ini merupakan visi yang melandasi ajaran Islam, termasuk menyangkut hijab. Hijab tidak dimaksudkan untuk memarginalkan kaum perempuan. Keliru jika ada orang yang beranggapan hijab mengucilkan perempuan. Ketentuan hijab adalah demi melindungi mereka dari pergaulan bebas, yaitu pergaulan yang berdampak sangat buruk bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan.