walking-away

Perjalanan

seorang pemuda berdiri berdampingan dengan seorang gadis
di hadapan mereka terbentang sebuah jalan
jalan yang panjang, terjal, penuh semak belukar
ada duri, mawar api, dan pecahan kaca berserak di jalan itu.

“jalan inikah yang kau pilih?” tanya sang gadis.
“kau tahu jawabanku bukan?” jawab si pemuda, tersenyum.
“kau akan terluka.”
“aku tahu itu.”
“kau akan dianggap aneh.”
“aku tak peduli itu.”
“kau akan terasing dan diasingkan.”
“kan kutanggung itu.”
“mereka akan memusuhi dan membencimu.”
“mereka bukan tujuanku.”
“kau akan difitnah dan dicaci-maki.”
“tetap aku akan berjalan di jalan ini!”
“kau akan dibunuh!”
“itu kebanggaan bagiku.”

sang gadis menatap si pemuda
bibir tipisnya menangguk senyum
merasa diperhatikan, si pemuda menoleh
garuk-garuk kepala.

“hei-hei, aku tahu apa yang kau pikirkan…” ujar si pemuda.
“oh ya?” sang gadis kerjapkan mata.
“hah-ha…, jelek-jelek gini aku menyadari batasku.”
“menurutku malah sebaliknya.”
“?”
“kau masih belum menyadarinya.”
“hum?”
“sesuatu yang ada dalam dirimu.”
“sesuatu… yang ada dalam diriku?”
“bukankah karena itu kau memilih jalan ini?”
“….”

“bukankah itu yang memandumu ke jalan ini? ke jalan Muhammad, Fatimah, Ali, Hasan dan Husain ini?”
“mmm…, begitukah?” si pemuda garuk-garuk kepala.
“karena itulah aku ada di sini, bukan?”
“hah-ha…,” si pemuda nyengir. “ya…, tentu saja…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s