selamat-natal

Ga Boleh Ngucapin Selamat Natal?

Sebetulnya udah ada beberapa teman yang cerita tentang iklan yang promosiin supaya jangan ngucapin Natal, tapi baru aja dapet link nya dari salah satu page di facebook.

“Iklan” tersebut menggunakan percakapan antara seorang muslim dan kristiani seperti berikut:

Muslim: Bagaimana Natalmu?

Nasrani: Baik. Kau tidak mengucapkan Selamat Natal padaku?

Muslim: Tidak, agama saya mengajarkan tentang pentingnya toleransi dan menghargai antar umat beragama, tapi tentang hal ini, agama saya melarangnya.

Nasrani: Tapi kenapa? Bukankah hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku.

Muslim: Mungkin mereka belum mengetahuinya. Eemm, apa kau bisa mengucapkan dua kalimat Syahadat?

Nasrani: Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya, itu akan mengganggu kepercayaan saya.

Muslim: Kenapa? Bukankah hanya sekedar kata-kata?

Nasrani: Ya, sekarang saya mengerti.

Sepintas terlihat dialog tersebut sangat berisi dan tajam dalam meng-counter pemahaman muslim yang mau dan/atau biasa mengucapkan Natal kepada kenalan, teman dan sanak famili kristiani yang merayakan Natal.

Tapi coba deh perhatikan apakah ucapan “syahadat muslim” itu memang benar-benar setara untuk dibandingkan dengan ucapan “selamat natal” ? Kita gak bisa membandingkan apel dengan duren karena tidak “setara” walau sama-sama buah.

Saya melihat ada 2 hal yang menyebabkan usaha iklan tersebut untuk membandingkan ucapan “syahadat muslim” dengan ucapan “selamat natal” itu terlalu memaksakan diri.

Pertama, seorang kristiani yang mengucapkan syahadat itu beda dengan jika dia mengucapkan “selamat syahadat” kepada seorang yang baru masuk Islam. Kalau dia mengucapkan “selamat syahadat”, itu murni hanya mengucapkan selamat saja tanpa harus mengakui ketuhanan Allah dan kenabian Muhammad SAW seperti jika dia mengucapkan syahadat secara langsung.

Jadi ucapan “syahadat” itu gak setara dengan ucapan “SELAMAT natal”. Jika mau dipaksakan juga, akan terasa agak setara jika ucapan “SELAMAT natal” dibandingkan dengan ucapan “SELAMAT syahadat” walau substansi ucapan selamatnya tetep gak setara

Kedua, secara substansi isinya, Natal itu gak setara dengan Syahadat. Natal itu tentang kelahiran sedangkan syahadat itu tentang kesaksian, komitmen dan loyalitas.

Kalau mau setara, maka bandingkanlah ucapan “syahadat muslim” dengan ucapan “syahadat kristiani” bukannya dengan ucapan “selamat natal”.

Kalau ngucapin syahadat kristiani, gak cuma gue, hampir bisa dipastikan semua muslim gak mau ngucapinnya kecuali kalau dia memang serius mau pindah agama menjadi kristiani. Begitu juga sebaliknya. Hampir bisa dipastikan gak akan ada yang mau seorang kristiani yang mau ngucapin “syahadat muslim” kecuali kalau dia mau pindah agama menjadi muslim.

Nah kalau ucapan “selamat natal” itu yang paling mungkin bisa dibandingkan dengan tradisi umat muslim itu adalah “selamat maulid” itupun dengan catatan bahwa di kalangan umat Islam itu galk lazim ngucapin selamat maulid ke sesama muslim.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Jadi kesimpulan yang bisa diambil dari promosi jangan ngucapin natal diatas adalah bahwa  promosi tersebut menarik kesimpulan dari 2 pernyataan yang tidak ada hubungannya sama sekali alias jaka sembung.

Sungguh argumentasi yang menurut gue gak mutu dan memalukan karena menggambarkan logika berfikir yang kurang jernih. Lalu apa kata dunia melihat realitas banyaknya muslim yang kalau berargumen sering tidak nyambung ?😛

Jadi teringat dengan salah satu jenis soal yang biasa saya temui ketika sekolah dulu. Saya gak tahu pasti apakah jenis soal seperti itu masih ada di jaman sekarang.

Dulu ada jenis soal yang meminta kita mengambil kesimpulan dari 2 kalimat pernyataan dengan pilihan jawabannya antara lain:

a. tidak ada yang benar
b. Salah satu benar
c. keduanya benar tetapi tidak berhubungan
d. keduanya benar dan berhubungan

Nah promosi jangan mengucapkan selamat natal itu memilih jawaban d. padahal realitas sebenarnya adalah c. karena ucapan “syahadat muslim” dan ucapan “selamat natal” itu Benar Benar tidak Berhubungan.

* Jangan gampang percaya tulisan sotoy ini… Think for yourself !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s