My Way

Punya pacar itu jaman sekarang udah kaya kebutuhan aja. Bukan lagi sekedar gengsi kalo ga punya status relationship di facebook, twitter, dan socmed lainnya. Mungkin aku satu dari sebagian orang yang memilih untuk tidak berpacaran (saat ini). Why? bukan karena pengen irit duit, atau ga laku, dan semacamnya, tapi aku selalu meyakini bahwa cinta itu bukan tanpa logika. Cinta itu metalogika! Sebagian dari kalian mungkin tidak bisa membedakan antara cinta dan suka, karena memang banyak orang yang sulit untuk membedakannya dan akhirnya jatuh dalam lubang yang kita sebut saat ini dengan kegalauan tingkat akut wkwkwk. Oke, jadi dalam pandangan saya suka itu bukanlah cinta. Suka itu pralogika, cinta itu metalogika. Suka itu instingtif, naluriah, dan sifatnya “kecelakaan”. Sedangkan cinta itu kesadaran, pilihan, dan tercipta setelah kerajaan logika dibangun dan dilewati. Tanpa melewati logika, itu namanya sekedar suka (hewani), bukan cinta (insani, malakuti).

Suka itu pemberian alam, bukan hasil usaha seseorang. Hanya orang bodoh, minder, dan lemah yang merasa bangga hanya karena disukai (lawan jenis). Sementara cinta itu kesadaran, pemahaman, penyerahan, dan pilihan untuk hidup manusiawi-malakuti. Mengejar, berjuang dan membanggakannya adalah tanda akal yang cerdas dan hati yang bersih. Memang dalam membangun sebuah hubungan, hubungan yang baik adalah hubungan “suka sama suka”. Bisa sama-sama suka wajah yang menawan (cantik/ tampan), atau harta yang lumayan, atau pemenuhan emosi yang membuat terkenang-kenang. Namun itu semua sifatnya kebinatangan. Ia disebut keberuntungan. Tapi hubungan terbaik adalah hubungan “cinta sama cinta”. Ia adalah kesatuan, tak berjarak, sederhana, dan abadi. Ia adalah tarikan malakuti, kecemerlangan insani, keindahan surgawi, meningkatnya kualitas eksistensi, melesatnya ke langit tertinggi. Semua ini disebut anugerah yang berawal dari kesadaran dan pilihan hidup yang matang. Yang pertama, karena keberuntungan ia biasanya sulit dan yang kedua karena itu pilihan, bisa dipastikan ia jauuuhh… lebih sulit lagi…

Bicara mengenai cinta (dengan lawan jenis) banyak dari teman-temanku yang mengira aku tak pernah jatuh cinta. Namun pada kenyataannya aku pernah jatuh cinta pada wanita yang menurutku merefleksikan “cahaya” Tuhan. Tentu aku tak sembarangan mencintai seseorang, karena pandanganku selalu mengatakan bahwa cinta adalah metalogika (seperti yang sudah aku jelaskan diatas). “Kenapa harus dia? Dan kenapa pula harus merefleksikan “cahaya”  Tuhan?” Kata salah satu teman wanita di kampusku. Well if you insist my lady, i’ll explain it to you. Dalam salah satu pembahasan Filsafat Islam, kehidupan ini (alam semesta dan seisinya) berwal dari Tuhan sebagai causa prima dan pada akhirnya akan kembali pada causa prima pula. Itu mengapa dalam Islam kita mengenal konsep إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ yang mana bila kita lihat maknanya adalah “Dari Allah kita berasal, dan kepada-Nya lah kita kembali”. Nah, Allah sebagai causa prima diibaratkan sebagai sumber cahaya/ cahaya awal, yang nantinya mengakibatkan bias-bias cahaya yang lain.

Sebenarnya di dalam diri setiap manusia terdapat cahaya Tuhan. Hanya saja sedikit dari mereka yang menyadarinya sehingga mampu memunculkan cahaya itu dan membiaskannya kembali kepada Allah. Kalo gitu apa hubungannya dengan cinta? Tadi sudah dijelaskan bahwa cinta itu kesadaran, pemahaman, penyerahan, dan pilihan untuk hidup manusiawi-malakuti. Ia adalah kesatuan, tak berjarak, sederhana, dan abadi. Nah dari pemahaman bahwa Allah adalah sumber cahaya dan manusia adalah cermin yang merefleksikan cahaya tersebut, terlihat jelas mengapa aku mencintai wanita yang cahayanya mampu menyilaukanku. Aku mencintai wanita itu karena aku mencintai apa yang dia refleksikan dengan jelas. Dan meski wanita tersebut tak bisa menjadi pendampingku, namun mengenalnya, dekat dengannya, bertatap dengannya, bercakap dengannya, sudah menjadi kebahagiaan untukku. Karena cahayanya-lah yang menuntunku sampai sejauh ini. Karena cahayanya-lah yang mampu mendekatkanku pada kebaikan-kebaikan Ilahi.

Mungkin tulisan ini sangat sotoy dan subjektif sekali ya wkwkwkwk. Tapi memang inilah kenyataannya yang aku rasakan, dan ini juga merupakan jalan yang aku pilih untuk menuju kembali kepada-Nya. Seorang Arif pernah berkata bahwa “Manusia tidak akan pernah mengenali dirinya, sebelum ia mengenali Tuhannya”. Dan itu masuk akal, karena Allah merupakan penyebab adanya ruang, waktu, dan semesta. Bagaimana kita dapat mengenali diri kita, sedang kita tidak tahu siapa pencipta kita?. Melalui cermin-Nya aku mengenal-Nya. Belajar untuk mencintai wanita itu, merupakan bagian untuk lebih mencintai-Mu. Nah, jadi jalan manakah yang kalian pilih kawan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s