love_poems

Cherry Blossom And Falling Leaf

Tiga Tahun yang lalu pada sebuah bandara kecil di Ibu Kota kita duduk bercanda pada sebuah sayap pesawat. Dia adalah seorang wanita luar biasa yang mengubah duniaku. Sampai saat ini aku masih mengingat cara ia memandang segala sesuatu dalam matanya yang bening layaknya embun pagi, atau saat ia terlelap dalam peraduan malam. Ahh, aku juga masih ingat bau parfum kesukaannya yang selalu ia kenakan saat ngampus, pakaian kesukaannya, aksen medok jawanya yang halus, twist-twistnya saat ada diskusi kecil diantara kita, cara ia menyibakkan rambut panjangnya, dan masih banyak lagi yang ia tinggalkan untuk kukenang.

Ia suka saat aku bercerita padanya hal-hal yang jarang ia perbincangkan dengan teman-temannya. Tak jarang pula ia berbagi pengalaman denganku dalam hal memasak atau saat kita berbagi cerita getir pahitnya kehidupan yang pernah dilalui. Ia tak pernah mengeluh saat lebih lama menungguku selesai jam kuliah, praktek, aktivitas organisasi, bahkan tak pernah mengeluh saat acara bersamanya kutunda karena berbenturan dengan jadwal lain. Ketika kami sedang jalan-jalan ke mall atau pergi menikmati alam tangannya selalu menggenggam erat tanganku. Katanya ia selalu merasa nyaman dengan keadaan seperti itu.

Ia orang pertama yang selalu memarahiku saat aku mulai malas-malasan, terutama terlalu kebablasan dalam aktivitas, lupa makan, dan hal-hal yang terlalu melenakan lainnya. Seorang pendengar dan pemberi saran yang baik saat segala sesuatunya berjalan sedikt melenceng dari alur. Terkadang pula kami saling berkeras hati, namun selalu luluh saat kita mengetahui seharusnya hal itu tak perlu terjadi. Ketika aku meminta maaf karena kesalahanku ia selalu tersenyum ramah dan mengatakan “Sayang, aku selalu tahu kamu yang terbaik untukku”.

Entah mengapa, semakin aku dekat dengannya ada satu pancaran yang mendekat. Baru-baru ini kusadari saat aku telah banyak membaca buku-buku, mempelajari literatur-literatur, dan bertemu guru-guru. Ia mendekatkanku pada kebaikan-kebaikan. Ia melepaskan sekat-sekat yang membelenggu benih-benih kebaikan dalam diriku. Membuka cara pandangku dan cakrawala pengetahuan di luar batas yang kukenal selama ini. Ia membawaku menemukan tujuan hidup yang sebelumya tak pernah kupikirkan.

Kau tahu kekasih, aku masih menyimpan pesan terakhirmu saat kita telah memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Terbang dan memulai perjalanan yang semestinya kita lakukan namun tak terealisasi karena Pemilik Cinta menginginkan keabadianmu.

“Kasihku, kau tahu telah kutanamkan padamu bunga yang tak akan pernah layu walau seribu musim berganti. Apapun yang akan terjadi setelah ini jangan pernah kau biarkan bunga itu tumbuh liar. Rawatlah ia sebagaimana engkau mencintai embun pagi di lembah mandalawangi, dan sebagaimana engkau mencintaiku diriku sepenuhnya. Bunga itu lambang cinta kita, dan aku berharap aku yang akan memetiknya kelak. Dan ingatlah cinta tak pernah mati, kau akan selalu menemukanku”.

Orang-orang memang tak mau tahu tentang daun-daun yang berguguran, juga tentang perasaan ranting yang ditinggalkan. Namun, satiap ada akhir selalu ada awal. Memang benar cinta tak pernah mati, hanya saja ia dijelmakan dalam wujud yang berbeda. Dan setelah daun gugur kuncup bungapun bermekaran dari ranting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s