sebuah-catatan

April Showers Bring May Flowers Pt 1

Entah harus darimana aku menulis kisah ini. Jujur saja emosiku akhir-akhir ini memang unstable. Aku tak begitu paham apa gerangan yang membuatku seperti ini. Di kantor tidak ada hal yang membuatku tak enak bekerja, di kampus tak ada hal yang membuatku suntuk untuk kuliah, begitupun dalam hal komunikasi dengan teman-teman dan keluargaku sejauh ini baik-baik saja. Lah kenapa bisa tiba-tiba galau seperti ini? Tak ada awan mendung ataupun angin kencang, tiba-tiba saja badai yang datangnya entah darimana meluluhlantakkan segalanya.

Kurang nyaman dengan keadaan seperti ini kucoba melarikan diri dengan lebih banyak menghabiskan waktu luang di luar rumah. Namun yang terjadi aku tak menemukan kedamaian di luar sana. Aku terasing dalam keramaian Ibu Kota! Sesuatu tak mengizinkanku mengkandaskan sepi ini. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang kamar, tubuh yang telah lelah ini begitu dimanjakan oleh belaian lembut bantal dan pasukannya. Dalam keadaan setengah sadar aku mulai membayangkan kembali hal-hal yang telah kulakukan beberapa hari kemarin. Layaknya menonton sebuah film dokumenter tentang diri sendiri, aku dibawa flashback menuju hari dimana semua ini seharusnya berawal dan dari hal itulah aku harus mengakhirinya.

Seperti kata pepatah bahwa kepakan kupu-kupu di Haiti mampu membuat gelombang tsunami maha dahsyat di Aceh. Hal-hal kecil yang kita lakukan ternyata adalah hal besar yang seharusnya mendapat perhatian kita. Di hari itu (entah bulan dan tanggal berapa tapi bisa kupastikan itu hari rabu) aku dan temanku berdiskusi kecil dan akhirnya kami lebih banyak membahas tentang masa lalu.

“Eh, kau itu sebenernya udah pernah pacaran blom sih?”

“Udah lah, kan aku normal”

“Tapi aku kok gak pernah lihat gebetan kamu sih? Ga pernah di kenalin lagi?”

“Ahahaha bukannya ga mau ngenalin tapi dia sudah abadi dalam puisiku”

“Maksud kamu?”

“Kembali keharibaan-Nya”

“Owh, sorry ya? Aku bener-bener ga tau”

“Mau dikata apa lagi, kalau tidak seperti itu mungkin aku ga akan jadi temen kamu sekarang hehe”

“Ehmmm, kalo boleh tau hubungan kalian itu kayak apa sih?”

“Yaaa biasa, standar-standar aja kok! Tapi masih dalam koridor yah!!!”

“Bukan itu, tapi kayaknya kamu blom bisa ngelupain dia deh”

“Heee darimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?”

Its easy bro, semua hal yang kamu lakukan seakan-akan terkoneksi sama dia. Bahkan dalam beberapa hal kamu itu selalu mengambil jeda untuk mungkin sekedar mikirin dia”

“Bisa aja aku lagi mikirin sesuatu yang lain kan?”

“Iya, tapi dari sekian banyak hal yang kupikirkan cuma ada satu hal yang mungkin menjadi perhatian terbesarmu. Kamu masih terlalu mencintainya hingga kamu blom sepenuhnya dapat melepaskan dia”

“Analisa yang bagus tapi menurutku terlalu berlebihan deh”

“Berlebihan gimana? Di kantor aja dekstop pc kamu wallpapernya dia kan? Beberapa tulisan-tulisan kamu juga mendeskripsikan dia. Aku yakin bahkan selama ini kamu ga nyari pacar baru gara-gara masih kepikiran sama dia. Emang bagus kamu punya kenangan yang indah sama dia, tapi kalo overdosis kaya gini bagaimana mungkin kamu bisa memulai perjalanan yang baru. Think of it!!!

“Hhmmph, untuk apa kita bahas masalah ini sih?”

“Aaahh ternyata kamu ini masih blom menyadarinya juga”

“Masbuloh hahahaha! Tapi maksudnya apa sih?”

“Mau tau banget apa mau tahu ajah?”

“Yaelaaah, aku tukerin cabe juga dirimu ntar”

“Masa kamu ga tau sih? Iiih ga peka deh”

“Sebentar-sebentar, tadi kau bilang kalo aku masih kepikiran sama dia aku ga bisa memulai perjalanan baru gitu?”

“Tepat sekali, tapi ada yang lebih penting dari itu”

“Lebih penting…. dari itu………..?”

“Iya…”

“Hmhhh coba kupikirken dulu…. Proses pendewasaan mungkin?”

“Iiih kok kamu tau?”

Lucky Guest hahahaha”

“Huu norak tau ga? Udah ah lanjut ke pokok bahasan, jadi intinya kamu harus lebih dewasa lagi, jangan jadi childish gitu dong! Jangan ngerasa bahwa kau orang yang paling merana hidupnya, ada kok yang lebih parah dari kamu”

“Contohnya kamu ya? Hahahaha”

“Ihhh enak aja, nyebelin kamu ah!”

“Wkwkwkwk eh teruskan analisamu tadi”

“Kamu harus belajar melupakan dia. Bukan berarti melupakan seluruhnya tapi cobalah untuk membuka lembaran baru. Aku yakin ada kok orang yang bisa ngertiin kamu sama seperti dia ngertiin kamu”

“Kamu yakin?”

“Yakin banget”

Ternyata ini dia sumber dari segala sumber kegalauan yang terjadi akhir-akhir ini. Aaargh ini semua gara-gara ngobrol sama doraemon ( nama disamarkan tapi karakter hampir sama😀 ) jadi ketularan galaunya dia deh hehehe. Tapi setelah dipikir-pikir ada benernya juga omongannya anak ini bagaimana mungkin kita mendapatkan sesuatu yang terbaik bila kita tidak bisa melepaskan sesuatu yang paling kita sayangi, padahal itu belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita.

Terima kasih buat ceramahnya ya doraemon? Aku berhutang banyak sama kamu karena setelah ini sebuah lembar baru akan segera aku tulis, menikmati setiap perjalanan yang ada, dan mungkin segera mendapatkan kekasih baru uupsss….😀

– 20 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s