Category Archives: Cerpen

Ilusi

Malam yang hening, bagi Dita, kendati lamat-lamat bising kendara lalu-lalang di jalan raya terdengar sampai ke ruangan perkantoran. Perempuan berambut sebahu dan berkulit sawo matang ini tengah menatap langit malam Jakarta yang tengah terang purnama, dari jendela kantornya yang terletak di lantai Sembilan. Entah apa yang ada di benaknya, dia nampak begitu khidmat, dan begitu larut akan lamunannya sendiri. “Bulan, kini aku tahu seperti apa rasanya mencoba bersinar sendirian.” Dita menggumam kecil, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti ada yang hendak tumpah namun berusaha dicegah dengan keras.

“Pulanglah, Dita, kamu capek, perlu istirahat,” tiba-tiba suara Tiara, atasan Dita, memecah lamunannya, “kerjaan kamu dilanjutkan Senin saja.”

“Oh…, nggg…, tidak, Bu, tanggung,” Dita terkejut dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya, “lagi pula besok akhir pekan, dan aku butuh kesibukan ini.”

“Ya sudah, Ibu duluan, kalau perlu apa-apa masih ada Husni di belakang.”

***

Dita berjalan menyusuri trotoar menuju ke halte, malam sudah cukup larut. Meski begitu, suasana di kota ini masih ramai, Jakarta namanya, kota di mana mimpi-mimpi berseliweran dan begitu banyak yang ingin menangkapnya. Mungkin, karna itulah hingga larut malam masih seramai ini. Baru sampai Dita di halte tempat dia menunggu taksi, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.

“Iya?” Dita segera mengangkatnya.

“Kamu di mana, Dit?” Ucap Irene, teman Dita.

“Di jalan, baru mau pulang.”

“Jam segini baru pulang? Wuih, rajin banget kamu. Jadi ikut, ngga? Kami udah otw, nih.”

“Mmhh…, ngga tau deh, males aku, Ren.”

“Ayolah, jangan galau terus. Lagian percaya aja sama Inggit, nanti juga dia ngasi kabar.”

Dita terdiam sejenak, “Iya, liat nanti deh, nanti aku kabarin.”

“Sip. Take care, Darling.”

Baru saja Dita menutup telepon, kebetulan ada taksi kosong melintas, Dita buru-buru menyetop taksi itu lalu masuk dari pintu belakang.

“Selamat malam, Mbak. Ke mana tujuannya?”

“Ke daerah Mampang ya, Pak, jalan Bangka.”

Taksi melaju dengan cukup kencang. Situasi jalan raya kawasan Slipi ke arah Semanggi pada saat itu tidak terlalu ramai. Kendati baru pukul 23.15 WIB, namun suasana di jalur jalan itu tidak seramai seperti malam Sabtu biasanya. Dita sesekali melirik ke arah layar ponsel yang masih dia genggam, lalu menekan tombol satu, langsung terhubung dengan nomor Inggit, kekasih Dita. Lekas ditutupnya kembali, nomor telepon Inggit masih tak aktif. “Kamu di mana, Sayang, kenapa udah tiga hari ngga ada kabar?” Dita berucap dalam hati, mimik wajahnya penuh kecemasan.

“Maaf, Pak, kita ke arah Kota aja.” Tiba-tiba Dita mengubah arah tujuan, nampaknya dia hendak menyusul teman-temannya ke sebuah club malam di bilangan Mangga Besar. Dita masih mengenakan kemeja, tapi dia memakai celana jeans. Jadi, dia pikir tak perlu pulang dulu ke rumah untuk mengganti pakaian. Buang-buang waktu pikirnya.

***

“Good morning everybody, welcome to…”

Tiba-tiba suara DJ memecah kebisingan, serentak semua orang bersorak penuh semangat, hentakan kaki para clubbers bikin tambah meriah suasana.

“Kok diem aja, kamu BT ya, Dit?” Tanya Kandar dengan sedikit berteriak karna bising.

“Iya, kamu ngga neken?” Sambung Irene.

“Ngga, nyantai aja, aku lagi ngga mood, minum juga cukup, kok.”

“Beneran? Aku beli cece buat kamu juga, nih.” Ujar Romi sembari merogoh kantong.

“Ngga, ngga, ngga usah.”

“Pokoknya have fun ya malam ini. Jangan galau teyuuus!” Ujar Irene sambil mencubit lembut pipi Dita.

Tetap saja, Dita lebih banyak diam dan tidak berdansa seperti biasanya. Pikirannya malah menerawang jauh, sebab di club malam ini ialah tempat kenangan dia dan Inggit, kekasihnya yang sudah tiga hari tanpa kabar itu. Dita dan Inggit telah sepuluh bulan menjalin hubungan khusus, mereka sangat saling menyayangi, saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Tapi, sejak Inggit dipindah-tugaskan bekerja ke Batam, Dita kerap galau, terutama tiga hari terakhir ini semenjak Inggit tak ada kabar sedikitpun, tidak seperti biasanya. Dita sudah berusaha mencari kabar ke keluarga Inggit, tapi hasilnya nihil, malahan keluarga Inggit ikut-ikutan cemas. Dita percaya kepada Inggit, kekasihnya tak mungkin berselingkuh di belakangnya.

“Aku duluan, ya.” Tiba-tiba Dita berpamit.

“Lho, mau ke mana, Dit?” Irene dan yang lainnya terperanjat.

“Aku beneran lagi ngga mood, aku duluan, ya.”

“Yakin, kamu ngga apa-apa, kan?” Tanya Romi dengan nada cemas.

“Iya, yakin. Udah, kalian lanjut aja, nanti malah parno lagi.”

Irene berbisik kepada Romi, “Anterin Dita dong, Rom. Kasian dia pulang sendirian.”

“Ngga usah, ngga apa-apa kok, aku pulang sendirian aja naik taksi.” Dita mendengar Irene yang meminta Romi untuk mengantar dia.

***

Sabtu sore yang mendung. Nampak Dita duduk di sudut cafe bilangan Thamrin seorang diri. Dia menyulut rokok sembari asyik memainkan telepon genggamnya dengan sesekali menyesap jus stroberi. Dita begitu cantik mengenakan blus biru muda, kontras dengan warna langit senja kala itu dengan arakan awan kelabu.

“Hei, Dit!” Ical, teman sekantor Dita menyentuh pundaknya.

“Hei!” Dita terkejut, ponsel yang tengah dia pegang sampai terlempar.

“Aduh, aduh, maaf bikin kamu kaget.” Ical lekas mengambilkan ponsel dan duduk di kursi depan Dita.

“Hehehe. Iya ngga apa-apa, akunya juga sih keasyikan mainin hp. Kamu mau pesan apa, Cal, mau makan, minum?”

“Ngga, aku tadi udah makan, kok. Mana berkasnya?”

Dita mengelaurkan berkas pekerjaan yang akan dipresentasikan Senin nanti, “Beneran nih ngga apa-apa, Cal?”

“Iya ngga apa-apa, udah deh nyantai aja. Kamu udah dapet tiket?”

“Mmhh, udah dapet sih, tapi aku ngga yakin mau ke Batam besok.”

Ical menatap sendu paras Dita yang begitu cantik, lalu memegang tangan perempuan berhidung bangir itu di atas meja, “Kamu udah siap menerima kemungkinan yang terjadi?”

“Maksud kamu?” Dita menarik tangannya, menepis tangan Ical.

“Ya, kemungkinan, bisa aja Inggit selingkuh, atau pergi entah kemana.”

“Cukup! Hentikan, Cal. Aku percaya Inggit, kok.”

“Maaf, Dit…, aku…, aku masih mau kok kalo kamu bersedia menerima cintaku.”

“Tidak, Cal. Banyak perempuan lain yang lebih baik dan cantik, jangan lagi berharap aku menerima cintamu, aku ini lesbian!”

Suasana hening sejenak. Ical tertunduk  tak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya, Ical sudah cukup lama mencintai Dita, sudah berkali-kali pula dia meyakinkan Dita untuk menerima cintanya. Tapi Dita memang tidak menyukai laki-laki.

“Maaf, aku ngga bermaksud. Tapi aku benar-benar ngga bisa menerima cintamu, Cal. Please, ngertiin aku.”

“Iya ngga apa-apa, Dit.”

“Ya udah, aku mau pergi dulu, ya.”

“Mau ke mana kamu?”

“Aku janjian sama Irene di Menteng. Mau ikut?”

“Oh, ngga, aku juga udah janjian sama temen-temen.”

“Yo wes, yuk pergi dari sini. Makasi ya, Cal.”

***

Angie, Angie, when will those clouds all disappear?

Angie, Angie, where will it lead us from here?

With no loving in our souls and no money in our coats

You can’t say we’re satisfied

But Angie, Angie, you can’t say we never tried

Angie, you’re beautiful, but ain’t it time we said good bye?

Angie, I still love you, remember all those nights we cried?

All the dreams we held so close seemed to all go up in smoke

Dita dan Irene duduk di dekat tiang dan meja billiard, beberapa meter dari band yang sedang tampil membawakan lagu berjudul Angie, yang dipopulerkan oleh Rolling Stones, sambil menikmati Blue Hawaii: cocktail dengan campuran rum, blue currant, jus nenas dan lemon yang dibikin shake di cafe kawasan Menteng. Meski cafe yang dikunjungi mereka terbilang kecil, tapi cukup ramai pengunjung. Konsep cafe ini mengikuti ide CBGB, sebuah cafe di New York, tempat main band-band rock n roll. Tempatnya sesak, kecil, asap di mana-mana dan bau alkohol.

“Hahaha. Ical masih aja nembak kamu?”

“Tauk tuh, bingung aku juga.”

“Kamu peletnya kuat sih, Dit.”

“Ye, enak aja!” Mereka tergelak-gelak asyik sendiri.

“Permisi, Kakak, ini pesanannya.” Seorang waitress mengantarkan pesanan Dita dan Irene.

“Oh iya, makasi, Mas.” Irene menyunggingkan senyum.

Mereka berbincang-bincang asyik, sembari mereguk tequila bergelas-gelas, lupa waktu. Irene sedikit lega melihat sobat karibnya dapat tertawa malam itu, meski terkadang tiba-tiba terdiam, ketika begitu, Irene langsung mengalihkan pikiran Dita dengan menceritakan hal-hal apa saja.

Tidak terasa sudah berjam-jam Dita dan Irene di sana, entah sudah berapa gelas minuman beralkohol yang direguk, mereka sudah cukup mabuk. Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi, tanda ada pesan masuk. Irene segera membaca pesan masuk itu.

“Eh, Romi udah di parikiran, nih.”

“Loh, emangnya dia ke sini?”

“Iya, tadi sms, mau ngajak ke Kemang katanya. Yuk, Dit.”

“Duh, males ah.”

“Ye gimana, Romi udah jemput, nih.”

“Ya udah kamu aja, aku di sini aja.”

“Masa’ aku ninggalin kamu sendirian, yang bener dong, Dit.”

“Ngga apa-apa, lagian aku emang pengen sendirian.”

“Jangan dong, udah yuk ikut. Atau aku minta Romi ke sini aja ya, kita batalin ke Kemang.”

“Duh, jangan, Ren, jangan gitu. Beneran aku ngga apa-apa, aku emang lagi males rame-rame, beneran ngga apa-apa, aku bisa jaga diri, kok.”

“Beneran, nih?”

“Iyaa bener, Sayang… Udah buruan, kasian tuh Romi nungguin.”

“Ya udah, kamu baik-baik ya, kalo ada apa-apa telepon aku aja.”

“Sip!”

Setelah cipika-cipiki Irene meninggalkan Dita dengan perasaan cemas. Percuma juga membujuk Dita, dia sudah tahu betul watak temannya itu.

“Mas, pesan tequila lagi, ya.” Dita kembali memesan minuman.

Cukup lama Dita di cafe itu, dan dia juga sudah cukup mabuk. Dia kenal dengan beberapa orang di sana, karna itulah Dita berani di sana seorang diri. Dita beranjak dari duduknya, berjalan sempoyongan ke arah toilet.

“Sial, pas aku berdiri berasa banget mabuknya. Aduduh…!” Dita nyaris ambruk, namun tiba-tiba ada yang merangkul.

“Hati-hati, Sayang!”

JRENG! Dita terperanjat, di sebelahnya, ternyata Inggit yang merangkul! “Inggit?!”

“Iya, ini aku,” Inggit tersenyum manis dan memapah kekasihnya itu, “ayo, kita keluar dari sini, kamu udah mabuk banget.”

***

Di ranjang kamar hotel, yang terletak tak jauh dari cafe rock n roll tadi, Dita masih tak percaya menatap Inggit yang rambutnya sudah sepinggang, panjang dan semakin cantik. Dia tak yakin akan pemandangan di hadapannya itu, apakah karna mabuk, atau memang Inggit.

“Kamu…”

“Iya, ini aku! Emangnya kamu udah ngga ngenalin aku lagi?”

Dita langsung memeluk Inggit, erat sekali, air matanya tumpah tak terbendung, “Kamu ke mana aja, Sayang? Aku kangen…”

“Maaf kalo bikin kamu cemas, aku ada kok, ngga ke mana-mana.” Inggit membelai rambut Dita, lembut sekali.

“Kok ngga ada kabar, sih? Aku hubungi hp kamu ngga pernah aktif, kamu ke mana?”

Tanpa menjawab pertanyaan, Inggit langsung mengecup kening Dita. Mereka saling bersitatap sejenak, lalu mendaratkan kecupan di bibir, saling pagut, saling melumat berciuman dengan begitu hangat, penuh kerinduan. Tanpa kata-kata lagi, malam itu mereka bercumbu melepas rindu.

***

Pukul 07.45 WIB Dita terjaga, dan meraba-raba sisi kirinya, lalu terkejut di sebelah tak dia dapati siapa-siapa. Dita bangkit terduduk memperhatikan sekitar tak ada siapa-siapa, hanya mendapati pakaiannya yang tanggal. Dia beranjak ke kamar mandi, siapa tahu Inggit berada di sana pikirnya. Namun kamar mandi pun kosong. Lalu Dita bergegas mengambil telepon genggamnya, mencoba menghubungi Inggit, tapi lagi-lagi nomor ponsel Inggit tak aktif.

“Duh, kamu ke mana, sih? Menghilang terus!”

Dita memakai pakaiannya dan duduk di atas ranjang sembari menonton televisi, menunggu Inggit. Dia pikir, barangkali Inggit hanya keluar sebentar, membeli makanan mungkin. Namun sampai pukul 08.30 batang hidung Inggit tak juga nampak. Dita mulai gusar. Dia mencoba menelepon Irene, menanyakan kalau-kalau Inggit menghubungi sobat karibnya itu. Beberapa kali terdengar nada sambung, tapi tiada jawaban.

“Dasar kebo! Pasti ini anak masih tidur, deh.” Dengan kesal Dita mematikan panggilan yang tak ada jawaban. “Apa Inggit balik lagi ke Batam, ya?” Tiba-tiba terlintas di benaknya seperti itu.

Dita teringat mempunyai tiket ke Batam pukul 13.35 nanti. Lalu buru-buru pergi dari kamar berniat hendak menyusul Inggit yang menurutnya telah kembali ke Batam. Ketika di lobi, Dita sempat menanyakan tentang Inggit, tentang atas nama siapa kamar yang dia tempati tadi, tetapi kata resepsionis kamar itu dipesan atas nama Dita, dan tak tahu dengan siapa dia semalam, karna resepsionis yang bertugas berbeda dengan yang semalam. Lalu dia bergegas keluar hendak menuju rumahnya, terburu-buru, pasalnya dia tak ingin ketinggalan pesawat terbang yang akan dia tumpangi.

***

Pukul 15.10 WIB Dita telah mendarat di bandara Hang Nadim. Dia tidak membawa banyak barang, hanya membawa koper kecil dan tas yang dibawa sehari-hari. Tidak ingin membuang-buang waktu, Dita segera menaiki taksi dan menuju ke alamat yang pernah Inggit berikan.

“Ke Nagoya ya, Pak.”

Empat puluh menit berlalu, setelah sedikit berputar-putar akhirnya Dita berhasil menemukan alamat yang pernah diberikan Inggit. Kost-kostan rupanya. Dita segera masuk dan bertanya kepada seorang perempuan, penjaga kost tersebut.

“Permisi, saya mau nanya, Mbak.”

“Oh iya, mau nanya apa, Mbak?”

“Kamar Inggit yang mana ya?”

“Oh, Inggit, itu, di kamar yang sebelah sana,” penjaga kost itu menunjuk ke sudut sebelah kanan, “kamar ke dua dari yang paling ujung. Tapi kayaknya Mbak Inggit ngga ada tuh, Mbak. Udah beberapa hari ngga keliatan.”

DEG! Jantung Dita berdetak kencang, dia tiba-tiba berfirasat buruk. “Baiklah, makasi ya, Mbak. Aku coba ke sana dulu.”

Dengan tanpa henti berdebar Dita mendekati kamar itu, hingga akhirnya tepat di depannya. Perlahan dia mengetuk pintu, “Git, Inggit, ini aku, kamu ada di dalam, kan?” Sekali, dua kali, tapi tetap tak ada jawaban. Dita tertunduk lemas, matanya merah berkaca-kaca dan langsung berlinang air mata. Disekanya air mata lalu berjalan ke luar.

“Gimana, Mbak, orangnya ada?” Penjaga kost itu bertanya.

“Ngga ada, Mbak. Pesen aja kalo nanti Inggit pulang, Dita datang ke sini.”

“Iya, Mbak, nanti aku sampaikan.”

“Makasi ya, Mbak, aku permisi dulu.”

***

Dita baru saja selesai berdandan, minimalis, tidak memakai make up yang berlebihan juga hanya memakai jeans dan kaos. Meninggalkan kamar hotel hendak pergi ke bar yang masih terletak di sekitaran hotel juga. Dita masih di Batam, dia keesokan harinya berencana akan ke kantor Inggit, ingin mencari tahu keberadaan kekasihnya itu di tempat Inggit bekerja. Tiba di bar, Dita langsung memesan minuman beralkohol, duduk di depan bartender.

Dita minum bergelas-gelas scotch, tanpa mempedulikan suasana, tanpa mempedulikan laki-laki yang mendekatinya. Hingga laki-laki yang berusaha mendekati Dita tersebut pergi karna diacuhkan, Dita masih terus saja minum tanpa henti. Dia begitu nampak stress. Mungkin, dengan mabuk, dia dapat meringankan beban, pikirnya begitu.

“Hadeuh, kebelet pipis lagi,” Dita beranjak, “toilet di mana ya, Mas?” Lalu bertanya kepada waitress.

“Di sebelah sana, Mbak.” Waitress menunjuk ke sudut kiri.

“Makasi.”

Dengan sempoyongan Dita berjalan ke arah toilet yang ditunjukkan oleh waitress tadi, ada dua pintu berhadap-hadapan yang bertuliskan ‘toilet’, lalu masuk begitu saja ke pintu sebelah kiri.

“What are you doing here? Do you want to sneak peek?!” Seorang bule laki-laki yang sedang buang air kecil terkejut melihat kehadiran Dita.

Dita kaget bukan main, ternyata itu toilet lelaki, “Ups, sorry!” Buru-buru Dita keluar dari toilet, menabrak pintu, tersandung dan jatuh.

Bule itu menggeleng-gelengkan kepala sambil cengengesan, “Crazy woman!”

Tiba-tiba Inggit berdiri di hadapan Dita yang masih terduduk, perlahan Dita yang belum menyadari kehadiran Inggit melihat ke atas.

“Ayo berdiri.” Inggit mengulurkan tangan.

“Kamu…!” Dita bangkit sambil memegang tangan Inggit, lekas dipeluknya erat-erat kekasihnya itu, “Aku kangen…, kamu ke mana aja, sih?”

“Kan udah kubilang, aku ada, selalu ada di deket kamu.” Inggit membalas pelukan Dita, mencoba menenangkan kekasihnya yang tengah menangis itu.

Dita tak merenggangkan dekapan, “Bohong! Kamu pembohong!”

“Ssttt… Yuk ke kamar, kamu udah mabuk banget. Kamu nginep di hotel ini, kan?”

Dita mengangguk. Inggit memapahnya berjalan ke arah kamar hotel tempat Dita menginap. Setibanya di kamar Dita direbahkan oleh Inggit perlahan, lalu beranjak.

“Hei, kamu mau ke mana lagi, sih?” Dita menarik tangan Inggit.

“Ngga, Sayang, aku ngga ke mana-mana, udah kamu bobo’an aja.”

“Awas kamu kalo pergi lagi, sini, temenin aku!”

“Iya. Duh, manja banget sih kamu ini,” Inggit merebahkan diri di samping Dita, “omong-omong, kamu ngapain di sini?”

“Kok nanya gitu? Ya nyariin kamu, lah! Kamu udah ngga sayang aku, ya?” Dita merengut.

“Cup cup cup. Kata siapa, aku sayang banget sama kamu, makanya aku ada di sini sekarang.”

“Makanya, udah dong, kamu jangan menghilang lagi, aku butuh kamu.”

Inggit terdiam sejenak, “Udah, kamu bobo, gih. Muka kamu kucel banget tuh.”

“Iya. Tapi kamu jangan ke mana-mana, ya.”

“Iya, Sayang…” Inggit mengecup kening Dita.

***

Hari sudah pagi, Dita masih terlelap, dia seperti sedang tersenyum, dari parasnya Dita seperti sedang bermimpi indah. Sementara di sampingnya kosong, tiada Inggit. Di lobi nampak seorang lelaki yang tengah membaca koran, membaca berita pembunuhan.

“Pihak berwajib telah memastikan korban mutilasi di daerah Mata Kucing, Batam, lima hari lalu bernama Inggita Rahayu, penduduk asli Jakarta,” Ucap lelaki itu membaca koran, “duh, kasihan perempuan ini.”

Tuhan Memberiku Sebuah Pelajaran

Segera kuhentikan membaca buku Chicken Soup for The Soul dan mengecilkan volume radio. Telepon selular yang berbunyi nyaring sekian detik lalu, pun kuangkat. Tertera nomor tidak terdaftar di layarnya. Dengan malas-malasan aku mengucapkan kata “hallo” kepada orang kurangajar di seberang. Jam sebelas malam masih meneleponku? Orang yang tak mempunyai perasaan!

“Rahman, ya? Sorry, malam-malam mengganggu. Kira-kira, kamu bisa meminjamiku uang sekitar lima juta, tidak? Aku perlu untuk membayar dp operasi ginjal anakku. Tolonglah, Cuma kamu yang bisa membantu. Kalau memang ada uangnya, pagi-pagi kujemput ke rumahmu.”

Brengsek! Sudah mengganggu istirahat orang, dia malahan menambah pikiran. Meminjam uang? Apa dipikirnya aku ini bank berjalan? Lagipula, siapa sih dia?

“Oh, Maaf. Aku Hardi, teman sekantor kamu dulu,” jawabnya seolah mengetahui jalan pikiranku.

Kuingat-ingat mantan teman sekantorku. Hardi, Hardi…. Ha, aku ingat dia! Dia adalah  bekas supervisorku. Mungkin jabatannya sekarang masih itu-itu saja. Beruntung aku cepat-cepat mengambil keputusan, berhenti kerja di kantor itu, kemudian memulai usaha sendiri. Ternyata garis tanganku bagus. Aku sukses. Penghasilanku sebulan hampir mencapai delapan juta. Jadi, bila dipinjamkan ke si Hardi lima juta, uangku masih bersisa tiga juta. Cukuplah untuk biaya hidup sebulan bertiga istri dan anakku yang beranjak remaja.

Tapi tunggu dulu, kalau dipikir-pikir alangkah enaknya dia. Kupinjami uang, pasti tanpa bunga. Entah kapan bisa membayarnya, tak jelas. Bisa-bisa modal usahaku mati lima juta sama dia. Sekali lagi enak betul! Lagipula, bila lima juta kuberikan kepadanya, darimana lagi uangku untuk modal berjudi dengan teman-teman sebisnis? Kemudian mengencani Ratna yang bahenol, pelacur lokalisasi ternama itu.

“Bagaimana, Rahman?”

Dengas tegas kujawab, “Tidak!” Tanpa menunggu balasan dari Hardi, langsung kumatikan telepon sebenar-benar mati. Artinya, powernya ku-off-kan.

“Siapa, Mas?” Istriku tiba-tiba bangun. Dia mengucek-ngucek mata sambil berdiri. Dia berjalan ke meja, lalu meminum segelas air dingin sampai habis. Kemudian menatapku meminta jawaban.

“Biasa! Si Hardi. Mantan teman sekantorku. Dia mau meminjam uang lima juta. Kujawab saja tak ada,” gerutuku seraya bersiap-siap tidur.

“Kalau memang perlu, pinjamkan saja. Membantu orang yang kesusahan, besar pahalanya, Mas. Lagipula, itu semakin memperlancar rejeki kita.” Istriku memberikan wejangan.

Kujawab, “Enak saja!” Dan semua hening seiring suara dengkur yang sengaja kubuat-buat, agar istriku tak memperpanjang pertengkaran.

Sepulang kerja, mendadak dadaku sangat sakit. Seperti dipilin-pilin, sehingga rahangku ikut-ikutan ngilu. Keringat dingin membanjir. Sepiring nasi-sop yang telah kuhabiskan, seketika meletus di mulut. Tumpah ke lantai, bersamaan istriku berteriak histeris. Dia mengurut-urut tengkukku sampai seluruh isi perut ini menggenangi lantai. Baunya busuk, sehingga aku sendiri tak tahan menciumnya.

“Kenapa, Mas?” Istriku kelabakan. Anehnya, ketika ingin menjawab, suaraku seolah tertelan di perut. Napasku menggapai-gapai, tapi tak memiliki rima. Terdengar olehku, yang keluar dari mulut ini hanya dengung serupa bunyi lebah. “Kita ke dokter Thamrin saja,” kata istriku cepat.

Dibantu supir, akhirnya kami sampai di sebuah klinik penyakit dalam. Tertera di papan nama bebarapa kata; dr. Thamrin spesialis penyakit dalam, praktek jam 16.00-19.00 WIB. Oh, aku benar-benar beruntung. Baru kali ini aku bersyukur hendak bertemu dokter. Padahal biasanya hanya kebencian yang mendera batin ini terhadap sebaris profesi itu. Sebab aku melihat, hidup dokter sangat nikmat. Hanya nongkrong di rumah atau klinik, pasien datang berbondong mengangsurkan uang. Tanpa ada nego, tanpa ada diskon. Berapapun nominal yang diucapkannya, pasti pasien menyanggupi. Berbeda betul dengan pebisnis sepertiku. Belum mendapatkan proyek, harus nego-nego dulu, mengasih diskon bahkan pelicin yang sangat cepat mengoyak kocek ini.

Masuk ke ruangan putih-bersih, aku dihadapkan kepada seorang lelaki yang menurutku tak pantas menjabat sebagai dokter. Dia cocok sebagai orang pintar, atau paling tidak ustadz. Dia lelaki berpakaian gamis. Memakai topi haji. Sementara kumisnya dicukur habis. Jenggotnya panjang melebihi jenggot kambing. Tapi satu yang membuatku harus lebih sering tertunduk di hadapannya. Matanya setajam silet seperti menghukumku. Senyumnya seolah sinis. Padahal kutahu, itu hanya perasaanku saja. Buktinya, istriku mengobrol hangat dengannya.

“Pak Rahman tak terkena penyakit apa-apa,” katanya menenangkanku.

“Bagaimana mungkin, Dok? Apa dia terkena serangan jantung? Soalnya dari tadi suamiku ini memegang dadanya terus-menerus,” sela istriku. Aku mengangguk-angguk setuju. Untuk berbicara, aku masih belum bisa. Aku berubah menjadi si bisu.

“Mungkin ini hanya teguran saja, Bu!” jawabnya. Dia menarik napas dalam-dalam. “Percuma saja dia kuberi obat paten. Sebab bukan jasmaninya yang diserang penyakit. Melainkan rohaninya.” Si dokter bertambah membuatku bingung.

Dia hanya tersenyum. Dia masuk ke dalam bilik kecil, lalu keluar lagi sambil berkata, “Bapak pasti pernah mengecewakan seseorang yang sangat butuh pertolongan. Padahal Bapak sangat berdaya membantunya. Tapi karena sifat medit, akhirnya permintaan orang tersebut ditolak mentah-mentah. Tentu hatinya sangat hancur. Dia sangat kecewa, sehingga kekecewaannya itu berbalas kepada Bapak. Intinya, Bapak sakit.”

Selintas bayang-bayang Hardi mengejarku. Apakah dia mendoakan supaya aku celaka karena tak meminjami duit? Brengsek benar dia.

“Maaf Bapak. Orang yang dikecewakan itu, tak perlu mendoakan agar Bapak sakit. Tapi Tuhan-lah yang turun-tangan menyelesaikannya.” Dokter Thamrin dapat membaca pikiranku.

Istriku buru-buru berkata, “Benar, Dok. Tadi malam, teman Mas Rahman memang ada menelepon. Dia mau meninjam uang lima juta. Tapi suami saya ini tak memberi. Mungkinkah itu penyebabnya?”

“Anda benar! Jadi, sebelum uang lima juta diberikan, Bapak akan sakit dan semakin sakit. Sekarang, pulanglah dulu. Berikanlah uang sejumlah permintaan teman Bapak itu.”

Kekesalanku mengubun. Meskipun si dokter tak mau dibayar atas konsultasinya tadi, tapi menurutku dia orang yang brengsek. Enak saja dia mengatur-atur orang supaya meminjamkan uang kepada yang butuh itu. Memang dia siapa? Apa dia yang menggajiku? Apa uang-uangku berasal darinya? Tidak bisa! Lebih baik sakit begini.

Mendadak sesampai di rumah, kakiku berdenyut bukan kepalang. Aku seketika tak bisa berjalan. Tubuhku terjerembab, dan napasku satu-satu. Perlahan-lahan jempolku terasa dingin dan kaku. Kemudian menjalar ke betis, ke lutut, ke paha, selangkangan, perut, dada, oh… Tuhan. Apakah nyawaku akan dicabut?

Cepat-cepat istriku mengambil uang lima juta di lemari. Cepat-cepat ditanyanya kepadaku alamat si Hardi. Namun sebelum semua terlaksana, pandanganku gelap. Lalu aku sekonyong terbangun dari tidur dengan tubuh bersimbah keringat. Istriku yang baru selesai mandi, sampai memucat melihatku.

“Kenapa, Mas?”

“Aku, aku mimpi buruk. Aku terkena penyakit aneh, sebab tak meminjami uang kepada si Hardi.” Kesetanan kucari nomor telepon si Hardi di telepon selularku. Sayang, ternyata tak bisa ditemukan lagi. Aku telah menghapusnya.

Bergegas kuambil buku agenda, mencari-cari alamat temanku. Hardi, Hardi… Uh, dimana sih alamat rumahmu?

Aku sangat takut kalau-kalau kejadian di mimpiku barusan, akan menimpaku dalam waktu dekat. Dan aku mati, meninggalkan kekayaan, istri yang cantik dan anak yang dicinta. Tidak, ini tak boleh terjadi!

Istriku masih kebingungan. Namun aku harus bergerak cepat. Beruntung alamat si Hardi kutemukan; Jalan Enggang Nomor 88. Uang lima juta di lemari langsung kuambil. Sopir kupanggil, lalu meluncur ke alamat tersebut.

Lumayan susah mencarinya. Harus bertanya kepada beberapa orang yang kami temui di jalan. Harus melewati beberapa lorong sempit dan kubangan air. Ah, ini salahku. Meskipun memiliki banyak teman, tapi aku paling anti berkunjung ke rumah mereka. Akibatnya, sekarang aku blingsatan mencari salah satu alamat temanku.

Beruntung setelah perjuangan melelahkan, kutemukan rumah Hardi di ujung jalan tanah. Rumahnya beratap seng yang disusun tak beraturan. Beberapa anak kecil tanpa baju, asyik bermain mobil-mobilan di halamannya yang becek. Kulihat seorang anak yang mirip Hardi duduk di bangku panjang depan rumah. Mungkin dia anaknya yang sakit itu, dan sudah mulai sembuh.

“Mas Hardi ada?” tanyaku ramah.

“Oh, Ayah….” Dia menoleh ke dalam rumah. “Sudah pergi duluan, Pak.”

“Ke rumah sakit?” lanjutku.

“Bukan. Ke kuburan, Pak. Adikku yang kemarin dirawat di rumah sakit, sudah meninggal. Ayah tak punya uang untuk biaya operasinya.

Jadi, adik kami bawa pulang ke rumah.  Tapi tak lama, dia langsung meninggal,” jawabnya sambil meneteskan airmata.

Seketika dadaku seperti ditusuk ribuan jarum. Aku terjerembab ke tanah sambil memeluk uang lima juta di dalam amplop. “Tuhan, Engkau telah memberiku sebuah pelajaran,” batinku penuh penyesalan.

Lukisan Terakhir

Tiba-tiba sebuah kapur papan tulis melayang tepat mengenai kepalaku. Secara refleks kuhentikan pena yang sedari tadi menari tanpa henti. Beberapa kawan terlihat tertawa kecil dan yang lainnya menatap aneh padaku. Pak Sarpadi, guru matematikaku mulai naik pitam. Nada bicara yang keluar dari mulutnya kurang sedap di dengar. Bagiku ocehannya itu hanyalah omong kosong belaka. Dunia ini adalah omong kosong.

Untuk kesekian kalinya Kepala Sekolah memanggilku. Ia sangat peduli terhadapku. Entah karena iba atau mungkin karena memang akulah makhluk terasing di dunia ini. Apapun alasannya, seakan aku tidak bisa merasakan bahwa dunia akan berkarib denganku. Aku tak tahu apa yang terjadi. Dalam setiap lamunan dan pikiranku, mungkinkah aku terlahir di dunia yang salah? Segala sesuatu yang kurasakan hanyalah fana, jadi untuk apa aku memperjuangkan sesuatu  yang pasti berlalu dari hadapanku.

Sekolah telah usai. Aku senang menatap kerumunan orang dari atas gedung sekolah tiga tingkat ini. Bercengkerama dengan yang lain terasa aneh bagiku, meski bahasa verbal yang mereka gunakan kurang lebih sama dengan milikku. Kunyalakan zippo putih bercorakkan bunga melati. Aneh, orang lain mungkin akan memilih corak yang begitu keras seperti elang atau harimau. Namun untukku bunga melati ini memberikan makna yang berbeda. Ia adalah simbol sebuah harapan. Harapan yang fana, tapi memberikan secuat imajinasi untuk mengarungi luas samudra dunia realitas ini. Sebatang rokok kutarik dari jaket hitam pemberian Ibu. Kuhisap perlahan agar ia terbakar sempurna dan kuhabiskan selang waktu ini bersama teman kecil yang akan membunuhku suatu hari nanti.

Tiga batang sudah kuhabiskan. Bersama lamunan-lamunan kecil tentang dunia yang juga menemani sore cerah ini. Kubalikkan badan dan sedikit berharap bahwa tidak akan ada yang mencium aroma khas rokok dari mulutku. Dan aku tercengang! Seseorang mengawasiku entah sejak kapan gaibnya.

Ia seorang wanita! Perawakannya tegap, namun tidak lebih tinggi dariku. Rambut tergerai panjang dengan poni lurus. Sepatu kets putih lusuh dengan kaus kaki putih bersih berpadu padan bersama rok abu-abu dan kemeja putih ketat. Keganjilan nampak saat kudapati ia dengan santai menikmati beberapa batang rokok sambil menatapku.

“Udah berapa lama kamu disini menatapku?” Tanyaku sembari menghampirinya.

“Sebelum kamu datang aku udah disini duluan kok.” Jawabnya santai.

“Kamu juga suka nongkrong  disini sepulang sekolah?”

“Ya, hampir tiap hari” Kataku sesaat ketika mencuri pandang pada lekuk tubuhnya. Namun pada akhirnya aku lebih memilih untuk pulang ke rumah daripada melanjutkan pembicaraan ini.

“Emm.. Sudah ya, aku mau pulang dulu, ada PR yang harus aku selesaikan.”

“Tunggu, kita pulang bareng.” Sergahnya sambil membuang puntung rokok yang dihisapnya.

“Kamu ga mau Kepala Sekolah tau kita ngerokok disini kan?”

Akhirnya dengan berat hati kuiyakan saja kemauannya.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Sesekali dia atau aku mencuri pandang. Dia terlihat manis, tapi aku rasa ini karena aku melihat secara fisiknya saja. Harus kuakui sifat antisosialku membuat kawan-kawan disekolah menjauh sekaligus membuatku selalu terkucil dari kehidupan dunia. Membuat mereka sulit menerka-nerka kepribadianku dan begitu pula sebaliknya.

“Hei, rumahmu dimana sih?” Tanyaku untuk mencairkan suasana yang dingin ini.

“Belakang Masjid Jami’ lebih tepatnya di Benteng Sari no 26.”

“Oh, kalau gitu ga terlalu jauh dari tempatku.”

“Emang rumah kamu dimana?”

“Bukan rumah tapi kos-kosan, dekat Akper Pemprov di Sumberan.”

“Emm… Kalo gitu tiap hari minggu sering jogging di alun-alun ya?”

“Eh aku jarang olah raga, lebih banyak berdiam diri dalam kos-kosan.”

“Loh emang ga bosen apa di dalam ruangan terus? Sesekali keluar dong, hidup itu untuk dinikmati bukan untuk disia-siakan.”

Sejenak aku tertegun akan ucapannya barusan. Dia seperti membongkar sekat-sekat duniaku dengan segala macam magisnya. Aku melulu menatap  matanya yang selalu bersinar itu. Dan kamipun menghabiskan perjalanan pulang dalam bis dengan hanya saling bertatap pandang. Ya, hanya bertatap pandang, namun penuh makna bagiku.

Malam hari ini begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Mataku tak bisa terpejam hingga larut malam. Wanita yang aku temui tadi terus menggelayuti pikiranku. Membutakan segala yang biasanya menjadi milikku. Tanpa kusadari api cinta mulai menyala dalam hidupku yang sepi ini. Terus saja kubayangkan tiap detil dirinya yang terekam dalam memori otakku. Hingga akhirnya akupun terlelap pulas.

Mentari mulai menampakkan cahayanya dari ufuk timur. Pagi yang cerah dengan aroma basah pegunungan menimbulkan harmoni perpaduan udara yang sedikit lembab dan dingin. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan bis. Aku berharap bisa melihatnya pagi ini. Namun sepertinya harapan hanya tinggal harapan. Ia tak kunjung datang walau aku sudah menunggu di depan halte dua blok dari rumahnya. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.40 dan jika aku tak segera berangkat, aku akan terlambat sekaligus menambah panjang daftar masalahku dengan BK. Akhirnya kuputuskan berangkat saja. Dan memendam sedikit kekecewaan di hati.

Pelajaran bahasa indonesia hari ini sedikit lebih menarik. Bu Tyas membahas tentang abstraksi sastra dan nilai-nilai gairah penulis dalam tulisannya. Aku yang biasanya terkenal acuh saat pelajaran, kini sedikit lebih fokus saat Bu Tyas mengajar. Pada pertengahan pelajaran konsentrasiku sedikit buyar ketika mendapati sebuah pesan singkat masuk dalam Hpku.

“Juna, pulang sekolah nanti temuin aku di tempat pertama kita bertemu. Novella.”

Jadi wanita itu adalah Novella. Anak yang menjadi buah bibir disekolah karena memenangkan penghargaan seni dari sebuah universitas swasta. Hatiku berdegup sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Hawa panas mulai mengalir dari dada hingga ke seluruh penjuru tubuh. Inikah cinta? Ataukah ini hanyalah ilusi belaka? Dari semua perasaan dan pikiran yang berkecamuk saat ini akhirnya sebuah jawaban yang tidak terduga melintas dihadapanku.

“Juna”

“Eh.. iya Bu”

“Apa yang dapat kamu simpulkan dari pelajaran kita hari ini?”

“Maaf menyimpulkan tentang apa Bu?”

“Tentang unsur mana dalam novel ini yang menunjukkan bagian paling romantis menurutmu?”

“Emm… Bagian yang menarik dari novel ini adalah bagaimana letak tata kota digambarkan oleh lebah yang berpergian dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Jadi kurasa sang penulis menginginkan kita menyelarasan sudut pandang kita, tidak dengan sudut pandang Tuhan, melainkan dengan sudut pandang serangga. Makhluk terkecil dan paling sederhana di bumi ini. Suatu harapan kecil yang pantas untuk diperjuangkan yang mana merupakan unsur yang cukup romantis menurut saya.”

Seluruh isi kelas sedikit tercengang dengan jawabanku. Bahkan Bu Tyas sendiripun sempat merasakan hal tidak biasa dalam diriku.

“Menarik sekali Juna. Kamu dapat menyimpulkan hal paling tidak terduga yang bahkan Ibu sendiri tidak bisa melihatnya, dan aku rasa kamu sudah mendapatkan judul untuk makalahmu nanti.”

Bel tanda sekolah telah usai mulai menggema dari ujung lorong kelas yang semula sepi. Kini dipadati dengan anak-anak yang berjubel keluar kelas. Beberapa dari mereka langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Sebagian lainnya mengikuti beberapa ekskul.

Novella telah menungguku di atas gedung sekolah. Kali ini dia tidak menghisap rokok lagi, tapi memandang jauh ke arah kerumunan anak-anak dari tempat yang biasanya aku gunakan.

“Tempat yang bagus untuk melihat pemandangan sekitar, khususnya kerumunan anak-anak dibawah.”

“Ya, darimana kamu tau nomer Hpku?” Tanyaku sambil mendekatinya.

“Aku punya banyak teman, jadi kurasa tidak terlalu sulit untuk mendapatkan nomer dari anak yang aneh dan misterius sepertimu.” Katanya dengan diikuti senyum kecil.

“Kalau begitu aku tidak terlalu misteruis dong hehe.”

“Jalan-jalan yuk, ada tempat yang bagus untuk kita nongkrong.” Timpanya sembari menarik lenganku.

Benar saja, ia membawaku ke cafe dengan pemandangan eksotis gunung sindoro. Tempat yang cukup nyaman untuk saling mengobrol, membicarakan banyak hal sampai layung senja hadir.

“Ve, menurut kamu apa yang pantas diperjuangkan dalam hidup?”

“Tergantung, kamu kok aneh tanya-tanya kaya gitu?”

“Yah, aku punya masalah dengan motivasi.”

“Serius?”

“Orang lain mungkin takut akan kematian, tapi aku takut untuk hidup.”

“Lalu kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi denganku.”

“Hmm memang aneh dirimu, hei bisa kulihat gambar yang selalu kamu buat disetiap pelajaran sekolah?”

“Tentu saja.” Kataku sambil mengambil sketch book milikku.

Ia memandangi lembar demi lembar. Seakan sedang membaca tiap detil makna dari goresan pada objek yang aku buat. Mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan olehku. Sesuatu tentang diriku yang ada dalam goresan-goresan itu. Sesuatu yang dapat menjelaskan atas segala pertanyaanku tentang kehidupan.

“Kamu punya masalah dalam hidup.”

“Yah, untuk seorang rebellian sepertiku wajar saja .”

“Gambaranmu ini menyimpulkan banyak hal, tentang amarah, kekecewaan, dan kesedihan mendalam.” Katanya sesaat sebelum meminum secangkir cappucino yang ia pesan.

“Kamu itu sensitive artist.” Timpanya lagi.

“So, any advice?”

“Carilah sesuatu atau seseorang untuk kamu sayangi. Jika dunia tidak bisa menerimamu, paling tidak yang kamu sayangi itu akan membuatmu tegar berdiri menghadapi segala sesuatu yang ada.”

Aku hanya terdiam. Tak tahu jawaban atau pertanyaan apa lagi yang harus kulontarkan padanya. Aku manusia yang antisosial. Bagaimana caraku menemukan sesuatu atau seseorang untuk kusayangi? Meski telah kunaikkan adrenalin di kepalaku, tetap saja tak ada solusi atas pernyataan Ve barusan.

“Ga usah diambil pusing dulu, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa nemuin itu kok.” Kata Ve untuk menyemangatiku.

Kata-kata Ve tadi masih mengiang di kepalaku. Apalagi setelah pulang ke rumah, bukannya kunjung mereda, tapi malah semakin meninggi intensitasnya. Ah seandainya saja menemukan sebuah jawaban sama dengan membalikkan telapak tangan, sudah tentu umat manusia akan hidup dalam ketentraman. Kucoba mengubur segala keruwetan ini dengan menggambarkan beberapa objek abstrak di atas kanvas. Pada awalnya cukup efektif, namun kelamaan malah terlalu banyak mengambil tenagaku. Hingga akhirnya aku tertidur di meja belajar.

Hubunganku dengan Ve jadi semakin dekat. Sudah dua bulan ini kami menghabiskan waktu bersama. Membicarakan banyak hal yang semakin hari semakin asik untuk diperbincangkan. Ternyata ia jauh lebih menarik dari yang dulu aku bayangkan. Ia dapat memahami diriku sepenuhnya meski sudut pandang kami berbeda. Namun perasaanku untuknya masih tetap menjadi rahasia antara aku dan Tuhan.

Sebenarnya beberapa hari belakangan ini aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. Sampai suatu ketika Ve mengajakku pergi ke pesta ulang tahun temannya. Semula aku tidak yakin berangkat bersamanya, namun dengan sedikit paksaan dari Ve akhirnya kami pergi juga. Tak kusangka pestanya lumayan meriah. Rasa nervous berbaur dengan pening yang tadi kutekan karena Ve kini meledak lagi. Gugup tak karuan, hingga membuatku seperti orang tolol. Ve terus saja menggenggam tanganku, membawaku berputar-putar ke seantero sudut pesta, dan mengenalkanku pada teman-teman terdekatnya.

“Juna kamu sakit apa? Muka kamu pucet banget deh, udah gitu ada rona merah disekitar pipi kamu.” Kata Ve ketika kami duduk di sudut ruangan pesta.

“Oh, ga apa-apa kok, tadi blom makan sih hehe” kataku sambil tersenyum kecil.

“Beneran nih? Kita pulang aja ya, aku takut kamu kenapa-kenapa.”

“Ga apa-apa kokVe, udah tenang aja aku udah biasa kok kaya gini.”

Meski aku berusaha untuk meyakinkan Ve, namun tetap saja ia sedikit khawatir padaku. Rona kecemasannya tergurat diwajahnya, apalagi saat tubuhku mulai susah untuk berdiri tegak. Kini pandanganku mulai kabur dan nafasku mulain terengah-engah. Tenaga yang ada mulai tak kuasa lagi menopang berat tubuhku. Semuanya menjadi gelap.

***

Aku melulu menagis sendu didepan ruang ICU. Jika saja tadi Juna tidak aku ajak pergi, mungkin kejadian ini bisa dihindari. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Juna? Dia tidak pernah bercerita jika memiliki gangguan kesehatan atau perihal-perihal lainnya.

Dua jam berselang dokter dan beberapa perawatnya keluar dari ruang ICU. Mereka berdiskusi kecil sembari melanjutkan langkah mereka menuju kearahku.

“Ada kerabat atau seseorang yang dekat dengan saudara Juna tidak disini?”

“Saya, saya teman dekat Juna Dok.” Kataku lirih karena menahan air mata yang sejak tadi terus mengalir.

“Begini mbak, apa mbak tau keadaan Juna belakangan ini?”

“Tidak Dok, yang saya tahu ketika kami hendak pergi pulang wajahnya pucat sekali Dok.”

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Juna Dok?” Tanya Arya teman sekelas Juna dan juga sahabat dekatku.

“Begini, saudara Juna ini seorang Odipus, atau dalam kata lain dia menderita penyakit Lupus tipe SLE yang mana membuat produksi sistem kekebalan tubuhnya berlebihan sehingga merusak jaringan tubuhnya sendiri. Sekarang saudara Juna sedang dalam kondisi kritis sehingga usaha yang kami lakukan mungkin tidak banyak membantunya.”

Tangisku kembali pecah ketika mendengar perkataan dokter seperti itu. Jujur aku tidak ingin kehilangan Juna. Apalagi belum kuutarakan perasaanku padanya. Perasaan yang kupendam sejak pertama bertemu dengannya. Aku menyesal, bahwa seharusnya sudah dari dulu aku ungkapkan kalau aku menyukainya. Apalagi akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu bersama. Oh Gusti, jika engakau mendengar do’aku berikanlah sedikit keajaiban agar Juna dapat terbangun dari masa sulitnya, dan jika memang cinta adalah perasaan yang membahagiakan, janganlah engkau biarkan cinta itu tak terungkapkan.

Tak berselang lama, orang tua Juna datang dari Bandung. Perasaan mereka bercampur aduk tidak karuan mengetahui anaknya terbaring koma di rumah sakit. Aku masih terus menangis meski beberapa teman mencoba untuk membuatku tetap sabar menerima keadaan. Sementara Arya dan Dika mencoba memberitahukan kondisi dan kejadian sebelum Juna koma.

Sudah enam hari Juna terbaring koma di rumah sakit. Dari perkembangan yang aku dengar kondisinya masih saja labil, terkadang baik namun di lain waktu memburuk. Ibu Juna bercerita jika sejak Juna divonis mengidap penyakit Lupus, Juna selalu menutup dirinya dengan pergaulan dunia. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di kamar. Melukiskan berbagai hal-hal yang sedang ia rasakan. Oh aku harap aku dapat menjadi orang yang paling dekat dengannya, menjadi orang yang paling mengerti tentang segala macam masalahnya, dan menjadi orang yang paling menyayanginya.

Pagi mendung dengan cuaca amat dingin, ditambah kabut tebal yang mulai menutupi jalanan membuatku sedikit takut untuk keluar rumah. Aku masih terus memikirkan keadaan Juna disana. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah. Aku berjalan kearah depan rumah dan membuka pintu.

“Apa ini benar rumah Novella?” Tanya seorang pria yang mengetuk pintu rumahku. Ia terlihat membawa sebuah bungkusan besar dan panjang.

“Iya benar, ada yang bisa saya bantu Mas?”

“Ini ada paket kiriman untuk Novella” Sembari menyerahkan paket kiriman itu.

“Kiriman dari siapa Mas?” Tanyaku karena sedikit kebingungan.

“Wah saya tidak tahu Mba, kerena pengirimnya hanya mencantumkan alamat yang dituju saja. Tapi ini ada sepucuk surat yang dibawakan bersama paket ini Mba.”

“Oh iya, terimakasih ya Mas”

Kututup pintu depan rumah, seraya membuka paket misterius tersebut. Aku kaget bukan kepalang. Isi dari paket itu adalah sebuah lukisan. Lukisan wajah seorang wanita yang mirip sekali denganku. Segera saja aku buka surat yang dikirim bersama paket ini dan membacanya.

lukisan juna

Dear Novella, entah bagaimana lagi harus kukatakan karena sejujurnya aku bukanlah seorang penulis yang puitis. Tapi aku ingin ketahui bahwa engkau telah berhasil merubah duniaku yang gelap kelabu menjadi lebih berwarna. Harusnya kukatakan ini sejak lama, namun sulit sekali kuungkapkan karena aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Aku sangat menyayangimu. Aku inginkan kamu untuk berdiri disisiku dalam satu garis warna pelangi. Lukisan itu mendeskripsikan segala macam perasaanku padamu. Mungkin sedikit sulit dipahami karena itu adalah lukisan abstrak. Namun aku yakin kamu dapat membaca isyarat dari tiap goresannya. Aku yakin aku akan mampu memahaminya. Karena meskipun bahasa tak bisa menjadi jembatan antara kita, hatilah yang akan menghubungkan kita, sebarapapun jarak memisahkan kita.

Juna

Air mataku jatuh perlahan. Ternyata Juna juga memiliki perasaan yang sama denganku, dan ia mencurahkan segenap perasaannya dalam lukisannya ini. Kusentuh tiap lekuk goresan dalam lukisan Juna. Aku menangis sendu dan dalam hati ini kukatakan bahwa aku juga mencintaimu Juna.

Tanpa kusadari Hp yang kutinggalkan di kamar terus saja berdering. Itu telepon dari Ibu Juna. Aku hanya menatap lukisan Juna dengan tangis akan nasib yang telah tertuliskan di garis maris telapak najam. Juna, seandainya kamu ada disini, akan kukatakan bahwa engkau telah menawan hatiku dari dulu dan engkau pulalah yang telah menanamkan bunga seribu musim di dadaku. Kini datang sebuah pesan singkat dari Ibu Juna. Ia mengatakan bahwa Juna telah meninggalkanku untuk selamanya di dunia yang fana ini. 

Rajutan Untuk Ratih

style teaser

“Kalau Ratih jadi kuliah di kota, memangnya ibu ngga apa-apa?”

“Ya ngga apa-apa toh nduk, ibu justru senang.”

“Terus yang nemenin ibu jualan pagi-pagi, siapa?”

“Ya ibu sendirian toh.”

“Tapi, bu…”

“Udah tenang aja, yang penting kamu berhasil, dan semoga beasiswa itu benar-benar kamu dapatkan. Ibu akan sangat bangga.”

“Doakan Ratih ya, bu. Pengumuman kelulusan dan beasiswa itu besok pagi.”

“Pasti, cah ayu. Mari kita berangkat, nanti keburu siang.”

Matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Satu persatu bulir embun meninggalkan kelopak kembang dan dedaunan, tersapu mentari. Kabut dari puncak bukit mulai turun, udara di desa begitu dingin, bahkan mampu menembus baju hangat yang dikenakan oleh para pejalan kaki. Jika libur, Ratih menemani ibunya berjualan makanan untuk penduduk desa sarapan. Ya, hasilnya tidak seberapa, tidak cukup untuk menghidupi, oh, tidak, kalau hanya untuk makan sehari-hari, mungkin saja cukup, tapi jika untuk biaya Ratih kuliah di perguruan tinggi, tentu tidak cukup. Bahkan untuk biaya Ratih sekolah SMA saja sering nunggak. Karna itulah ibu Ratih menerima pesanan rajutan untuk baju hangat, syal, sarung tangan, kaos kaki, dan apapun yang dipesan untuk mencukupi biaya tersebut.

Semangat Ratih sangat tinggi, ia bertekad untuk kuliah agar nantinya dapat menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan ibunya tercinta. Karna itulah Ratih tiada henti belajar demi kelulusan dan beasiswa yang diselenggarakan oleh pihak sekolah bagi siswa yang berprestasi. Prestasi Ratih cukup gemilang, ia memang terkenal gadis yang pintar. Tapi agaknya Ratih cukup berat meninggalkan ibunya seorang diri. Ibunya mulai sakit-sakitan beberapa minggu terakhir ini. Sedangkan ayahnya, sudah meninggal karna sakit dua tahun lalu. Kini Ratih hanya hidup berdua dengan sang ibu. Penuh dengan kesederhanaan, tapi mereka tetap tiada henti bersyukur dan menjalani kehidupan dengan suka cita.

***

Langit mulai lindap. Ditambah cuaca petang ini sangat mendung, membuat udara lembab menjadi sangat dingin. Ratih sedang mempersiapkan makan malam. Sementara sang ibu terus merajut baju hangat sedari siang tadi. Diperhatikan ibunya yang tengah serius merajut dan sesekali terbatuk. “Uhuk…uhuk…” Kali ini batuknya terdengar agak kencang. Ratih hanya termangu memperhatikan ibunya yang sudah mulai renta. Hatinya teriris, rasanya ia tak tega meninggalkan ibu untuk kuliah di kota.

“Bu, ayo makan, makanannya sudah Ratih siapkan.”

“Sebentar lagi, nduk, lagi tanggung…uhuk…uhuk…”

“Iya, tapi kan habis makan bisa dilanjutin ngerajutnya. Ayo, bu, makan dulu aja bareng Ratih.”

“Iya, iya…”

Ibu Ratih tergopoh-gopoh bangkit dan berjalan ke meja makan. Makanan sudah terhidang di meja. Meski hanya dengan lauk tempe dan sayur bayam, tapi mereka sangat menikmati hidangan malam itu.

“Bu, Ratih ngga jadi kuliah ya.”

“Lho, kenapa nduk?”

“Ngga apa-apa, Ratih mau nemenin ibu aja.”

“Jangan toh, sayang. Lagian ini kan demi masa depanmu.”

“Belum tentu dapet beasiswa juga toh bu.”

“Iya, tapi kan kemungkinannya sudah besar. Pokoknya, kamu harus kuliah, titik! Ibu sangat bahagia kalau kamu bisa kuliah.”

“Nggg…tapi… Besok ibu ikut ratih ke sekolah ya, kan di dekat sekolah Ratih ada puskesmas.”

“Ya ngga bisa toh, besok pagi ibu kan banyak kegiatan, jualan, terus ibu udah janji mau nganterin pesanan rajutan di desa atas.”

“…” Ratih hanya terdiam. Percuma membujuk ibunya, dia sudah tahu betul watak ibunya itu.

“Ya sudah, ibu melanjutkan kembali rajutan.”

Sementara Ratih sudah mulai beristirahat, ibunya masih saja memintal benang untuk dibuat menjadi baju hangat. Sebenarnya pesanan orang desa atas sudah selesai, tapi yang sekarang ia kerjakan ialah untuk putrinya tercinta. Ibu Ratih ingin menyelesaikan baju hangat itu sebelum pagi. Ia ingin Ratih memakainya untuk berangkat ke sekolah nanti, agar di perjalanan Ratih tidak kedinginan, juga untuk memberikan semangat kepada putrinya itu. Sudah larut malam tapi rajutan belum selesai, ibunya terus tiada henti mengerjakan baju hangat hingga selesai.

***

“Bu, Ratih berangkat dulu ya.”

“Sebentar nak, ini pakai.” Ibu Ratih memakaikan baju hangat yang ternyata sudah rampung.

“Lho, ini untuk Ratih, bu? Bukan pesanan orang desa atas?”

“Itu untuk kamu, nduk, untuk orang desa atas, itu.” Ibu Ratih menunjuk kepada baju hangat yang telah dilipat rapih di atas dipan.

“Wah, terima kasih ya bu, bagus sekali, Ratih sangat suka.” Tersungging senyum sumringah dari bibir Ratih.

“Syukurlah bajunya pas di badan kamu. Sudah sana, cepat kamu berangkat. Ibu doakan kamu lulus dan beasiswa itu berhasil kamu dapatkan.”

“Amin. Terima kasih, bu. Nanti juga ibu hati-hati perginya, jalanan licin semalam habis hujan.”

“Iya, tenang aja, ibu bisa jaga diri.”

Ratih segera mencium tangan ibunya, berpamit untuk berangkat kesekolah. Sepanjang perjalanan Ratih terlihat sangat ceria. Meski hawa dingin sangat menyengat pada pagi itu dikarnakan usai hujan, tetapi terasa hangat bagi Ratih. Entah kenapa tiba-tiba ia sangat bersemangat mendapatkan beasiswa itu, mungkin, karna ia juga sangat bertekad untuk membahagiakan ibunya. Sementara ibu Ratih sudah selesai bersiap-siap, membawa makanan untuk dijual, sekaligus baju hangat pesanan orang desa atas. Meski tubuhnya nampak kuyu karna sangat kurang istirahat, tapi tetap saja hal itu tidak mengendurkan semangatnya.

Pesanan baju hangat telah disampaikan kepada pemesan, kini ibu Ratih tinggal menghabiskan jualannya. Ia berjalan menuruni desa atas, hendak berjualan di sekitaran desanya saja. “Uhuk…uhuk…” sepanjang pejalanan tiada henti ibu Ratih terbatuk-batuk, dadanya terasa sangat sakit sekali. Tetapi ia tetap berjalan menuruni desa atas, hingga memasuki jalan setapak yang menurun sedikit curam. “Uhuk…uhuk…” kembali ibu Ratih terbatuk, tetapi kali ini sungguh ia terkejut, di tangannya yang bekas menutupi mulut karna batuk terdapat darah kental, lalu diiringi batuk kembali. Tubuh kuyuhnya terhuyung-huyung, pandangannya memburam, lalu akhirnya ibu Ratih tersungkur jatuh, tubuhnya menggelinding terjatuh di jalan setapak yang menurun itu, dan…, kepalanya terbentur keras dengan batu yang cukup besar, celakanya lagi batu itu cukup tajam. Tak pelak, darah keluar dari kepala ibu Ratih. Dan lebih celakanya lagi, dikarnakan jalan setapak itu masih sepi, jadi ibu Ratih tidak ada yang menolong.

Terlambat…

***

“Ya, betul, kamu lulus dengan gemilang, sekaligus mendapatkan beasiswa itu.” ujar wali kelas Ratih.

“Beneran, bu? Wah, syukurlah…” terlihat Ratih sangat senang dan tanpa sadar meneteskan air mata.

“Sekali lagi, selamat ya nak.”

Oh, alangkah senangnya Ratih saat ini. Usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Teman-teman Ratih pun ikut senang, dan satu persatu mengucapkan selamat. Ratih tidak ingin membuang-buang waktu, dia segera bergegas pulang. Dia sudah taak sabar mengabarkan hal ini kepada ibunya. “Ibu pasti sangat senang.” ucapnya dalam hati. Tapi sayang, Ratih sudah tidak dapat melihat senyum kebahagiaan itu lagi, karna sang ibu telah tiada. Sepanjang perjalanan Ratih tiada henti tersenyum, tanpa tahu apa yang menimpa ibunya pagi tadi.

Jejak Gerimis

jejakgerimisAnjani kembali duduk di depan jendela kamar yang berada di lantai dua, seperti kemarin dan kemarin sebelumnya, masih sama, menatap keadaan lengang pada jalan menuju ke taman yang berada hanya beberapa puluh meter. Tergambar jelas dari binar matanya tatapan penuh haru, dari jalan yang lengang itu hingga sampai ke taman yang lengang pula seakan berseliweran silam kenangan-kenangan yang penuh bahagia sekaligus duka. Continue reading Jejak Gerimis

Tarot

Tarot

Five of Cups

Kau tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus.

Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kau buka bakal menunjukkan hal yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan yang lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut, tentu dengan kalimat-kalimat yang sebijak mungkin. Tak mudah memang mencari kata-kata yang tepat. Kau melihat wajahnya sedikit tegang memperhatikan gambar-gambar pada deretan kartu yang terpampang di hadapannya, kedua matanya agak melotot.

“Bukan apa-apa, ya bukan apa-apa,” gumammu seakan menenangkan diri sendiri. Tentu kau membenci kartu-kartu buruk itu, terlebih karena dicomot oleh tangan seorang sahabat dekat. Ya, sahabat dekat. Tempatmu selama ini mengeluarkan Continue reading Tarot

Lampu Ibu

Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta, didampingi seorang cucu. Kami tidak bisa lagi menutup mata serta telinga beliau. Kasus dan sakitnya abangku, Palinggam, telah disiarkan koran dan televisi. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda.

“Antar aku dulu menengok abangmu,” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. “Besok-besok aku menginap di rumah si Nina.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu, dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. “Nina dan Continue reading Lampu Ibu

Gemini Yang Tersesat Waktu

geminifj6

Seiris bulan tergantung di langit ujung sebelah kanan jendela balkon. Seperti sepotong semangka pucat yang agak terlalu kecil dari penjual yang kikir. Beberapa kerdip bintang tercecer tak berpola di sekitarnya, layaknya remah-remah roti yang ditumpahkan kanak-kanak. Bagi sebagian orang, mestinya dini hari ini indah. Namun aku memandanginya dengan air muka hampa. Tak tahu mesti merasa apa. Kunaikkan lilitan selimut putih hotel di pingggangku, satu-satunya kain yang membebatku. Masih bisa kurasakan bau kulitnya Continue reading Gemini Yang Tersesat Waktu