Category Archives: Islami

ISLAM SEBAGAI AGAMA PERLAWANAN

Diskursus Islam sebagai agama perlawanan bukanlah diskursus baru. Pun bukanlah diskursus yang hendak meng-kiri-kan Islam. Pada dasarnya, tanpa harus diberi label apapun, Islam datang untuk melawan kezaliman, ketidakadilan, serta penindasan. Wacana ini diangkat sebagai respon terhadap kondisi umat Islam saat ini, khususnya kaum mudanya. Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, orientasi perjuangan umat Islam saat ini terjebak pada ritus-ritus keagaman, tetapi abai terhadap dimensi profetiknya. Orientasi perjuangan umat Islam oleh beberapa orang atau golongan mengalami penyempitan, misal semangat amar ma’ruf nahi munkar hanya sebatas pada penggrebekan tempat tempat maksiat Continue reading ISLAM SEBAGAI AGAMA PERLAWANAN

My Way

Punya pacar itu jaman sekarang udah kaya kebutuhan aja. Bukan lagi sekedar gengsi kalo ga punya status relationship di facebook, twitter, dan socmed lainnya. Mungkin aku satu dari sebagian orang yang memilih untuk tidak berpacaran (saat ini). Why? bukan karena pengen irit duit, atau ga laku, dan semacamnya, tapi aku selalu meyakini bahwa cinta itu bukan tanpa logika. Cinta itu metalogika! Sebagian dari kalian mungkin tidak bisa membedakan antara cinta dan suka, karena memang banyak orang yang sulit untuk membedakannya dan akhirnya jatuh dalam lubang yang kita sebut saat ini dengan kegalauan tingkat akut wkwkwk. Oke, jadi dalam pandangan saya Continue reading My Way

Cinta (Dalam Pandanganku)

Seorang gadis memintaku menulis tentang cinta.
Demi ayah dan ibuku, hei gadis manis dengarlah…

Cinta adalah geraham Muhammad yang koyak di Badar dan Uhud
Cinta adalah kesabaran Ali di Saqifah dan Shiffin
Cinta adalah luka dan kesendirian Fathimah
Cinta adalah racun yang diteguk Al-Mujtaba
Cinta adalah adalah darah Al-Husain di Karbala
Cinta adalah jerit pilu Sukainah, Ruqayyah, Atikah

Cinta adalah sabda Zainab ketika ia bersumpah pada Yazid si celaka, “Demi Allah, tiadalah aku melihat terbunuhnya Husain kecuali keindahan, hai anak marjanah…!!!”

Empat Tingkatan Ilmu Dalam Islam

Dalam Islam, pemahaman/persepsi alias ilmu dibagi menjadi 4 jenis. berikut urutannya dari tingkatan ilmu yang paling rendah ke tingkat yang paling utama :

 

1. Khayal (Fantasi)

Adalah jenis ilmu yang tak memiliki misdaq (wujud luar/realitas) selain di dalam benak. ia adalah jenis pemahaman yang lahir dari khayalan, fantasi, ilusi, dan berbentuk mitos-mitos. nilai kebenarannya ‘zero point’ tidak ada sama sekali.

 

2. Syak (Ragu)

Adalah jenis ilmu yang nilai kebenarannya ‘fifty-fifty’. mungkin benar, mungkin salah. Continue reading Empat Tingkatan Ilmu Dalam Islam

Sunni Lokal Dan Sunni Transnasional

Oleh : Dr. Muhsin Labib

Mencermati fenomena kelompok intoleran (yang umumnya bercorak skriptural) yang makin intensif melakukan ekspansi, dapat dipetakan beberapa sasaran berdasarkan variable sebagai berikut:

Santri 

Berdasarkan letak dan tempat sasaran ekspasi, kelompok skirptural mengintensifkan ekspansinya di wilayah-wilayah non pesisir Jawa, karena sejumlah faktor sebagai berikut:

Wilayah pesisir Jawa terutama Jawa Timur yang dikenal dengan wilayah Tapal Kuda didominasi oleh masyarakat santri, sebagaimana disebutkan dalam teori Clifford Greetz.

Secara sosial, masyarakat santri memang hidup sebagai santri baik secara sosial maupun pendidikan. Santri umum adalah orang yang hidup secara sosial sebagai santri. Umumnya mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan agamawan (kyai). Pola kehidupan mereka pun cenderung nyantri Continue reading Sunni Lokal Dan Sunni Transnasional

Sunni Asli & Sunni Saudi

Oleh : Dr. Muhsin Labib

Kelompok intoleran yang menganut skripturalisme tidak melakukan agresi dan pembusukan secara langsung terhadap Sunni Asyari, yang direpresentasi oleh NU namun melakukannya dengan tiga macam :
1) Melemahkannya melalui pengambilan alihan masjid dan langgar yang secara temurun menjadi basis sosial keagamaan NU
2) Mmenggunting jalur koordinasi PBNU dengan cabang-cabangnya terutama di Jawa Timur dengan beragam modus
3) Melakukan kampanye intensif dengan mencatut nama Ahlussunnah (yang selama berabad-abad identik dengan Akidah Asy’ariyah) dan membajak atribut “Salaf” (yang senantiasa menghiasi papan nama pesantren-pesantren berbasis Sunni Asy’ari) di seluruh wilayah Jawa.

Skripturalisme hanya akan melalukan agresi tidak langsung di wilayah Santri, Continue reading Sunni Asli & Sunni Saudi

Rahbar: Kesempurnaan Kodrati Wanita Dalam Hijab

rahbar

Hijab adalah sebuah norma yang sejalan dengan kodrat manusia. Sedangkan budaya ketelanjangan, gerakan menuju pembauran yang lebih antara dua kelompok gender dan keterbukaan tanpa batas antara mereka adalah gerakan yang bertentangan dengan kodrat dan tunutan alamiah manusia.

Sesuai maslahat dan keharmonisan hidup antara laki-laki dan perempuan, Allah Swt menentukan suatu pranata natural yang memungkinkan keduanya untuk bersama-sama mengelola kehidupan dunia. Allah menetapkan kewajiban-kewajiban dan hak-hak tertentu untuk masing-masing gender. Contohnya ialah lebih ketatnya hijab perempuan daripada hijab laki-laki. Pada laki-lakipun juga ada ketentuan hijab yang harus diindahkan, dan menutup sebagian anggota tubuhnya. Namun, ketentuan hijab bagi perempuan lebih ketat. Ini karena kelembutan bawaan fisik dan mental perempuan menjadi cermin keindahan dan daya tarik alam semesta. Supaya masyarakat terjauhkan dari kebobrokan, kaum perempuan harus terlindungi oleh hijab. Berbeda dengan perempuan, dalam hal ini laki-laki jauh lebih bebas. Dan inipun tak lain juga karena spesifikasi karakter laki-laki, dan karena ketentuan itu memang sesuai dengan keharmonian alam dalam pandangan Allah Swt.

Keindahan Dalam Islam

Islam sangat memperhatikan faktor keindahan. Prinsip kecenderungan kepada kecantikan, keinginan mempercantik, dan ketertarikan kepada hal-hal yang cantik adalah kecenderungan naluriah. Mungkin saja hal ini relatif berbeda dengan kecenderungan kepada hal-hal yang baru. Kecenderungan kepada yang baru adalah masalah yang lebih umum. Sedangkan masalah keindahan dan pakaian adalah masalah yang lebih spesifik dimana manusia -khususnya kaum muda- tertarik kepada hal-hal yang bersifat indah.

Hijab Masalah Normatif

انّ اللَّه جميل و يحبّ الجمال

“Sesungguh Allah itu indah dan menyukai keindahan.”

Dalam berbagai kitab hadits kita tertera banyak riwayat yang membicarakan faktor penampilan. Di “Bab Nikah” dibahas panjang lebar penekanan supaya pria dan wanita menjaga penampilan. Tidak benar anggapan, misalnya, bahwa laki-laki harus selalu memangkas rambutnya. Dalam syariat, anak muda justru dianjurkan membiarkan rambutnya menghiasi kepala. Dalam hadist disebutkan;

الشَعر الحسن من كرامة اللَّه فأكرموه

“Rambut yang indah adalah anugerah dari Allah, maka hargailah.”

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw selalu menghampiri air dalam bejana untuk bercermin setiap kali akan mengunjungi para sahabatnya. Zaman itu belum ada atau tidak banyak cermin seperti yang ada sekarang, apalagi warga Madinah tergolong masyarakat tidak mampu. Jadi, setiap kali akan mendatangi sahabatnya beliau selalu bercermin pada air dalam bejana. Ini menunjukkan bahwa syariat Islam menganjurkan umat supaya menjaga keindahan penampilan. Hanya saja, syariat mencela dan melarang penampilan yang dapat memancing fitnah, tindakan asusila, dan hedonisme.

Hubungan Antara Laki-Laki dan Perempuan

Batasan gender adalah masalah yang prinsipal bagi umat Islam. Umat Islam meyakini pembatasan ini sebagai persoalan yang mendasar, walaupun tempatnya ada di wilayah furu’. Larangan melakukan hubungan badan yang haram termasuk dalam kelompok furu’uddin. Namun soal keharusan adanya pembatas yang memisahkan antara dua kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda adalah masalah prinsipal. Kita tidak dalam rangka membahas bagaimana bentuk batasan itu. Kita bukan dalam rangka membahas apakah perempuan harus mengenakan cadar hitam (kain lebar warna hitam untuk menutup sekujur tubuh kecuali wajah, pent.) dan penutup muka, misalnya. Boleh jadi batasan ini akan berubah-ubah sesuai dinamika zaman, kondisi, dan lokasi. Yang jelas, batasan itu memang ada dan merupakan salah satu hal yang prinsipal dalam pemikiran Islam.

Masalah hijab adalah masalah norma. Masalah hijab adalah masalah yang punya nilai normatif meskipun hijab itu sendiri disyariatkian demi mewujudkan nilai-nilai yang lebih tinggi dari itu. Alasan mengapa kita selalu menjaga hijab sedemikian rupa adalah karena menjaga hijab akan membantu perempuan mencapai derajat spiritualitas yang tinggi dan jangan sampai ia tergelincir di jalan maknawiyah yang sangat licin ini.

Larangan Cari Sensasi

Antara laki-laki dan perempuan ada ketentuan hijab sebagai pembatas. Keduanya bisa berkomunikasi, berinteraksi, berdialog, dan bersahabat satu sama lain, tapi Islam menetapkan suatu hijab antara keduanya yang harus diindahkan oleh masing-masing. Islam melarang pelanggaran terhadap rambu yang membatasi hubungan antara kedua kelompok ini, mengharamkan penistaan kehormatan wanita, termasuk menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu birahi dan alat untuk memasarkan produk-produk yang penuh keglamoran.

Islam menuntut perempuan untuk memiliki kehormatan dan harga diri yang tinggi, sehingga ia tak mempedulikan apakah ada laki-laki yang memandangnya atau tidak. Dengan kata lain, perempuan dituntut memiliki harga diri sehingga baginya tak beda apakah ada orang laki-laki yang memperhatikannya atau tidak. Tentunya ini sangat berbeda dengan perempuan yang selalu berusaha menarik perhatian orang lewat pakaian, dandanan, tutur kata, dan cara jalannya.

Kematangan Politik dan Sosial Kaum Perempuan

Islam menghendaki kedewasaan pikiran, ilmu, sosial, politik dan terutama spiritualitas kaum perempuan. Islam menghendaki eksistensi perempuan di tengah masyarakat dan keluarga besar umat manusia. Ini merupakan visi yang melandasi ajaran Islam, termasuk menyangkut hijab. Hijab tidak dimaksudkan untuk memarginalkan kaum perempuan. Keliru jika ada orang yang beranggapan hijab mengucilkan perempuan. Ketentuan hijab adalah demi melindungi mereka dari pergaulan bebas, yaitu pergaulan yang berdampak sangat buruk bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan.

Sejenak Bersama Al-Qur’an : Peristiwa Mubahalah

Allah Swt berfirman:

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

 

Kata “Nabtahil” dalam ayat di atas berasal dari kata “Ibtihaal” yang berarti membuka tangan dan siku ke arah langit untuk berdoa. Ayat ini dikarenakan ada kata “Nabtahil” dikenal dengan nama ayat Mubahalah. Kata Mubahalah itu sendiri berarti perhatian dan ketundukan dua kelompok yang saling bertentangan di hadapan Allah Swt dan meminta laknat dan kemusnahan pihak lain yang dianggapnya batil.[1]

 

Dalam buku tafsir Syiah dan Sunni serta sebagian buku hadis dan sejarah kita membaca bahwa pada tahun kesepuluh Hijrah, ada sekelompok orang yang dikirim oleh Rasulullah Saw untuk melakukan tablig Islam ke kawasan Najran yang terletak di Yaman. Warga Kristen Najran juga mengirim delegasi ke Madinah untuk berdialog dengan Nabi Muhammad Saw. Terjadi dialog antara mereka dan Rasulullah Saw, tapi yang terjadi tetap saja mereka berusaha mencari-cari alasan serta berusaha meragukan kebenaran Islam.

 

Akhirnya Allah Swt menurunkan ayat Mubahalah ini kepada Nabi-Nya, “Katakan kepada mereka yang berdialog denganmu dan tidak mau menerima kebenaran, ‘Ajak anak-anak, istri-istri dan diri kita dan meminta kepada Allah Swt dengan kondisi khusyu lalu bermubahalah dengan melaknat orang-orang yang berdusta. Setiap laknat yang menimpa satu kelompok, maka akan jelas bahwa jalannya adalah batil. Dengan cara ini kita akhiri dialog ini.”

 

Ketika delegasi Kristen Najran mendengar usulan Mubahalah dari Rasulullah Saw, mereka saling menatap dan kebingungan. Mereka meminta waktu untuk bermusyawarah memikirkan usulan ini. Seorang tokoh Kristen Najran berkata kepada mereka, “Kalian terima saja usulan itu. Bila kalian menyaksikan Muhammad datang bersama orang banyak untuk Mubahalah, maka kalian jangan khawatir dan ketahuilah tidak akan ada sesuatu yang terjadi bagi kalian. Tapi bila datang dengan beberapa orang saja, maka kalian harus mengundurkan diri dari Mubahalah dan berdamai dengannya.”

 

Hari Mubahalah tiba. Mereka menyaksikan Nabi Muhammad Saw datang dengan disertai dua anak, seorang pemuda dan perempuan. Dua anak itu adalah Hasan dan Husein as, sementara pemuda itu adalah Ali as dan seorang perempuan, yakni Fathimah as, putri Rasulullah Saw sendiri.

 

Uskup Kristen Najran berkata, “Demi Allah! Saya melihat wajah-wajah yang bila mereka memohon kepada Allah agar memindahkan gunung, maka gunung itu akan pindah dari tempatnya. Bila mereka melaknat, maka tidak akan satu orang Kristen pun di muka bumi. Oleh karenanya, segera menyampaikan pembatalan Mubahalah dan bersedia untuk berdamai.”

 

Nabi Muhammad Saw berkata, “Demi Zat yang menjadikan aku sebagai utusan-Nya dengan kebenaran. Bila Mubahalah terjadi, lembah api akan ditimpakan kepada mereka.”[2]

 

Peristiwa ini diriwayatkan tidak hanya dalam buku-buku tafsir Syiah, tapi juga disebutkan dalam sumber-sumber Ahli Sunnah.[3] Sebagaimana yang dikatakan oleh Allamah Thabathabai, “Peristiwa Mubahalah diriwayatkan oleh 51 sahabat Nabi Saw.”[4]

 

Dalam buku Ihqaq al-Haq juga disebutkan 60 ulama Ahli Sunnah yang kesemuanya mengatakan, “Ayat ini tentang keagungan Nabi Muhammad Saw dan Ahli Baitnya as.”[5]

 

Hari Mubahalah terjadi pad 24 atau 25 Dzul Hijjah dan kejadiannya di luar kota Madinah dimana sekarang telah termasuk bagian kota Madinah. Di tempat itu dibangun masjid bernama Masjid al-Ijabah. Jaraknya dengan Masjid Nabawi kira dua kilometer. (Semoga Allah memberikan kesempatan ziarah dan syafaatnya)

 

Berdasarkan sebuah riwayat dalam tafsir al-Mizan, ajakan bermubahalah tidak khusus kepada Kristen saja, tapi Nabi Muhammad Saw juga mengajak Yahudi.

 

Mubahalah juga tidak khusus di masa Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan sebagian riwayat orang-orang mukmin juga bisa melakukannya. Sekaitan dengan hal ini, Imam Shadiq as telah memberikan aturan untuk bermubahalah.[6]

 

Sekalipun Nabi Muhammad Saw sendiri dapat melaknat Kristen Najran dan tidak membutuhkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as, tapi perbuatan beliau ini ingin memahamkan kepada kita bahwa mereka adalah penolong dan partner Rasulullah Saw dalam mendakwahkan kebenaran, sementara tujuan utama adalah beliau sendiri. Mereka adalah pribadi-pribadi yang siap menghadapi bahaya dan pelanjut dakwah Rasulullah Saw.

 

Pertanyaan: Dalam peristiwa ini hanya Fathimah az-Zahra as yang hadir, lalu mengapa Allah Swt menggunakan kata plural “Nisaanaa” yang berarti istri-istri kami?

 

Jawab: Dalam al-Quran banyak kasus dimana Allah menggunakan kata plural untuk satu orang. Seperti ayat 181 surat Ali Imran yang menyebut hinaan seseorang kepada Allah yang mengatakan Allah fakir, tapi kata yang digunakan plural. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan,‘Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya.”

 

Begitu juga Allah Swt ketika menyebut Nabi Ibrahim as sebagai satu umat, padahal beliau hanya seorang diri. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Mohsen Qarati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.

[1] . At-Tahqiq Fi Kalimaat al-Quran.

[2] . Tafsir Majma’ al-Bayan; Manaqib Ibn al-Maghazi, hal 263.

[3] . Tafsir Kabir Fakhr ar-Razi, al-Alusi, al-Maraghi, Ruh al-Bayan, al-Manar, Ibnu Katsir, al-Kamil fi at-Tarikh, Mustadrak Hakim dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

[4] . Tafsir al-Mizan, jilid 3, hal 257.

[5] . Ihqaq al-Haq, jilid 3, hal 46.

[6] . Tafsir Nur at-Tsaqalain, jilid 1, hal 351. Ushul al-Kafi, jilid 2, Bab Mubahalah.

 

Apa Itu Cinta?

haidar-bagir-3(1)

oleh : Haidar Bagir

“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatullah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silaturrahim). Dan silaturrahim adalah memasukkan rasa bahagia di hati sesama.”

Rangkaian hadis yang dijalin oleh Syaikh Yusuf Makassari tersebut bukan saja mengandung konsep cinta (dalam hadis di atas terungkap dalam gagasan tentang rahmah, kasih-sayang), namun juga kebahagiaan (yang dalam versi Bahasa Arab hadis tersebut terungkap dalam kata surur, salah satu kata yang dipakai al-Qur’an untuk mengungkapkan gagasan tentang kegembiraan atau kebahagiaan, di samping farahdan, yang lebih mendasar lagi, sa’adah, thabah, serta falah).

Memang, pada kenyataannya, gagasan tentang kebahagiaan sangat terkait dengan cinta dan kasih-sayang. Bahkan, kita dapat menyatakan bahwa memberi dan memberikan kebahagiaan adalah hakikat dari cinta itu sendiri. Cinta tak lain dan tak bukan adalah sumber dari keinginan untuk memberikan kebaikan – yang mendatangkan kebahagiaan — kepada yang dicintai. Sebagian ulama mendeskripsikan cinta sebagai dorongan untuk selalu memberi.

Mencintai adalah sebuah prinsip menempatkan kebutuhan dan kepentingan kita di bawah (atau setelah) kebutuhan dan kepentingan orang yang kita cintai. Karena cinta, kita rela mengesampingkan kebutuhan dan kepentingan kita demi terpenuhinya kebutuhan dan kepentingan orang yang kita cintai. Inilah filosofi dasar cinta dan kasih sayang. Dan ini berlaku bagi siapa pun, bahkan bukan hanya terbatas pada makhluk yang bernama manusia, melainkan juga hewan, tumbuhan, benda-benda “mati”, tak terkecuali juga Allah, Tuhan semesta alam.

Meski tak memiliki karsa bebas sendiri, sesungguhnya hewan, tumbuhan, bahkan benda-benda “mati” ber-ada di alam semesta, tumbuh, dan beraktivitas, dalam rangka mengejar kesempurnaan, mengejar kebaikan puncak yang mungkin dicapainya sesuai dengan potensi (qadr, kadar)-nya masing-masing. Dengan kata lain, mereka ber-ada dalam suatu cara sedemikian, sehingga keberadaan mereka dapat memberikan manfaat maksimum bagi semesta. Kenyataannya, sudah merupakan suatu fakta ilmiah bahwa alam secara ekologis berfungsi dalam keseimbangan-maksimumnya. Bahwa, jika keseimbangannya tak diganggu – oleh berbagai ulah perusakan – alam akan memberikan manfaat atau kebaikan maksimum (cinta) kepada penghuninya:

“… Tak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang dalam ciptaan Yang Maha Pengasih. Maka, lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu kekurangan di dalamnya?” (QS. 67 : 3)

source : ahlulbaitindonesia

Cinta

Tawa gembira mengabarkan kemurahanmu, air mata merapati kemurkaanmu.

Kedua kabar yang saling berlawanan ini menuturkan tentang kekasih yang satu.

Bagi yang alpha, kemurahan memperdaya sedemikian rupa, sehingga ia tak takut akan kemurkaan, lalu berbuat dosa.

Bagi yang lain, kemurkaaan memberikan keputusasaan, sehingga ia akan tetap putus asa sepenuhnya.

Cinta, bagai perantara yang menaruh kasihan, datang memberi perlindungan pada kedua jiwa yang sesat ini.

Kami bersyukur atas cinta ini, ya Tuhan, cinta yang melaksanakan kemurahan tanpa batas.

Terhadap kekurangan-kekurangan apa pun dalam syukur kami yang mungkin membuat kami berdosa.

Cinta mencukupkan hingga pulih kembali.

Adakah cinta ini Al-Kautsar, atau air haya?

Ia membuat hidup tanpa batas dan syarat, antara pendosa dan Tuhan.

Bagai Rasul, cinta bergerak kian kemari dan amat sibuk sekali.

Berhentilah dengan baris demi baris sajak ini.

Jangan bacakan, Cinta itu sendiri akan menafsirkannya.