Category Archives: Puisi

Floating Bubbles

Hey, listen to my voice,

This voice with which I’m shouting…

I am here.

I’ve turned my blood into a voice,

And I’m shouting at the ends of the earth…

I am a mermaid princess.

A mermaid princess who can’t never return.

A little mermaid who will vanish in a sea of bubbles…

Advertisements

Eternal Midnight

 

On morning that I can’t see you

Spicy mint tea, for brunch, a marmalade muffin

For it’s bitterness matches my mood

My sigh are stardust, just like our own milky way

I can never catch up to your back

Look, the twilight is sneaking up on us

The distance to get to you, is like an eternal, midnight blue….

Cherry Blossom And Falling Leaf

Tiga Tahun yang lalu pada sebuah bandara kecil di Ibu Kota kita duduk bercanda pada sebuah sayap pesawat. Dia adalah seorang wanita luar biasa yang mengubah duniaku. Sampai saat ini aku masih mengingat cara ia memandang segala sesuatu dalam matanya yang bening layaknya embun pagi, atau saat ia terlelap dalam peraduan malam. Ahh, aku juga masih ingat bau parfum kesukaannya yang selalu ia kenakan saat ngampus, pakaian kesukaannya, aksen medok jawanya yang halus, twist-twistnya Continue reading Cherry Blossom And Falling Leaf

Cinta (Dalam Pandanganku)

Seorang gadis memintaku menulis tentang cinta.
Demi ayah dan ibuku, hei gadis manis dengarlah…

Cinta adalah geraham Muhammad yang koyak di Badar dan Uhud
Cinta adalah kesabaran Ali di Saqifah dan Shiffin
Cinta adalah luka dan kesendirian Fathimah
Cinta adalah racun yang diteguk Al-Mujtaba
Cinta adalah adalah darah Al-Husain di Karbala
Cinta adalah jerit pilu Sukainah, Ruqayyah, Atikah

Cinta adalah sabda Zainab ketika ia bersumpah pada Yazid si celaka, “Demi Allah, tiadalah aku melihat terbunuhnya Husain kecuali keindahan, hai anak marjanah…!!!”

Berdekatankah Kita?

228213_211375355563350_100000726608534_696351_193089_n

 

 

 

 

 

 

 

Berdekatankah kita? Sedang rasa teramat jauh
Tapi berjauhankah kita? Sedang rasa teramat begini dekat
Seperti langit dan warna biru
Seperti sepi menyeru

Oh Kekasih, Kau kandung aku
Kukandung Engkau
Seperti mengandung mimpi
Terendam di kepala

Namun sayup tak terhingga
Hanya sunyi mengajari kita untuk tak mendua

Histeria Usia

 

keberangkatan
setajam Waktu, setipis
selaput kabut yang koyak
oleh histeria.

namun keberangkatan
tak pernah Lepas dari laju.
di sana pula hingar dan senyap
kerap bertemu.
dan yang jauh di angan,
pada perjalanan,
perkenalanperkenalan yang akan
menancapkan ide bahwa Istirah ialah penting.

“biarkan semua sunyi tanpa kata,” ucapmu.

pada langkah ke-25.
kamu kian mengerti apa makna
dari berbagi keheningan,
kendati tanpa denting gelas Château
de St.-Cosme Gigondas Valbelle,
atau botol Scotch yang tumpah.
maka bising usia,
tak pernah terasa senja.

Puisi ini untuk sahabatku, Sarah Chyntia Wijaya
Selamat merayakan pertambahan usia
Semoga kenangan yang kau tinggalkan tetap membekas di hati kami
We miss you Nta.


Jatuh Pada Hati Yang Baik

Kepadanya dirinya yang tak pernah ku gapai dan tak akan pernah menggapaiku.

love-love-33915309-1920-1200

 

Seperti malam yang menanti fajar, diam di kelam kegelapan, gigil ditikam dingin yang senyap.
Seperti butir embun yang memilih jatuh di daun yang baik, daun yang memiliki bunga−siap mekar di musim yang baik pula.
Seperti fajar yang menggilai cahaya terbit, seperti cahaya yang terbit dari matamu ketika bertemu pandang dengan mataku, seperti tutur sapa pertamamu yang betapa dengan sekejap menghapus nestapa pada sukmaku. Continue reading Jatuh Pada Hati Yang Baik

Angin Santer Di Cicaringin

Layaknya sungai, terkadang tenang terkadang bergelombang, beringsut dari hulu hendak bersua samudera nan biru, meski terkadang keruh. Melarungkan asa, membiarkan riaknya mengalir begitu saja, berserah kepada takdir, untuk sebuah harapan, dan cita-cita.

Fajar menghujam pagi dengan gigil sepi, kabut-kabut merayap di dedaunan, ke batu-batu, hingga menembus pintu. Menjadi mata dan telinga yang menyimak percakapan-percakapan, canda tawa memecah keheningan, lalu lesap ditelan mentari mengusaikan sunyi.

Inilah kisah, tempat di mana anak-anak negeri punya semangat yang merah, memiliki hati putih untuk menyambut hari nan cerah. Tak pernah gusar untuk belajar, mengakrabi alam.

Embun-embun menjelma bara, di balik beningnya mata, mereka, putra putri Ibu Pertiwi yang berbekal kesungguhan hati. Betapa pun aral menajam menghalangi kaki-kaki mungil, meski derit jembatan bikin gusar langkah-langkah yang berpijak di kayu rapuh, lalu limbung, menjadikan semakin dekat dari pagutan maut, tapi tiada kata jera untuk mengabadikan ilmu di kepala. Sungguh jiwa yang demikian luhur.

Tuan dan Puan, lekas lihat, cobalah tengok peluh yang bercucuran dari dahi dan parasnya. Bukankah mereka adalah harapan Indonesia, penerus bangsa? Bahkan langit saja mendadak sendu kelabutua, menyaksikan geletar persendian kaki anak-anak itu dicekau angin santer.

Tuhan, rengkuh dan dekaplah, jangan Kau tunjukkan betapa buasnya semesta, berikan cahaya yang menjembatani untuk langkah mereka.

Bayang Lengang

Lengang. Di beranda hanya gemerisik daun-daun yang berkelakar dengan sepertiga angin, dua kursi, dan meja yang hanya ada tatakan. Jangankan dua cangkir teh, satu cangkir pun tak. Hujan telah reda, sementara senja telah mengesumba di kaki langit barat teja. Sisa-sisa hujan masih bergelantungan di ujung genting, berdenting, jatuh satu persatu seperti air mata yang runtuh. Senja saga, matamu yang jingga, tempat segala bahagia dan duka yang purba tertanda. Apakah aral terlalu garang, sayang, sementara rindu telah kujerang? Continue reading Bayang Lengang